“Gerald, sekarang bikin video bareng kita yuk! Kita bakalan bantuin kamu buat ngasih tahu ke orang lain, kalau kamu itu nggak bersalah.”
“Wah! Boleh banget tuh Kak. Makasih ya.” balas Gerald dengan penuh senyuman.
Gerald kemudian membuat video klarifikasi bersama para mahasiswi itu, untuk memberi tahu lebih jelas ke seluruh Indonesia bahwa Gerald dan Liora dalah korban dari perbuatannya Devin dan Clara.
Sementara itu, Anton merasa sangat bosan, karena menunggu Gerald yang tak kunjung datang membawakan rokok pesanannya. Sudah lama dia menunggu sedari tadi, sampai Silvia dan Liora selesai makan.
“Enak banget ya Kak ayam geprek di sini!” ucap Liora.
“Iya, enak banget! Bener kata lo Ton, ayam geprek di sini bener-bener enak!” balas Silvia.
Anton tak menjawab perkataan Silvia dan Liora, dia terus terdiam kesal, karena Gerald tak kunjung datang.
“Ton, lo kenapa? Kok muka lo kayak kesel gitu?”
“Iya emang! Itu si Gerald lama banget sih disuruh beli rokok doang! Udah dari tadi perasaan, sampe kalian selesai makan, dia belum juga dateng.”
“Tuh dia.” ucap Liora, sembari menunjuk Gerald yang baru saja datang.
“Nih Kak.” Gerald meletakan sebungkus rokok pesanan Anton, di hadapan Anton, kemudian kembali duduk bersama mereka.
“Lama banget sih lo! Habis ngapain aja sih? Timbang disuruh beli rokok doang lamanya najis banget!”
“Ya maaf Kak. Tadi gue dikerumunin dulu sama para mahasiswa yang nanyain gue karena gue lagi viral.”
“Hah?” mendadak Anton terkejut mendengar ucapan Gerald barusan. “Terus gimana? Kamu dihujat sama mereka?”
“Nggak! Mereka malah nyemangatin aku, karena mereka udah tahu dari klarifikasinya Devin sama Clara, yang udah nunjukin kebenaran sesungguhnya. Terus, mereka ngajak aku bikin video klarifikasi, supaya nama aku sama Liora bener-bener bisa kembali lagi jadi normal.”
“Wah! Alhamdulilah dong kalau gitu.” Liora sangat senang mendengar kabar baik yang Gerald ucapkan barusan.
“Nah tuh, denger sendiri! Dia habis dibantuin sama para mahasiswi, makanya dia lama.” ucap Silvia. “Udah jangan kesel-kesel lagi sama Adik sendiri.”
Liora tercengir. “Kak Anton tadi manggil Gerald pake elo, sekarang pake kamu lagi. Hihi lucu ya kalian!”
“Kak Anton emang suka gitu, kalau lagi marah pasti kasar. Tapi kalau udah nggak marah, ya biasa lagi.” ucap Gerald.
Anton menghela napas panjang sejenak.
“Maafin ya Kak, kan nggak sengaja beli rokok lama tadi.” ucap Gerald.
“Iya-iya nggak apa-apa.”
Gerald langsung tersenyum senang karena Anton sudah tak kesal lagi padanya. Tak lama setelah itu, ponselnya berbunyi, rupanya dia mendapat telepon dari Ayahnya.
“Halo Pah.”
“Halo Gerald, kamu di mana sekarang?”
“Aku lagi makan sama Kak Anton di area alun-alun. Kenapa Pah?”
“Pulang sekarang! Cepetan! Pulang! Papah tungguin di rumah!”
Telepon mereka lalu berakhir.
“Papah ngomong apa?” tanya Anton.
“Papah nyuruh kita buat pulang sekarang. Suara Papah kedengeran kayak lagi nangis, kayak panik banget juga Kak.”
“Papah sama Mamah pasti udah tahu soal berita kalian yang viral itu, dan mereka belum ngelihat video klarifikasinya Devin sama Clara, makanya mereka panik sambil nangis kayak gitu.”
“Yaudah, kalau gitu kita pulang sekarang yuk Kak!” ucap Liora kepada Anton. “Takutnya orangtua aku juga udah tahu, dan lagi panik sekarang di rumah.”
“Iya, ayo!”
Gerald, Liora, dan Silvia lalu langsung kembali ke mobil. Sementara Anton membayar dulu makanan mereka, setelah itu dia pun pergi ke mobil, kemudian melaju mengantarkan Silvia dan Liora ke rumah mereka.
***
“Asalamualaikum.” ucap Anton dan Gerald, yang baru saja tiba di dalam rumah mereka.
“Gerald!” Raffi dan Yulia langsung berlari memeluk Gerald, dengan berlinang air mata.
“Mah, Pah. Mamah sama Papah kenapa nangis?” tanya Anton.
“Gerald, Mamah sama Papah tadi ngelihat berita, kalau kamu ketahuan berbuat m***m di sekolah. Berita itu nggak bener kan Nak?” isak Yulia. “Anak Mamah nggak mungkin ngelakuin perbuatan seperti itu!”
“Mamah sama Papah tenang aja, nggak usah khawatir!” balas Gerald sembari tersenyum. “Aku nggak apa-apa kok. Semua masalah yang udah nimpa aku tadi, semuanya udah selesai.”
“Sebenernya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa dituduh ngelakuin hal kayak gitu Gerald? Gimana ceritanya?” isak Raffi.
“Ini semua perbuatan temen sekolahnya Gerald, Mah, Pah.” balas Anton.
“Temen sekolah Gerald, siapa?” tanya Raffi.
“Devin sama Clara, mereka udah bercanda kelewatan. Mereka udah ngejebak Gerald sama Liora, supaya mereka pingsan di aula sekolah, habis itu ngomporin ke semua orang, kalau Gerald sama Liora itu udah berbuat m***m di sekolahan. Terus mereka nyuruh semua orang ngeviralin Gerald sama Liora, sampe akhirnya kesalah pahaman ini terjadi. Untungnya, Albert sama temen-temen nya Gerald dan juga Liora, bisa nemuin bukti tentang perbuatannya Devin dan Clara yang udah ngejebak Gerald sama Liora, jadi mereka bikin video klarifikasi, dan nama Gerald sama Liora jadi kembali normal.”
“Kamu bilang tadi, mereka ngelakuin ini dalam bentuk bercanda? Bercanda? Mana ada bentuk candaan sejahat ini? Bentuk candaan yang menjebak orang lain, lalu diviralkan sampai mendapat hujatan dari seisi negara ini. Bentuk candaan apa itu?” ucap Raffi kesal.
“Ada video klarifikasinya Pah.”
Anton mengambil ponselnya, kemudian menunjukan video klarifikasi yang dibuat oleh Devin dan Clara.
“DASAR DUA ANAK IBLIS!” teriak Raffi dengan penuh amarah. “Berani sekali mereka menjebak Anaku sampai mendapatkan hujatan dari seluruh Indonesia!”
“Pah!” isak Yulia. “Mamah bener-bener nggak terima Anak kita diginiin, Mamah nggak rela, nggak ikhlas, nggak ridho, Mamah mau si Devin sama si Clara itu dapetin hukuman yang berat, karena mereka udah ngejahatin Anak kita!”
“Iya Mah, Papah juga nggak terima sama perbuatan jahat mereka ke Anak kita Gerald. Papah bener-bener ngerasa sakit hati, karena Anak kita udah dapetin hujatan dan cacian dari seluruh orang di negara ini. Papah bakalan tuntut mereka, pokoknya mereka harus masuk penjara.”
Raffi dan Yulia merasa sangat sakit hati, dan tidak terima dengan perbuatan jahat yang telah Devin dan Clara lakukan kepada Gerald. Sehingga mereka memutuskan, untuk melaporkan Devin dan Clara ke pihak yang berwajib, agar mereka mendapatkan hukuman.
“Aku juga nggak terima Adik aku diperlakuin kayak gitu sama mereka! Pokoknya dua bocah iblis itu harus masuk penjara!” ucap Anton.
“Aku juga nggak terima sama perlakuan mereka, Mah, Pah. Mereka udah bikin aku malu di sekolah, mereka nuduh aku berbuat m***m, padahal ini semua cuma jebakan mereka aja. Aku sampe depresi banget tadi karena takut!”
“Kalian tenang aja, Papah bakalan cari pengacara yang super handal, untuk menjebloskan mereka ke dalam penjara, secepatnya.”