Di Dalam Bus

1170 Words
Jam menunjukan pukul 09:00 pagi, bel tanda pulang sekolah kemudian berbunyi. Hari ini, murid-murid SMA Garuda Bangsa dipulangkan lebih awal, karena Guru-Guru ada rapat penting. “Nah kan, apa kata gue?” ucap Rival kepada Gerald dan Tevi. “Pulang jam sembilan.” “Jadi, mau langsung ambil ijazah di SMP?” tanya Gerald. “Iya, mumpung kita belum banyak tugas sekolah. Mumpung sekarang pulang awal juga.” balas Rival. “Pake taksi aja yuk biar cepet!” ucap Tevi. “Iya, yaudah yuk!” ajak Rival, kemudian dia, Gerald, dan Tevi melangkah pergi. “Kok udah bel pulang ya jam segini?” tanya Alexa. “Gurunya mau rapat kali.” balas Liora, lalu bergegas pulang. “Eh guys.” panggil Elina kepada Liora dan Alexa. “Mumpung pulang awal nih, jalan-jalan dulu yuk! Udah lama kita nggak keluar.” “Wah! Iya juga nih, udah lama kita nggak keluar bareng.” ucap Alexa. “Yaudah, jalan-jalan bareng yuk!” ajak Liora. “Ayo!” balas Alexa dan Elina secara bersamaan. “Tapi ke mana nih?” tanya Alexa. “Ke tempat seblak biasa kita aja yuk! Di deket taman kota.” ajak Liora. “Ah bosen ke sana mulu! Mending pindah ke tempat lain yuk! Gue tahu tempat seblak enak selain di deket taman kota.” ucap Elina. “Di mana?” tanya Liora. “Waktu pulang liburan minggu lalu, gue pernah singgah di warung seblak Bu Ayun, enak-enak banget asli seblaknya.” “Emangnya di mana warung seblak Bu Ayun?” tanya Alexa. “Warungnya tepat ada di sebelah SMP Pancasila. Ke sana aja yuk! Enak banget loh sumpah!” “Yaudah, kita coba yuk ke sana! Siapa tahu aja emang beneran enak.” ucap Liora. “Yaudah yuk!” ucap Alexa. “Tapi ke sananya naek apa?” “Naek taksi aja biar cepet, kalau nungguin mobil jemputan kita pasti lama.” balas Elina. “Yaudah yuk!” ajak Liora, kemudian dia, Alexa, dan Elina melangkah pergi. Setibanya di depan luar gerbang sekolah, mereka bertiga bertemu dengan Gerald, Tevi, dan Rival yang sedang berdiri menunggu taksi di sana. “Hei guys!” sapa Elina kepada Gerald CS. “Lagi pada nungguin jemputan ya?” “Nggak, kita lagi nungguin taksi, mau ambil ijazah ke SMP kita dulu.” balas Rival. “Kalian satu SMP? Di SMP mana?” tanya Alexa. “Kita dulu sekolah SMP di SMP Pancasila.” balas Tevi. “Kebetulan, kita juga lagi mau ke sana.” ucap Liora. “Ngapain?” tanya Gerald. “Eh! Bukan ke SMPnya sih, lebih tepatnya ke warung Bu Ayun yang ada di deket SMP kalian.” “Oh, seblak.” “Tapi kalau ada taksi nanti, kita duluan ya yang ambil. Soalnya kan kita lebih dulu nungguin di sini.” ucap Rival. “Dih.” cengir Elina. “Yaudah sana!” “Haha.” Gerald, Tevi, Liora, dan Alexa terkekeh mendengar ucapan Rival barusan. Beberapa menit setelah itu, Gerald melihat sebuah bus yang dia ketahui jalurnya melewati SMP Pancasila. “Eh guys! Lihat deh tuh!” Gerald menunjuk bus tersebut yang masih berada jauh. “Itu kan bus yang jalurnya ngelewatin SMP Pancasila. Kita naek itu aja yuk! Biar cepet! Soalnya taksi lama banget nggak dateng-dateng.” “Iya, bus itu yang sering ngelewat ke SMP kita dulu.” ucap Tevi. “Yaudah kita ke sana naek bus itu aja.” Mereka kemudian setuju untuk pergi ke SMP Pancasila dengan menggunakan bus tersebut. Setelah bus itu hampir tiba di dekat mereka, mereka langsung melambaikan tangan, memberi isyarat pada supir bus untuk berhenti. Bus kemudian langsung berhenti di depan mereka. “Yuk!” ajak Rival, kemudian masuk ke dalam bus, disusul oleh Alexa, Elina, Gerald, kemudian Liora. Setibanya Liora di dalam bus, dia melihat kursi bus sangat penuh dengan penumpang. Dia melihat Alexa dan Elina duduk bersama, lalu melihat Tevi dan Rival duduk bersama, tak lama setelah itu, dia melihat Gerald duduk sendiri dengan kursi kosong di sebelahnya, Liora lalu langsung menghampiri Gerald. “Gerald.” panggil Liora, membuat Gerald langsung menoleh padanya. “Gue boleh duduk di sebelah lo nggak?” “Ya boleh dong Liora.” balas Gerald sembari tersenyum. “Kenapa nggak?” “Makasih ya.” Liora tersenyum, kemudian langsung duduk di sebelah Gerald. Bus lalu melaju. Ketika bus sudah melaju, Liora mengalihkan pandangannya menuju jendela bus, namun mendadak dia malah terpesona dengan wajahnya Gerald yang sangat tampan dan menawan. Sejenak, pandangan matanya terus tertuju menatap wajah Gerald. Sampai tiba-tiba, bus berhenti secara mendadak dan membuat tubuh para penumpang terbentur mengenai kursi bus yang berada di depan mereka. “ADUH!” teriak para penumpang. “Ah Pak gimana sih nyetirnya?” ucap Rival kesal. “Iya Pak gimana sih? Sakit nih kepala saya kebentur.” ucap Alexa yang juga kesal. “Maaf ya semuanya, tadi ada orang nyebrang sembarangan, jadi saya ngerem mendadak, maafin ya semuanya.” ucap Pak supir, kemudian kembali melajukan bus. “Awwwww!” Liora merenges, sembari memegangi keningnya yang terasa sakit karena terbentur dengan kursi bus di depannya. “Sakit Ra?” tanya Gerald. “Iya, sakit banget kening gue.” “Nyender coba nyender!” Liora lalu duduk bersandar. Gerald kemudian menepikan rambut Liora yang telah acak-acakan karena kejadian tadi. Setelah itu, dia melihat kening Salsa sangatlah merah. “Yaampun! Merah banget kening lo. Gue coba usapin ya, biar rasa sakitnya ilang.” “Iya.” Gerald lalu mengusap lembut kening Liora yang merah dengan Ibu jarinya. Saat itu pula, pandangan Liora tiba-tiba tertuju kepada wajah Gerald, dia merasa sangat terpesona dengan pesona Gerald yang sangatlah tampan. “Ternyata gosip itu bener ya? Gerald emang ganteng banget!” ucap Liora dalam hati. “Gue baru nyadar, setelah ngelihatin dia dari deket kayak gini.” Tak lama kemudian, pandangan Gerald tertuju kepada Liora, yang sedang menatapnya sedari tadi. “Udah ilang, sakitnya Ra?” tanya Gerald. Liora terdiam, dan terus menatap wajah Gerald. “Liora.” panggil Gerald, namun Liora masih saja tetap terdiam sembari menatap wajahnya. “Liora.” “Hei.” karena Liora tak kunjung menyaut panggilannya, Gerald mencubit pelan hidungnya Liora. “Eh iya?” sampai akhirnya Liora langsung sadar. Dia baru saja telah hanyut dalam hati yang sangat terpesona melihat wajah tampannya Gerald. “Rasa sakitnya udah ilang?” “Iya udah. Makasih ya udah ngusapin sampe rasa sakitnya ilang.” Gerald terdiam sejenak menatap Liora. “Kenapa tadi diem aja gue tanya? Sambil ngelihatin gue terus? Ada yang salah sama muka gue?” “Nggak.” balas Liora dengan gugup. “Nggak apa-apa kok.” Gerald terdiam sejenak menatap Liora. “Oke.” kemudian kembali duduk menghadap ke depan dan menikmati suasana perjalanan. “Aduh Liora!” celoteh Liora dalam hati. “Kenapa tadi lo malah salting sih? Kan jadinya malu di depan Gerald. Dia pasti keanehan banget ngelihat gue. Tapi Geraldnya juga sih, ganteng banget, bikin mata jadi betah buat ngelihatnya.” Liora merasa sangat malu karena telah bertingkah aneh di hadapan Gerald. Kemudian, dia terdiam menikmati suasana perjalanan, dan mencoba melupakan hal barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD