Bagian 46 ~ Klan Kurcaci dan Padang Gurun

2154 Words
07 Agustus 2021 Kami melanjutkan perjalanan setelah matahari kembali dari peraduannya, keadaan kami juga sudah lebih baik. Meskipun sesekali kulit wajah kami yang terkena gigitan lalat itu akan gatal. Aku pikir, setelah tiba di wilayah hutan, kami tidak akan menemukan gurun lagi. Namun setelah berlari sejauh 2 kilometer, kami kembali melintasi padang pasir. Aku mengerutkan kening, kenapa ada segerombol pohon yang terlihat seperti hutan hidup di tengah gurun pasir? Alam di sini juga terasa mati, aku tidak bisa mendengar suara alam setelah melewati hutan itu. Berjam-jam kami terus berlari melewati padang pasir, rasa haus mulai menyerang. Apa mungkin tempat ini adalah gurun mati?  Sama-sekali tidak ada pohon seperti sebelumnya, semua yang ada di depan kami hanyalah gurun. Aku menatap Logan, dia diam sejak memulai perjalanan dan tidak banyak bicara. Sementara Harry sesekali masih cerewet dan meminta untuk berhenti. Tapi karena pasir di bawah kami sangat panas, kami memilih untuk tetap berada di atas hewan tunggangan masing-masing. Iguanaku masih bisa bertahan, kulit kakinya sangat kebal dan tidak terlalu merasakan panas. Jaguar yang ditunggangi oleh Logan, Harry dan Edward kembali terlihat melemah. Sesekali mereka akan berlindung di samping iguanaku, melemaskan kaki mereka. Aku menelan ludah, kepalaku sangat pusing.  Beruntung sekali Edward memberikan jubahnya padaku, jadi aku bisa menutupi kepalaku dan juga wajahku dari terpaan terik matahari. “Apa kita tidak bisa berhenti berlari? Aku sudah lelah, aku hampir pingsan!” desak Harry lagi. Aku menatap Harry yang berada di sebelah iguanaku, mencari perlindungan. Wajahnya sudah sangat merah, dari tadi dia selalu tertinggal di belakangku. Edward berlari di depan, jaguarnya masih sanggup membawa Edward tanpa berhenti. Aku menatap Harry, tidak hanya dia yang ingin berhenti. Aku juga ingin minum, tapi persediaan kami sudah kandas saat pemberhentian sebelumnya. “Cepat, aku melihat ada pohon di depan kita. Aku rasa kita akan sampai di ujung!” teriak Edward dari depan Mendengar ucapan Edward, aku sedikit bersemangat. Saking semangatnya ingin menatap ke depan, aku hampir saja terjatuh dari atas iguana. Beruntung Travold yang ada di depan menahanku dengan tepat waktu, jika tidak, aku pasti sudah akan terjatuh. “Terima kasih!” seruku Travold hanya mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya. Dia membawa iguana kami menuju arah Edward. Butuh berjam-jam lagi, gurun memang memiliki ilusi yang begitu kuat, terlebih saat keadaan seperti ini. Setelah berjalan terus, mataku merasakan sebuah aliran air yang tidak terlalu jauh dari kami. Aku mulai bisa mendengar suara alam, mendengar kicauan burung yang juga tidak jauh. Aku menatap Edward yang sudah jauh di depan, dia tetap memberi kami semangat untuk melanjutkan perjalanan. Begitu kami tiba, Harry yang sudah lemah langsung beranjak dan berteduh di bawah pohon. Aku ikut turun, suara aliran air itu tidak lagi jauh dari kami. Aku memejamkan mata, berusaha untuk mencari darimana  arah datangnya aliran air itu. “Sekitar 5 kilometer di sebelah utara aku merasakan ada aliran air di sana!” “Apa kita harus melanjutkan perjalanan lagi? Aku sudah tidak kuat, kakiku gemetaran!” seru Harry, dia sama-sekali tidak sanggup untuk berdiri. Wajahnya dipenuhi dengan peluh keringat dan wajah yang memerah. Aku menghela nafas kesal, tidak hanya Harry yang kehausan dan gemetaran. Aku, Travold, Logan dan bahkan Edward juga mengalami hal yang sama. Tidak ada yang menanggapi ucapan Harry. Semuanya kembali naik ke atas tunggangan masing-masing. Membuat Harry mau tidak mau harus naik ke atas jaguarnya. Harry tidak lagi duduk dengan baik, dia memeluk tubuh jaguar itu agar badannya tidak terjauh. Sesekali Harry terjatuh ke tanah karena tidak tahan. Tapi kami harus tetap melanjutkan perjalanan, jika tidak, kami mungkin akan mati kehausan. “Berapa jauh lagi Kirey?” seru Travold “Tidak jauh lagi, aku bisa merasakan aliran air yang semakin deras!” Kami terus memasuki hutan, pohon-pohon semakin lebat ketika kami memasuki hutan semakin dalam. Hingga tidak lama dan seperti dugaanku, akhirnya kami tiba di depan aliran air. Harry yang melihat hal itu hendak meminum air itu, dia bahkan merangkak menuju air. Namun Travold lebih dulu menahan kami, dia menatap aliran air itu. Lalu menatap darimana arah aliran itu berasal. “Jangan ada yang minum, air ini terlihat memiliki racun. Airnya sedikit keruh dan di bawahnya tidak ada lumut sama-sekali. Ini terlalu mencurigakan, kita harus mencari sumber air ini!” Aku menatap Travold tidak percaya, tatapanku tertuju pada air di depan kami dengan tatapan kosong. Aku sudah tak lagi bisa bertahan dengan kondisi ini, kami benar-benar harus minum. Setidaknya setetes saja, untuk menghilangkan dehidrasi kami. Badanku juga semakin gemetaran. “Tidak lagi, aku sudah menyerah. Kalian pergi saja, aku tidak tahan lagi. Lebih baik aku mati dengan minum air ini saja, aku sangat haus!” “Jangan berbuat bodoh, Harry. Cepat naik ke atas jaguarmu, kita harus mengikuti saran Travold!” seru Edward yang sudah naik ke atas jaguarnya “Tidak lagi, ohhhh, badanku tidak bisa berdiri lagi!” keluh Travold Aku menatap jaguar Harry yang mendekati lelaki itu dan mengendus badan Harry. Aku menatap Harry, beruntung Logan masih bisa bertahan dan membantu Harry untuk naik ke atas jaguarnya. Aku berdiri di depan iguanaku, aku menyatukan keningku dengannya. Menyalurkan energiku yang tersisa padanya, setidaknya iguanaku harus bertahan sampai kami mendapatkan sumber air. Sebagian besar sumber energi iguanaku ini adalah berasal dari air. Aku mengelus leher iguanaku, lalu menyempatkan diri untuk berjalan menuju jaguar yang ditunggangi Edward. Aku juga menyatukan kepala kami dan memberikannya energiku. Tubuhku semakin lemas, tapi aku harus membaginya pada dua jaguar yang juga mendekat padaku. Usai memberikan mereka energiku, Travold langsung menangkap tubuhku yang tidak sanggup untuk berdiri dengan kakiku. “Kirey!” panik Edward, dia menyentuh wajahku “Tidak apa, dia baik-baik saja. Hanya saja dia terlalu lemah karena dia memberikan energinya pada tunggangan kita, bantu aku membawa Kirey ke atas!” Edward lekas membantu Travold, aku sudah berada di atas iguana dengan posisi memeluk iguana. Travold naik ke belakangku, dia mengikat tubuhku padanya. Membuatku bersandar padanya, lagi. Kami kembali melanjutkan perjalanan, tubuhku yang tadi melemah sedikit lebih baik karena sentuhan Travold. Aku bahkan sudah kembali bisa berdiri dengan tegap. “Apa kau sudah lebih baik?” Aku menatap Travold, “Apa yang terjadi?” “Aku bisa membagi energiku padamu, lain kali jangan bertindak bodoh. Jika kau melakukan hal itu lagi, kau bisa mati karena kehabisan energi!” Aku terdiam, menatap lurus ke depan, kami menelusuri aliran air yang semakin menaik menanjak. Iguana ku lebih lihai karena energinya kembali, kami menaiki tebing-tebing tinggi. Air ini berasal dari air terjun tinggi. Begitu tiba di atas, aku menatap sebuah perkampungan, rumah-rumah di sana terbuat dari dahan pohon. Tatapanku tertuju pada sosok pemuda dengan ukuran pendek terlihat sedang menatap kami. Pemuda itu langsung menghilang dan berlari menuju perkampungan mereka. Lalu tidak lama, aku mendengar ada suara yang lebih banyak mendekati kami. Aku menatap para penduduk dengan ukuran yang lebih pendek dari kami.   “Mereka adalah klan kurcaci, aku akan turun dulu dan berbicara pada mereka. Mereka tidak berbahaya!” seru Travold pada kami, dia lekas turun. Travold mendekati para kurcaci itu, dia membuat gerakan aneh lalu para kurcaci itu terlihat saling berdiskusi. Tidak lama, setelah mereka usai bicara. Travold menyuruh kami untuk turun. “Dari mana klan kalian?” Aku mengerutkan kening, bahasa mereka aneh dan aku tidak mengerti. Harry, Edward dan juga Logan tidak mengerti apa yang mereka tanyakan. Aku menatap Travold dengan tatapan bertanya. “Apa yang dia katakan Trav? Aku tidak mengerti bahasanya!” “Dia bertanya dari mana asal kalian!” “Ah, aku masih mencari darimana klanku berasal. Dia Edward, berasal dari klan vampire dan mereka berdua berasal dari klan Siren. Kami hendak menuju klan Siren dengan peta pemberian King  Zavier dan Alpha Lebopy!” “Kalian sudah bertemu dengan mereka?” seru sosok yang terlihat adalah pemimpin dari klan itu Aku mengangguk, aku bisa mengerti atas bantuan dari Travold. Entah bahasa apa yang mereka gunakan, tapi itu sangat aneh. Bahasa mereka hanya terdengar seperti kicauan burung, dan anehnya, Travold bisa menerjemahkan arti dari bahasa mereka. “Ikut dengan kami!” Aku mengikuti klan kurcaci itu, kami berjalan memasuki pemukiman mereka. Ukuran rumah mereka hanya sebatas tinggiku saja, iguanaku bahkan bisa menginjakkan dengan sekali tendangan. Kami duduk di tempat yang tersedia, salah satu dari mereka memberikan air dan beberapa makanan. Aku menatap minuman yang ada di tanganku, ragu, apakah ini minuman biasa atau tidak. “Itu tidak beracun, kami lebih dulu melakukan filtrasi pada air sungai yang beracun. Jika tidak percaya, sini, aku akan meminumnya!” seru sosok yang mengarahkan kami tadi. Begitu sosok itu meminumnya, barulah kami minum dan makan, kecuali Harry, sejak sampai saja dia sudah lebih dulu berlari menuju pemukiman dan minum dengan banyak. Meninggalkan kerumunan dan tidak peduli dengan anak kecil yang terus melempari Harry karena telah mengambil makanannya. Aku terkekeh, terkadang kita memang bisa kehilangan akal sehat jika dehidrasi dan kelaparan. Kami makan dengan lahap, para penduduk itu sampai heran melihat kami. “Apa kalian melewati gurun untuk sampai kemari? Ah, namaku Caraci, aku adalah pemimpin klan ini!” Aku mengangguk, beberapa menit lalu aku sudah selesai makan “Kami melewati gurun dan diserang oleh lalat berbahaya, baru tiba di sini!” seruku “Kalian hebat, seratus tahun berlalu, tidak ada klan penunggang biasa yang bisa melewati padang gurun luas itu. Itu adalah tempat paling berbahaya yang pernah ada, termasuk lalat itu, entah bagaimana cara kalian bisa selamat dari sárangannya. Aku rasa kalian melihat jasad bangakai sebelum kalian diserang, itu adalah ular hewan itu. Mereka adalah predátor paling berbahaya di gurun!” Aku menatap Travold, tapi dia memberikan instruksi untuk diam dan tidak menceritakan mengenai kekuatan Travold yang bisa memusnahkan lalat itu. “Kami hanya beruntung bisa melewati mereka!” seruku “Lalu, apakah dia adalah putra King Ay?” Salah wanita paruh baya yang terlihat berusia sangat tua muncul di tengah kami, dari tadi aku tidak melihat keberadaannya. Apa mungkin dia adalah tetua dari klan mereka? “Benar, dia adalah putra dari King Ay. Namanya Edward, saudaraku!” “Benarkah? Aku melihat ayahmu di dalam pancaran wajahmu nak, sudah lama sekali, aku—!” sosok wanita paruh baya itu menghapus jejak air matanya, dia mendekati Edward dan memeluk leher Edward. Tingginya hanya sampai sepinggang Edward, jadi beruntung sosok itu memeluk Edward ketika dia duduk. “Aku adalah Cara Cinema, tetua dari klan kami. Ayahmu dulu adalah  orang yang menyelamatkan kami, tanpanya, klan kami tidak akan ada lagi. Rupanya sangat mirip denganmu, tapi aku tidak tahu jika King Ay memiliki seorang putri!” seru Cara Cinema sambil menatapku “Ah, aku bukan saudara kandung Edward. Dia adalah saudaraku ketika kami masih berada di bumi, aku juga tidak tahu darimana klanku berasal!” jelasku, menjawab pertanyaan mereka “Ah begitu, apa kalian terdampar di bumi?” Aku lagi-lagi mengangguk “Boleh orang tua ini melihat telapak tanganmu nak?” seru Cara Cinema sambil menatapku. Awalnya aku ragu, tapi Travold meyakinkanku. Aku memberikan tanganku padanya, beberapa menit setelah melihat tanganku, wanita paruh baya itu menatapku dengan tatapan tidak percaya. Dia menutup tanganku, lalu menatapku. Aku menundukkan wajah ketika melihat wanita paruh baya itu sepertinya ingin menyentuh wajahku. “Para dewa bersamamu nak!” Aku mengerutkan kening, aku salah, aku pikir Cara Cinema akan mengelus wajahku. Tapi dia mengusap kepalaku. Aku jelas tidak mungkin marah hanya karena dia memegang kepalaku, Harry tadi menatapku. Aku menarik nafas, sepertinya aku harus terbiasa dengan orang yang menyentuh kepalaku mulai sekarang. Tapi aku masih bingung dengan maksud Cara Cinema. “Kau jelas bukan berasal dari klan ini Kirey, dari ukuran badanmu saja sudah terlihat jelas!” seru Caraci “Aku tahu!” seruku “Kalian bisa bermalam di sini lebih dulu, besok pagi kalian bisa melanjutkan perjalanan menuju klan siren. Kalian sudah hebat bisa melewati padang pasir itu! Kalian pasti sudah kelelahan, beristirahatlah, kalian bisa beristirahat di gowa. Rumah kami akan háncur jika kalian memasukinya!” seru Caraci sembari terkekeh Aku ikut tertawa, sebelum kami pergi istirahat. Aku menatap aliran sungai yang tidak berwarna, air di sini tidak seperti di desa Ay ataupun desa klan vampire. Menyadari arah tatapanku, Cara Cinema ikut mengambil duduk di sebelah kami. Kegiatan mereka sudah kembali seperti semula, meninggalkan kami. “Aku tidak tahu kenapa air di sini berubah menjadi beracun nak, itu sudah terjadi selama 3 tahun terakhir ini. Kami melakukan filtrasi agar kami tidak kekurangan air minum, dan cara itu masih ampun sampai sekarang. Jika kalian sudah lebih baik, besok kalian bisa melihat bendungan tempat filtrasi yang kami buat!” Aku menatap ke depan, aku merasa ada yang aneh dengan tempat ini. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. “Bendungan? Kalian juga punya bendungan? Wah, ternyata klan kalian lebih maju dari apa yang aku lihat!” seru Harry yang tiba-tiba angkat bicara Pruk—sosok anak kecil tadi melempari Harry lagi, aku hanya tersenyum menatap sosok anak kecil itu. Dia sepertinya punya dendam kesumat dengan Harry karena sudah merebut makanannya tadi. “Lebih baik kita lanjut besok saja, kalian bisa istirahat! Nanti malam kami akan membangunkan kalian untuk makan! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan nak, tempat ini aman!” seru Cara Cinema sambil berbalik dan pergi dari tempat kami.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD