Saling Peduli

1230 Words
Setelah berjalan bersama sembari bercerita seru, akhirnya mereka berenam tiba di depan warung seblak Ibu Ayun.  “Nah, ini dia warung seblaknya girls.” ucap Elina sembari tersenyum.  “Yaudah yuk!” ajak Rival, yang berjalan masuk duluan ke warung.  Gerald, Tevi, Liora, Elina, dan Alexa kemudian menyusul memasuki warung.  “Ibu.” sapa Rival kepada Ibu Ayun yang sedang duduk di warungnya.  “Hei, Rival.” balas Ibu Ayun sembari tersenyum.  “Ibu.” sapa Gerald dan Tevi.  “Hei Gerald, Tevi. Udah SMA ya kalian sekarang.” Ibu Ayun tentunya sudah mengenali Gerald, Tevi, dan Rival. Sebab mereka bertiga sering jajan ke warungnya saat mereka masih SMP dulu.  “Iya dong.” balas Tevi.  “Berasa kemarin kalian jajan ke warung Ibu waktu daftar SMP. Sekarang udah pada gede aja.” “Hehe.” cengir Gerald. “Pesen dong Bu.” “Iya, ayo dipesen!” Ibu Ayun memberikan buku pesanan dan pulpen kepada Gerald.  “Mau pada pesen apa guys?” “Yang biasa kita bertiga aja.” balas Tevi.  “Yoi.” balas Rival.  “Kalau kalian?” tanya Gerald kepada Liora, Elina, dan Alexa.  “Gue mau seblak ceker, pangsit, bakso ikan, otak-otak, sama tempura. Rasanya pedes level 3.” balas Elina.  “Oke bentar.” Gerald lalu menuliskan pesanannya dan juga teman-temannya.  “Kalau kalian mau pesen apa?” tanya Elina kepada Liora dan Alexa.  “Gue samain aja deh kayak lo.” balas Alexa.  “Oke. Alexa samain kayak gue Ger.” “Oke.” “Kalau lo mau apa Ra?” tanya Elina. “Mau disamain juga kayak gue?” “Mmm, Gerald pesen menu apa aja?” “Gue, Rival, sama Tevi langganan nya seblak telur, bakso sapi, tempura, basreng, pangsit, sama otak-otak. Rasanya pedes manis level 1.” “Dih! Cemen banget seblaknya level 1.” ucap Elina.  “Cintai usumu, jangan pedes-pedes.” ucap Tevi.  “Tapikan nggak tiap hari.” “Gue pengen menu kayak lo aja Ger. Tapi pedes level 3.” ucap Liora.  “Oke.” “Oh iya, kita bertiga biasanya sering minum minuman jus mangga. Mau disamain nggak? Jus mangga di sini enak banget, pake resep rahasia Bu Ayun.” ucap Rival.  “Wah! Boleh tuh.” balas Elina.  “Iya, mau dong.” “Oke, minumnya sama berarti ya?” tanya Gerald.  “Iya.” balas Liora.  Setelah selesai menuliskan pesanan mereka, Gerald memberikan buku pesanan tersebut pada Bu Ayun. “Ini Bu.” “Siap, ditunggu dulu ya.” “Oke.” “Yaudah yuk!” Tevi kemudian mengajak teman-temannya duduk lesehan di depan meja yang berada di lantai. Sebab warung Bu Ayun bertemakan seblak lesehan. Teman-temannya kemudian duduk bergabung bersamanya.  “Oh iya boy,” ucap Alexa. “mana nomor w******p kalian? Kita kan udah temenan sekarang.” “Yuk! Save punya gue. Nanti gue kasih nomor Gerald sama Rival.” balas Tevi.  “Oke.” Tevi kemudian memberikan nomor whatsappnya kepada Alexa, setelah itu memberikan nomor whatsappnya Gerald dan Tevi.  Setelah mendapat nomor w******p mereka, Alexa mengirimkannya kepada Liora dan Elina. Sekarang, mereka sudah mempunyai kontak satu sama lain.  “Oh iya, by the way kalian dari SMP mana?” tanya Gerald.  “Kita alumni dari SMP Raya Nasional.” “SMP Raya Nasional, yang deket terminal itu ya?” tanya Rival.  “Iya.” balas Alexa.  “Jauh banget.” ucap Tevi.  “Iya jauh kalau dari sini. Tapi kalau dari daerah rumah kita, nggak terlalu jauh.” ucap Liora.  “Emang rumah kalian di mana? Kalian tetanggaan?” tanya Gerald.  “Nggak kok, kita nggak tetanggaan. Rumah kita cuma deket beberapa kilometer aja.” balas Elina.  “Sama dong, kita bertiga rumahnya juga deket beberapa kilometer.” ucap Tevi.  “Mmm.” ucap Elina.  “Eh Val, gue tadi pagi ngelihat lo dateng bareng Pak Helmi, Kepala Sekolah. Dia Papah lo ya?” tanya Alexa.  “Iya.” “Widih, mantap! Berarti lo punya kuasa dong di sekolah.” ucap Elina.  Gerald tercengir. “Bener tuh El, kalau ada apa-apa, lapor aja sama Rival. Dia bakalan ngatasin segalanya.” “Dih! Apaan sih ah? Emangnya ini drama apa? Meskipun gue anak Kepala Sekolah, bukan berarti gue bisa seenaknya di sekolah. Kalau gue berlaku sesuka gue, yang ada nanti Papah gue dipecat.” “Bercanda kali Val.” cengir Liora. “Serius banget sih lo.” “Iya lo serius banget sih. Sensian amat kayak cewek.” cengir Tevi.  “Dih.” Rival pun tercengir. Saat tertawa bersama, pandangan Liora tiba-tiba menoleh kepada Gerald yang sedari tadi memandangnya. Dia kemudian terdiam dan memandang Gerald juga, sampai tak lama setelah itu Gerald tersenyum dan mengalihkan pandangannya.  “Ih! Gerald ngapain ngelihatin gue kayak gitu? Sambil senyum-senyum lagi, bikin baper aja.” ucap Liora dalam hati.  Beberapa menit berlalu, akhirnya Ibu Ayun selesai menyiapkan seblak dan jus pesanan mereka. Setelah itu dia langsung mengantarkan pesanan tersebut kepada mereka.  “Yeay udah siap. Makasih Bu.” ucap Elina.  “Iya, selamat menikmati.”  Mereka lalu langsung menyantap seblak pesanan mereka itu.  “Wah! Enak banget seblaknya!” ucap Alexa.  “Iya, bener-bener enak!” ucap Liora.  “Bener kan apa kata gue? Seblak di sini bener-bener enak!” ucap Elina.  Liora dan Alexa tersenyum, lalu kembali menyantap seblak mereka dengan lahap.  Saat mereka sedang menyantap seblak masing-masing, tiba-tiba ponsel Gerald berbunyi. Gerald kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas, rupanya Ayahnya meneleponnya. Gerald lalu langsung mengangkat telepon tersebut.  “Halo Pah.” “Gerald, Papah denger info dari sekolah kamu, katanya sekolah pulang lebih awal, apa itu bener?” “Iya Pah, soalnya Guru-Guru mau rapat.” “Terus di mana kamu sekarang? Kenapa kamu nggak nelepon Pak Yanto buat ngejemput kamu pulang?” “Aku lagi makan seblak dulu di warung deket SMP.” “Habis makan seblak langsung pulang! Jangan keluyuran ke mana-mana lagi! Papah bakalan telepon Pak Yanto buat jemput kamu sekarang.” “Iya Pah.” Telepon kemudian berakhir. Gerald menatap ponselnya dengan lesu, lalu menyimpannya di meja, setelah itu kembali menyantap seblaknya.  “Kenapa? Lo disuruh pulang ya sama Papah lo?” tanya Tevi.  “Iya, habis ini gue nggak boleh keluyuran ke mana-mana lagi.” “Papah lo tahu dari mana kalau sekolah pulang awal?” tanya Rival.  “Ya pasti dari Papah lu lah. Dari siapa lagi?” “Oh iya.” “Ger, kayaknya lo harus minta izin buat bisa lebih bebas deh ke orangtua lo. Lo kan udah SMA sekarang, bukan anak kecil lagi. Jadi nggak perlulah terlalu dikekang kayak gini.” ucap Tevi.  “Iya deh, nanti gue coba bilang ke orangtua gue.”  “Kasihan Gerald.” ucap Liora dalam hati. “Dia pasti ngerasa sedih, karena terlalu dikekang sama orangtuanya.” “Tapi jangan salah sangka loh, orangtua yang kayak gitu, justru sayang banget sama anaknya.” ucap Liora.  “Iya emang, tapi kalau dikekang kayak gitu ya bikin anak kesiksa dong.” ucap Rival.  “Udahlah nggak usah dibahas, ini kan masalah gue. Ayo lanjut makan!” ucap Gerald.  “Nggak boleh gitu Ger, kita kan temen lo juga. Jadi kalau ada masalah, cerita aja sama kita.” ucap Alexa.  “Iya Ger, jangan dipendem sendirian.” ucap Liora.  Gerald menatap Liora, Alexa, dan Elina. “Thanks ya, kalian udah mau peduli sama gue.” lalu tersenyum kepada mereka.  “Sama-sama.” balas Liora, Alexa, dan Elina sembari tersenyum juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD