Bagian 29 ~ Tertăngkap Oleh Panglima Zu!

2062 Words
Rabu, 21 Juli 2021  Zanuar membawa kami melewati tembok-tembok licin. Kami beruntung, sedetik saja Zanuar telat membawa kami pergi. Aku pastikan mereka—pasukan kerajaan—akan menemukan keberadaan kami. Para iguana yang membawa kami terlihat lebih lihai berlari di dinding licin. Edward memegangiku agar tidak jatuh. Selagi berlari, aku bisa merasakan bahwa matahari sepertinya sudah terbit. Cahaya matahari dari sela-sela tebing membantu menerangi jalan. "Ayo Harry, percepat gerakan kalian. Mereka sudah menyusul di belakang kita!" Zura berteriak. Sesekali aku menatap Harry, mereka memang tertinggal jauh di belakang. Entah karena iguana itu yang lebih lambat, atau Logan dan Harry yang sengaja lama. Tapi mereka memang sedikit terlambat di belakang. Aku mendengar suara-suara yang menyusul di belakang kami. Jaraknya tidak jauh, cukup dekat dan itu bukan kabar baik. "Kita akan kalah dengan kecepatan mereka Zura, bagaimana ini?" Ujarku berteriak keras agar Zura mendengarkan. "Aku akan menghadang mereka di belakang. Kalian, cepatlah pergi. Bawa mereka menuju perbatasan Zan, jangan sampai mereka tertängkap. Pergilah!" Zura dan Zespri berbalik dengan para jaguar mereka. Berlari menuju arah sebaliknya, sementara kami terus berlari memasuki lorong yang ternyata semakin sempit. Aku menatap Zura, wanita paruh baya itu sepertinya benar-benar tidak menginginkan kami terlukă. "Kita tidak bisa berlari dengan para iguana kita ini. Cepat, turun dari mereka Kirey!" Teriak Zanuar Aku lekas menghentikan iguanaku, lalu mereka dengan patuh masuk ke dalam kalungku. Lalu digantikan dengan jaguarku yang mendekat dan kami segera naik. Tapi itu juga tidak bisa berlangsung lama, karena ukuran tubuh mereka tetap tidak bisa melewati lorong.  "Kita harus berhati-hati, lorong ini semakin licin. Setelah kita berhasil melewatinya, maka kita akan sampai di mulut goa tepat di belakang air terjun. Dari situ kalian bisa terus berlari untuk menuju perbatasan. Aku akan menghădang mereka di depan air terjun!" Seru Zanuar "Tapi, bagaimana dengan Zura dan juga Zespri, Zan? Kita tidak bisa meninggalkan mereka, aku tidak akan setuju!" Tolakku. Aku sama-sekali tidak berencana untuk meninggalkan mereka, terlebih Zura. "Ini sudah menjadi tugas kami, Zura sangat tidak ingin kalian terlukä dan berakhir seperti putranya. Jika sampai hal itu terjadi, maka kemungkinan besar dia akan kembali bersedih hati Kirey!" "Tidak--!" "Kirey, Zanuar benar. Jika kita berakhir di tangan mereka, Kita tidak akan pernah tahu seperti apa mereka akan memperlakukan kita. Kau sendiri sudah mendengar cerita dari Raja muda itu seperti apa. Berbalik arah untuk membantu mereka, itu sama saja dengan menyerăhkan diri sendiri. Maka ini sama saja dengan tidak menghargai usaha mereka. Jika mereka tidak ingin menyelamatkan kita, mereka sudah memilih untuk melawan dari awal. Cepatlah, kita tidak punya pilihan!" Seru Travold dengan tatapan tegasnya Aku menggeleng, "Aku tidak bisa membiarkan Zura. Jika kalian tidak ingin membantu mereka, biar aku sendiri saja!" Aku mendorong Edward, menaiki jaguarku dan berlari ke lorong semula. Aku tidak peduli, mereka harus selamat, Zura harus selamat. Apapun resikonya. "Kau tidak akan membantu mereka, kau hanya akan menyusahkan mereka Kireyna. Kau tidak punya kemampuan seperti mereka! Jangan menjadi bodŏh!" Teriak Travold Aku menghentikan jaguarku, ucapan Travold seolah menyandarkanku. Aku berbalik, tapi tidak menghentikan niatku untuk menyelamatkan mereka. Aku menatap Travold, "Aku tahu, aku juga sadar bahwa kekuatanmu lebih besar Trav. Aku sadar aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Zura dan Zespri. Tapi aku tidak ingin menjadi alasan mereka terlukă, jikapun harus terlukă. Maka setidaknya aku ikut campur di dalamnya! Aku tidak ingin mementingkan kepentingan diri sendiri, dan aku juga tidak memaksă agar kalian ikut. INI ADALAH PILIHANKU!" Aku kembali memacu jaguarku untuk berlari menuju ke arah Zura. Apapun yang akan terjadi ke depanya, aku tidak akan mempermasalahkannya. Karena memilih untuk kembali, adalah pilihanku. "Ed, aku juga akan ikut dengan Kirey. Dia sepupuku, dan aku tidak bisa membiarkan gadis kerăs kepala itu sendirian!" Harry ikutan pergi, dia juga menunggangi jaguarnya. Edward menatap Zanuar, tetua yang masih terlihat bugar itu juga terlihat bingung. Antara menyelamatkan Zura atau tetap pergi menuju ke perbatasan. "Aku tahu kau akan kecewa dengan pilihan adikku Kirey, Harry dan juga aku. Tapi apa yang Kirey katakan itu benar. Aku akan ikut dengan mereka Zan, aku harus membantu mereka." Edward menyusul dengan kecepatan vampirenya. Bahkan kecepatan Edward menyusul kecepatan Jaguarku. Aku menatap Edward dan juga Harry yang memilih untuk ikut denganku. "Kau tidak sendirian Kirey, aku dan Harry selalu bersamamu!" "Lagi pula, bagaimana mungkin aku membiarkan sepupuku yang kerăs kepala ini untuk pergi sendirian? Itu tidak akan pernah terjadi!" Tambah Harry Aku tersenyum, Edward benar, sekalipun aku bukanlah berasal dari klan yang sama dengan mereka. Tapi Edward akan tetap menjadi saudaraku, dan Harry tetap akan menjadi sepupu menyebălkanku. Itu adalah faktanya dan apapun tidak akan pernah bisa menghapus fakta itu. Aku mempercepat jaguarku, setidaknya kami masih bisa untuk tiba tepat waktu. Beberapa menit berlari, aku mulai memperlambat laju jaguarku dan berhenti. Edward juga berhenti, dan kami bertiga saling menatap. Di depan kami, Zura dan Zespri sedang bertărung untuk melawan para pasukan kerajaan itu. Mereka mengenakan jubah hitam mereka dan aura di sekitar kami sangat berbeda. "Lihatlah Zura , bahkan mereka dengan senang hati kembali. Kita tidak harus melanjutkan pertempurăn ini bukan? Kau tidak akan pernah menang melăwan kerajaan Zura" Zura dan Zespri yang sedang sibuk menghădang para pasukan istana itu lekas membalik. Mereka menatap kami bertiga dengan tatapan terkejut sekaligus kecewa. "Apa yang kalian lakukan ini Kirey? Aku sudah mengatakan agar kalian pergi ke perbatasan dengan Zanuar. Dimana lelaki tua Bangkă itu?" Teriak Zura Kesal Kami melangkah mendekati Zura, tatapanku tidak bisa lepas dari lukă yang membuat lengan wanita paruh baya itu mengeluarkan dărah. Zespri juga tidak bisa berbohong bahwa dia baik-baik saja, wajahnya sudah pucăt dan dia mendapat banyak lukă. Orang tua, akan tetap menjadi orang tua sekuat apapun mereka. Jadi, kedatangan kami tidak sepenuhnya seperti apa ucapan pedăs dari Travold. "Aku jelas tidak bisa membiarkanmu terlukă hanya demi kami Zura, aku tidak bisa melakukannya!" "Awhhh, ternyata anak gadismu ini sudah dewasa Zura? Dia ingin menjadi pahlawan untukmu, jika Suparman adalah pahlawan kesiangan. Maka gadis ini adalah pahlawan kepagian, nilai plusnya, hanya wajahnya saja yang cukup cantik. Benar begitu?" Sosok pria muda yang mengenakan seragam dengan lambang sama seperti temannya yang lain malah menertawakanku. Aku tetap kalem, meskipun dalam hati aku benar-benar ingin melawan mereka dan mencincăng bibir tăjamnya itu. Zura menghela nafasnya, menatapku dengan tatapan sedihnya. Lalu kembali menatap sosok di depan kami dengan tajăm "kau tidak bisa membawa mereka ke dalam kerajaan, Panglima Zu! Mereka adalah tamuku. Kamu jelas tahu aturan kerajaan, tamu tetua adalah urusan tetua. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kerajaan. Sebaiknya kalian pergi dan katakan pada Raja mudamu itu, bahwa aku menolăk dengan tegas jika kalian ingin membawa mereka ke kerajaan!" "Hidup lama terbebas dari kerajaan membuatmu lupa akan aturan kerajaan, Zura? Raja telah menghapus aturan itu dan mengeluarkan dekrit sejak mereka memasuki daerah klan vampire ini! Kau tidak mempunyai hak untuk melărang kami membawa mereka ke kerajaan. Jika kau melarang, maka jangan salahkan kami untuk melakukan tindakan hukum!" "Menghapus aturan dan membuat dekrit tanpa persetujuan semua tetua di klan ini adalah tindakan legal dan tidak sah. Ingat, kami masih punya hak dalam pemerintahan. Tidak berada di dalam istana, bukan berarti kalian berhak menghapuskan kekuasaan kami dan aku melărang kalian membawa mereka ke dalam istana, mereka tetap tamuku dan aturan lama tetap ada!" Zura menekan setiap kata yang ia ucapkan. "Apa kau tidak membaca aturan yang dibuat beberapa bulan lalu Zura? Hak paten bisa di dapatkan raja jika setengah dari jumlah tetua setuju dan jumlah yang setuju pada raja lebih banyak daripada jumlah kalian. Ah, satu lagi, mėmbunuh pasukan kerajaan dengan sădis saat melakukan misi adalah tindakan yang sangat fătal. Kalian sudah mėmbunuh anggota kerajaan dan kăbur. Apa kalian pernah memikirkan apa săngsi akan hal itu, bukan begitu Zespri?" Zespri, lelaki tua itu tetap tenang. Tatapannya tetap menjėngkelkan dan juga merendahkăn. Seperti tatapannya saat mengėjek wajah Harry yang minimalis "Kalian terlalu banyak cėkcok wahai anak muda. Kami adalah tetua senior, dan pendapat kami lebih memiliki kuasa lebih kuat daripada yang lain. Pulanglah panglima Zu, dan bilang pada Rajamu itu. Bahwa kami mėnentang kemauanNya." Panglima Zu menatap Zura dan juga Zespri dengan tatapan kėsal. Aku yakin kėmarahannya sedang tidak bisa dikontrol saat ini. "Baiklah jika ini adalah kemauan kalian para orang tua. SĖRANG MEREKA!" teriak panglima Zu, membuat anak buah mereka berteriak dengan keras. Hendak menyėrang kami. "TUNGGU DULU!" Teriak Harry tiba-tiba. Pasukan kerajaan itu lekas berhenti, lalu menatap Harry dengan târing mereka yang terlihat tâjam, setajam silet. "Ada apa nak?" Tanya Zura, wanita paruh baya itu juga jadi tertunda untuk balas menyerâng mereka. Padahal, gayanya sudah keren "Kenapa kita harus saling menyerâng?” Panglima Zu terlihat bingung, lalu menatap Zura dan juga Zespri. "Ya, untuk mendapatkan kalian lebih tepatnya. Jika kalian tidak ingin berperâng, ya ikutlah dengan kami dengan sukarela! Bagaimana? Mudah bukan?" seru Zu Harry menggelengkan kepalanya, "penjelasan Zura tadi kan sudah jelaslah bro ku, gak usahlah main perâng segala. Kita tidak hidup di zaman kolonial yang hobbynya berperang. Kita hidup di jaman modren dan semua bisa diselesaikan dengan cara damai. Benar begitu kan Kirey?" Aku gugup, sekaligus merasa geli dengan Harry. Dia masih sempat untuk membuat suasana menggelikan begini, benar memang kami hidup di zaman modern, tapi ini kan tidak ada di bumi yang ada HAM nya. Ini di dimensi lain, di desa Ay, dimana sistemnya masih kerajaan. Ya wajar saja jika penduduknya masih hobby berperâng. "Ya begitulah!"  Pada akhirnya aku tetap membela Harry. Setidaknya biar dia tidak terlalu mâlu seperti terakhir kalinya. Saat Harry berargumen di kelas mata kuliah umum kami, dan tidak seorangpun yang mendukung idenya. Termasuk aku. Harry saat itu benar-benar mâlu dan kesâl padaku. "Nah, Kireyna saja setuju denganku. Apalagi kalian, bukan kah begitu panglima Zoo?" "Zu, bukan Zoo. Apa kau pikir aku ini kebun binâtang? Enak saja, dari mana klanmu btw?" "Lah, emang Zoo kan dibaca Zu juga loh. Harry tidak salah!" Ujarku membela Harry sekaligus ikutan receh. "Dasar menyebâlkan, tângkap mereka. Kalian sudah membuang waktu kami yang sangat berharga, dasar!" "Beh sintíng!" Seru Harry Tapi itu tidak lucu lagi karena mereka benar-benar sudah menyerâng kami. Zura dan Zespri menahan mereka, berusaha untuk melindungiku. Aku gugup, Edward bisa berlari cepat dan melâwan mereka. Harry bisa mengendalikan air di sekitarnya untuk melâwan mereka. Sementara aku tetap berada di sekeliling jaguarku yang mencoba mengadang mereka. Brukk—Zura terlempar membentur dinding. Aku panik dan hendak membantunya. Namun panglima Zu itu sudah lebih dulu berdiri di depanku dan tatapannya meremehkan. "Kau tidak punya kekuatan?" Tanyanya keheranan. "Sialân, jika aku sudah punya. Maka aku akan menyerângmu, memâtahkan lehermu dan menjadikannya pajangan di depan rumahku. Masih saja bertanya, dasar lebây!" "Eh....eh, dasar mahluk rendâhan. Rasakan ini!" Aku menyilangkan tanganku di depan dâda. Jaguarku sudah terlempar ke dinding, aku merasakan ada yang menghalangi serângan Panglima itu. Membuka mata, aku terkejut melihat Travold yang ada di hadapanku. Matanya menatapku tajam. Lalu, Zu lebih dulu terlempar ke samping. Logan menyerângnya lebih dulu. Travold berkesempatan untuk membawaku pergi. "Aku sudah bilang padamu Kirey. Lawân mereka tidak sembarangan. Duduk di sini dengan baik, aku akan segera kembali. Mereka tidak boleh membawamu pergi!" Aku menatap Travold yang membuat portal pelindung. Namun belum sempat Travold menyelesaikannya, tubuhnya sudah lebih dulu terlempar dan membentur dinding. Aku menahan nafasku, ternyata itu adalah Zu. Matanya jauh lebih merah, auranya lebih kuat daripada tadi. Aku menatap ke belakang, Zura bahkan sudah tidak sadarkan diri lagi. "Apa yang kau lakukan pada Zura hah?" "Seperti yang kau lihat sendiri, aku akan mëmbunuh mereka semua jika melâwan dengan perintahku. Bahkan saudaramu itu, juga akan mengikuti Zura" Aku mengepalkan tangan, menatap Zu dengan ėmosi. Travold sudah kembali berdiri, sudut bibirnya mengeluarkan dârah biru kehijauan. Tatapan Zu terlihat terpaku pada dârah itu. Dia tersenyum licik, menatap Travold dengan penuh seringâi "Jangan sentuh mereka bajingân, kami akan ikut denganmu!" Seringai Zu memudar, dia menatapku tidak percaya dan kaget. Tapi itu hanya sebentar, karena wajahnya kembali menyebalkan. "Awwh, semudah itu kau menyerah? Ya wajar sih, kau kan tidak punya kekutan apa-apa. Baiklah, kau membuat keputusan yang tepat meskipun terlambat!" Aku mengepalkan tangan, Travold menatapku dengan gelengan kepala. "Cepat, bawa mereka semua!" Teriak Zu Tanganku langsung di borgol salah satu pasukan Zu. Aku benar-benar seperti seorang tawanan. Bedanya, borgol mereka tidak terlihat tapi hanya bisa dirasakan. Zura yang tidak sadarkan diri perlahan berubah menjadi cahaya dan menghilang. Zespri juga menghilang. Meninggalkan kami berempat dengan Zanuar. "Panglima, tetua Zura dan Zespri menghilang. Bagaimana ini?" "Itu tidak masalah, mereka mâtipun bukan persoalan untuk kita. Tujuan utama kita sudah tercapai, kita harus membawa mereka berempat ke kerajaan. Cepatlah! Nanti kita di potong gaji jika terlambat, belum lagi pajaknya. Cepat…cepat"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD