Bel tanda masuk kelas telah berbunyi di SMA Garuda Bangsa. Semua murid langsung bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing.
“Hei guys, kalem aja, hari ini masih jamkos kok.” ucap Rival kepada teman-teman sekelasnya.
“Kata siapa?”
“Kata Papah gue. Soalnya hari ini Guru-Guru mau ngurusin pengembangan buat tahun ajaran baru.”
“Asik, ke kantin ah!” ucap Tevi.
“Yuk!” balas Rival.
“Gas kuy!”
“Woy! Kan baru aja masuk kelas, masa langsung ke kantin sih?” ucap Gerald.
“Kalem aja Ger, mau ngapain aja bebas kok, asal jangan keluar sekolah.” ucap Rival.
“Lo mau ikut nggak? Mumpung jamkos nih.” tanya Tevi.
“Nggak ah.”
“Yaudah. Yuk Val!”
“Ayo bro!”
Rival dan Tevi kemudian pergi menuju kantin.
“Ah!” Gerald bersandar pada kursinya. “Udah dua hari pertama di SMA, masih belum belajar. Kapan coba nih belajarnya? Masa ke sekolah cuma duduk doang nggak belajar?” ucap Gerald dalam hati.
Gerald terdiam sejenak.
“Apa gue ke perpus aja ya? Baca-baca buku pelajaran. Yaudah deh.”
Gerald lalu memutuskan pergi ke perpustakaan, untuk mempelajari buku-buku pelajaran kelas sepuluh.
“SMA Garuda Bangsa, udah dua hari jamkos terus.” ucap Liora.
“Ya emangnya kenapa? Bagus dong, jadi kita bisa santai.” ucap Elina.
“Iya, masih bisa santai kita sebelum dihadapin sama tugas-tugas yang bikin mumet.” ucap Alexa.
“Tapi kan bosen, masa kita ke sekolah cuma duduk doang nggak belajar apa-apa.”
“Yaudah sih, besok juga belajar, ribet banget lu dipikirin segala.” ucap Alexa.
“Ra, kalau lo mau belajar, ke perpus aja sana!” ucap Elina.
“Oh iya, perpus.” ucap Liora sembari tersenyum. “Yaudah, gue ke perpus dulu ya, mau baca-baca pelajaran kelas sepuluh.”
“Kari jor!” balas Alexa.
“Hah?”
“Bahasa Sunda itu, artinya yaudah sana, tapi kasar.” balas Elina.
“Ih Alexa kok gitu sih?”
“Haha canda beb. Yaudah canah!”
“Hmm oke. Kalau ada Guru, chatt gue ya.”
“Oke.” balas Elina.
Liora lalu melangkah pergi menuju perpustakaan, untuk membaca buku-buku pelajaran kelas sepuluh.
Setibanya di perpustakaan, Liora langsung mencari buku biologi. Setelah menemukan buku tersebut, dia langsung duduk di bangku perpustakaan, dan mulai membaca buku itu.
Tanpa sepengetahuannya Liora, ada Gerald yang sedang membaca buku biologi di bangku lain.
“Liora.” panggil Gerald.
Liora langsung menoleh ke arah Gerald, yang duduk tak jauh di depannya. “Gerald.”
Gerald kemudian berpindah tempat, duduk di depan Liora. “Lagi baca buku apa?”
“Buku biologi. Lo udah lama di sini?”
“Nggak, baru aja kok.”
“Gue kira lo keluar kelas buat nyusul Tevi sama Rival ke kantin. Taunya ke perpus.”
“Iya nih, pengen baca-baca aja. Soalnya bosen banget, masa ke sekolah cuma duduk aja nggak dapet pelajaran apa-apa.”
“Sama dong pemikirannya, gue juga berpikir kayak gitu.”
Gerald terdiam menatap Liora.
“Kenapa? Kok ngelihatin gue kayak gitu?”
“Ra, lo bener-bener nggak inget sama gue?”
“Maksudnya?”
“Lo lupa sama suara gue?”
“Lo ngomong apa sih?”
“Kita pernah ketemu loh sebelumnya.”
“Hah? Di mana?”
“Di Pantai Kuta, Bali.”
“Hah? Masa sih? Kapan?”
“Bulan kemarin, pas kita liburan seusai lulus dari SMP.”
“Nggak ah, gue nggak pernah ketemu lo sebelumnya.”
“Lo bener-bener lupa serius?”
“Gue belum pernah ketemu lo Ger, sumpah.”
“Lo inget nggak? Waktu lo minta foto sama cowok, yang lo kira bule.”
“Hah?”
“Coba lo inget-inget!”
Liora terdiam sejenak, mencoba untuk mengingat perkataan yang Gerald ucapkan. Sampai akhirnya, dia mengingat hal tersebut.
Pada bulan sebelumnya, Liora dan keluarganya berlibur ke Bali setelah dia dinyatakan lulus dari jenjang SMP.
Ketika Liora berjalan-jalan menikmati suasana pantai kuta yang indah, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang laki-laki yang berdiri di dekat batu karas, dengan menggunakan kacamata hitam yang membuatnya terlihat sangatlah tampan dan keren.
“Oh My God! Ganteng banget!” ucap Liora dalam hati, yang langsung terpesona dengan ketampanan laki-laki itu. “Minta foto ah! Kapan lagi coba bisa foto bareng sama bule ganteng kayak gitu?”
Liora mengira bahwa laki-laki tersebut adalah turis, dia kemudian berjalan menghampiri laki-laki itu untuk meminta foto bersama. Dengan penuh senyuman, Liora berhenti di sebelah laki-laki tersebut.
“Excusme, Sir.”
“Iya, gimana Mba?”
“Eh!” Liora mendadak terkejut, saat mengetahui bahwa laki-laki yang dia kira turis, ternyata adalah orang Indonesia. “Orang Indonesia ya Mas? Aku kira orang luar. Soalnya ganteng banget kayak bule.”
“Ah! Bisa aja Mba.” laki-laki itu tersenyum.
“Hehe.” Liora tersenyum. “Boleh minta foto bareng nggak, Mas?”
“Boleh. Ayo!”
Liora langsung tersenyum lebar, karena laki-laki tersebut mau berfoto bersamanya.
“Oke.”
Liora lalu langsung mengambil foto bersama laki-laki itu dengan banyak take dan wajah yang sangat ceria.
“Udah?” tanya laki-laki itu.
“Iya, udah, makasih ya.”
Setelah mengingat hal itu, akhirnya Liora sadar, bahwa laki-laki yang dia temui di pantai kuta bulan lalu adalah Gerald. Sebab, dia ingat jelas dengan suaranya Gerald.
“Gerald, jadi elo cowok yang gue temuin waktu liburan di Bali?”
Gerald terkekeh melihat Liora yang terlihat malu setelah mengingat hal tersebut.
“Aahhh Gerald gue jadi malu!” Liora menutup wajahnya dengan buku.
“MAMAH!” teriak Liora dalam hati. “NAJIS MALU BANGET GUE! TERNYATA COWOK YANG GUE PINTAIN FOTO WAKTU DI BALI ITU SI GERALD. PANTESAN AJA GANTENG, TERNYATA SI GERALD. MAMAH MALU BANGET! KELIHATAN MURAHAN DONG GUE DI MATA GERALD!” Liora merasa sangat malu.
“Haha.” Gerald tercengir, lalu mengambil buku yang menutupi wajah Liora. “Jadi, udah inget sekarang?”
“Iya, gue inget sekarang, inget sama suara lo. Tapi kalau muka lo, kelihatan beda banget, karena waktu itu lo pake kacamata item.”
“Gantengan mana, pake kacamata atau nggak?”
“Mau pake atau nggak, juga tetep ganteng kok.”
“Aahh makasih.” balas Gerald dengan penuh senyuman.
“Tapi kok waktu itu lo ngehilang gitu aja sih? Kan gue belum sempet kenalan sama lo.”
“Waktu itu lo disamperin Kakak lo ya?”
“Iya.”
“Waktu itu juga, gue disamperin Kakak gue. Gue dipanggil sama orangtua gue buat jangan jauh-jauh dari mereka. Makanya gue pergi.”
“Kenapa nggak bilang-bilang?”
“Ngapain bilang-bilang?”
“Ya kan pengen kenalan.”
“Sekarang kita udah kenal, kita satu sekolah, satu kelas juga.”
“Lo sendiri, lo lupa sama gue?”
“Penampilan lo waktu di pantai, sama yang sekarang beda banget. Waktu di pantai rambut lo diiket, kalau sekarang, rambut lo dipanjangin, diponiin juga, jadi cantik banget dilihatnya.”
Ternyata, Gerald dan Liora pernah bertemu sebelumnya. Namun mereka lupa jika mereka pernah bertemu. Sebab, banyak perbedaan ketika mereka bertemu dulu, dan sekarang.