Jumat, 23 Juli 2021
Usai makan, Logan sudah kembali tidur dengan sangat jejak. Tidak berbeda jauh dengan Edward, Harry dan Travold. Mereka sudah hampir tertidur, tinggal aku saja yang benar-benar tidak bisa tertidur malam ini. Aku menghela nafas, dari celah lubang di ruangan ini. Aku masih bisa melihat aurora bersinar terang di langit malam. Kami lebih banyak diam sejak tadi, merenungi apa yang terjadi. Aku menatap ke arah Harry dan juga Edward, mereka berdua sudah mulai mengorok dan terlelap sangat nyenyak. Sementara Travold masih terlihat belum tidur.
“Tidurlah Kirey, jangan terlalu banyak berpikir seperti apa yang aku bilang padamu ketika berada di rumah Zura. Pasrah saja dan ikuti alurnya!”
Aku menatap Travold, dia menatapku tidak seperti biasanya. Aku menghela nafas panjang, bagi orang sepertiku. Tidak mudah untuk melupakan kesalahan yang sudah aku perbuat, aku bukan seperti Harry yang bisa melupakan masalah dengan mudah. Aku lebih cenderung strės jika mengalami masalah karena ulahku sendiri, dan itu akan berlangsung secara lama.
“Kau sendiri kenapa tidak tidur?” tanyaku, menatap Travold yang kembali membuka matanya dan menatap ke arah tembok di depannya. Dia mengambil tempat yang terpisah dari kami dan berada di sebelah pintu. Sementara kami bertiga tepat ada di depan pintu.
Travold menghela nafasnya, “Aku hanya tidak bisa tidur, jangan pikirkan aku. Tidurlah dan jangan banyak berpikir lagi, kapasitas otak manusia tidak bisa menampung semua yang ada di alam semesta ini. Hanya sang pencipta yang bisa melihatnya dan mengetahui apa yang akan terjadi. Kita hanya bisa berserah pada kehendaknya!”
Aku menarik nafas dalam sambil memejamkan mataku, mencoba untuk merilekskan diriku sendiri. Jika di bumi, ketika aku ada masalah, aku akan mendengarkan musik dan itu cukup ampuh. Namun di sini benar-benar berbeda, ini bahkan sudah menjadi rekor tertinggiku untuk tidak kecànduan pada ponsel. Aku mulai rileks dan berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa, cara ini berhasil. Aku mulai merasa mengantuk dan tidak lama, mataku sudah terpejam dengan damai.
***
“Kirey, bangun, kirey!”
Aku lekas bangun, kebiasaan selama di sini mengubah sifat burúkku ketika masih di bumi. Aku lebih cepat bangun meskipun sangat lelah. Aku menatap Harry, dia masih tidur di sebelahku. Kebiasaannya masih tidak berubah, dia masih tetap menjadi pemecah rekor terlama tidur. Logan terlihat sudah kesal untuk membangunkan Harry. Aku mengucek mataku, lalu mendengar pintu terbuka.
Panglima Zu sudah berdiri di pintu dengan warna pakaiannya yang tetap sama, lelaki itu menyuruh kami untuk keluar dari ruangan. Harry keluar paling terakhir, itu pun setelah panglima Zu membangunkannya dengan toa yang dia bawa. Seolah panglima itu tahu bahwa Harry sulit untuk di bangunkan. Toa itu sangat ampun, karena Harry langsung bangun dengan terkaget-kaget.
“Siálan, dia membuat telingaku sakit. Dia pasti sudah gilá, dasar menyebalkán!” kesal Harry yang berjalan di sebelahku.
Saat berjalan melewati lorong-lorong kerajaan, aku berhenti sebentar. Aura ini, aku melihat ke arah tembok tinggi di samping ini. Aura ini terasa familiar dan berbahaya, rasanya ini adalah aura dari ular berbulu yang menyerang kami di daerah klan penunggang. Aku meraba tembok, aura itu kembali menghilang membuatku bingung.
“Kirey!” seru Travold membuatku lekas ikut berjalan bersama mereka.
Tangan kami tidak lagi di bŏrgol seperti semalam, itu lebih baik daripada jika besi itu tetap berada di tangan kami. Membuat pergerakan kami semakin sulit. Zu membawa kami ke dalam ruangan yang semalam aku lihat begitu mewah itu. Beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan merah sudah berada di sana, duduk dan memperhatikan kami yang memasuki ruangan. Aku mengedarkan pandanganku, aku tidak melihat sosok misterius yang semalam duduk di atas singgasana paling tinggi itu.
“Kenapa lagi mereka ini membawa kita kemari? Belum juga sarapan sudah main suka-sukanya, tidak sronoklah mereka ini!” lagi-lagi Harry mengėluh karena beberapa menit yang lalu perutnya kembali berbunyi. Aku ingin menertawakan bahasa Harry yang campur aduk, dia terlihat sudah sangat bosan dan kesal.
Shtttthhh—Aku merasakan ada pergerakan di sekitarku, itu sangat cepat sehingga aku mengalihkan perhatianku dari depan. Aku menatap beberapa orang, tidak ada yang aneh dengan mereka karena sejak memasuki ruangan ini dan duduk tepat di depan singgasana itu, mereka sudah berada di sana. Aku menatap ke depan, lalu terkejut melihat sosok mistėrius itu ternyata sudah ada di atas singgasananya dengan jubah yang sama dengan semalam. Aku berjaga-jaga, berusaha agar aku tidak mendengar suara mengėjek.
“Lihatlah Kirey, bajunya bahkan tidak diganti. Itu pasti lebih báu dan menjíjikkan daripada báu nafas Logan pagi ini. Kau harus merasakannya sendiri Kirey, aku sudah merasakan nafas Logan yang begitu báu pagi tadi. Iuhhh, ini benar-benar tidak masuk akal!”
Aku menghela nafas, doaku tidak terjawab. Harry sudah lebih dulu mengejèk pakaian sosok itu. Seperti biasanya dan sudah menjadi kebiasaan menyebalkán Harry. Aku tidak menanggapi Harry yang terus menyenggol bahuku, sudah kebal dengan sikap Harry satu ini.
“Salam pada yang Mulia!” teriak panglima Zu
“Salam yang mulia!” seru semua yang berada di dalam ruangan
Aku menatap sekitar, menaikkan bahuku bingung. Kami tidak ada kewajiban untuk memberi hormat pada sosok di atas itu bukan? Namun, beberapa penjaga yang berjaga di sekitar kami menundukkan kepala kami dengan paksa. “Aihsss, dasar siálan!” batinku. Mereka baru melepaskan kepala kami ketika sosok misteríus itu mengangkat tangannya
“Aihss, dasar kulot. Kenapa harus ada acara begini? Aihsss, ini kenapa aku bencí dengan segala sesuatu yang bersangkutan dengan sejarah, Kirey. Terlebih beberapa peninggalan budaya yang kau ambil, itu menunjukkan kesombongan!” seru Harry dengan nada lebih ketus daripada sebelumnya. Tepat setelah para penjaga itu melepaskan kepala kami.
Aku menahan nafas, tidak hanya Harry yang kesal, tapi aku juga. Aku tidak suka jika ada orang yang memegangi kepalaku, apalagi sampai dengan cara páksa seperti tadi. Aku berusaha untuk tidak berteriak marah karena Edward yang terus memegangi tanganku.
Tidak lama, pintu di belakang kami kembali terbuka. Aku tidak tahu siapa yang datang, aku hanya melihat cahaya-cahaya biru yang memasuki ruangan. Lalu cahaya itu membuat mata silau, dan setelah membuka mata. Beberapa kursi di sekitar sosok misterius itu terisi, ada sekitar 4 orang tua yang duduk di sana. Mengosongkan tiga kursi kosong lagi. Aku menatap tiga kursi itu, apa itu adalah kursi milik Zura, Zespri dan Zanuar? Tapi, kenapa mereka bertiga masih tidak datang dan mengisi tempat duduk itu. Beberapa kali aku melihat ke belakang, namun cahaya biru sama-sekali tidak ada lagi terlihat. Aku menghela nafas, mungkin mereka bertiga kecewa juga dengan keputusan yang aku perbuat.
“Apa mereka tidak akan datang Kirey? Kita disuruh untuk menunggu mereka, apa maksudnya adalah menunggu ketidakpastian seperti dari DOI sampai bertahun-tahun lamanya? Itu adalah PHP namanya, sepertinya mereka sedang menyusun alasan untuk menghindari kita. Benar begitu kan?”
Aku memutar bola mataku malas, tidak menjawab pertanyaan konyol Harry.
“Kirey, lihatlah ke arah tembok ini. Apa itu dilapisi oleh emas? Aku tidak salah lihat kan?”
Aku ikut menatap ke depan, lebih tepatnya dinding yang ada di bawah singgasana tinggi itu. Logan juga ikut menatap dan memperhatikan. “Aku rasa itu adalah emas. Beh, gilá!” kagum Logan
Aku memutar bola mataku lagi, bisa-bisanya Logan masih menyempatkan diri untuk kagum? Wajah Harry terlihat senang melihat emas itu, rasanya baru tadi dia mengumpát. Sekarang wajahnya sudah berubah karena melihat emas itu. “Bayangkan jika kita bisa membawa emas-emas itu ke bumi, kita bisa jadi sultan dan milyader. Kita tidak harus belajar lagi karena kita sudah—KAYA!”
“Diamlah Harry, semua mata tertuju padamu!” peringat Edward
“Ya!!”
Tatapan sosok itu terlihat sangat tajam, dan aku teramat penasaran dengan wajahnya. Sosok itu menatapku, sekujur tubuhku terasa dingin saat tatapan kami bertemu. Aku lekas mengalihkan perhatian pada Travold yang menyenggol bahuku. Seolah tahu bahwa aku sedang menatap sosok itu. Panglima Zu maju dan membungkuk hormat pada sosok itu.
“Atas perintah dari—k”
“Tahan panglima, aku yang akan berbicara langsung dengan mereka. Kau, kembalilah ke tempatmu semula!”
“Baik King Zavier!”
Panglima Zu langsung berhenti berbicara begitu sosok Raja muda itu angkat bicara. Semua tatapan tertuju padanya. Beberapa tetua yang duduk di sebelahnya terlihat sangat santai, namun tatapan mereka cukup membuatku yakin bahwa mereka itu sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik. Aku sekali lagi menatap ke arah pintu, namun harapanku sepertinya tidak akan terwujud. Zura belum juga datang, apa wanita paruh baya itu kembali dengan selamat?
“Baiklah, aku adalah Zavier, raja dari klan vampire ini. Tempat yang kalian masuki ini dan aku sudah meminta beberapa pengawal untuk memeriksa kalian lebih dulu. Namun pengawalku kalian bunùh, aku tidak tahu kenapa kalian melakukan hal itu. Namun laporan dari tetua Zix bersaudara, kalian ingin bekerja sama untuk menghăncurkan kerajaan ini. Benar begitu?”
Aku mengerutkan kening, mendapati sebuah kejanggalan di sini. Namun, Edward lebih dulu berdiri dan menatap sosok King Zavier. Aku juga baru tahu bahwa tetua itu adalah bersaudara, jika sudah begini, maka kemungkinan besar mereka ada niat lain.
“Maaf yang mulia, dari apa yang Anda ucapkan sebelumnya, itu sama-sekali tidak seratus persen benar dan salah. Benar memang kami mėmbunuh pasukan Anda, namun itu karena mereka yang menyeráng kami lebih dulu. Mereka tidak ada tampak untuk bertanya sesuatu pada kami, mereka hanya menyeráng kami. Kami juga tidak ada niatan untuk mengháncurkan kerajaan ini yang mulia, kami hanya datang kemari untuk melakukan rituál jati diri. Kami bukan berasal dari sini, kami berasal dari bumi. Beberapa bulan sebelumnya, terjadi penyerangán pada kami dan kami dibawa oleh teman kami—Travold—kemari untuk melindungi diri. Ini adalah adikku—Kirey. Kami melakukan rituál itu untuk mengetahui apakah dia adalah klan vampire sama sepertiku atau tidak. Sayangnya dia bukanlah berasal dari klan ini dan lelaki berwajah minimalis ini dan yang duduk di sebelahnya adalah Harry dan Logan. Mereka berasal dari klan siren, dan dia adalah Travold. Dia berasal dari klan penunggang naga.”
“Penunggang naga?”
“Benar Yang Mulia!” seru Travold
Sosok itu berdiri, lalu membuka jubahnya dan juga masker yang menutupi wajahnya. Wajahnya begitu bersinar, kulitnya benar-benar putih dan pucat. Hampir sama dengan kulit Edward, dia berjalan turun dan berhenti tepat di depan kami. Namun aku merasakan ada sesuatu yang lain, terasa mengendalikan Raja itu.“Jadi, kau adalah klan vampire yang terdampar di bumi? Aku sudah sangat lama sekali tidak pernah mendengar planet satu itu. Lalu, siapa yang menyeráng kalian?” tanya Zavier. Suaranya tidak sedingín tadi, terdengar sangat berbeda sekali.
Edward menggelengkan kepalanya, “ini juga masih misterí bagi kami Yang Mulia. Tapi maafkan kami karena sudah membuat Yang Mulia tidak nyaman. Tapi kami tidak ada niatan untuk mengháncurkan kerajaan ini sama-sekali yang mulia!”
“Aku paham maksudmu, jika begitu. Maka kalian dibebaskan, dan selamat datang di klanmu ini Edward. Maaf jika penyambutan kami tidak baik untuk kalian!”
“King Zavier, kau tidak bisa membiarkan mereka lolos begini saja yang mulia. Pasukan Anda tėrbunuh dan mereka adalah pelakunya. Mereka juga melakukan kerja sama dengan tiga tetua itu, mereka sudah lama tidak tinggal di istana. Sekalipun Zespri tinggal di sini, tapi dia tidak pernah menunjukan jati dirinya yang mulai. Para tetua itu ingin membuat sistem kerajaan baru Yang Mulai. Mereka harus tetap dihukum seperti putra Zura yang hendak menghíanati Anda. Mereka harus díbunuh, benar bukan? HUKUM MEREKA YANG MULIA!” Teriak salah satu dari tetua Zis bersaudara itu
“Hukum mereka yang mulia!” seru orang-orang yang ada di dalam ruangan ini “Hukum, hukum, pemberonták harus díbunuh!”
Aku memegangi Harry, suara mereka terdengar begitu mengerikán. Aku menatap Zavier, warna matanya terlihat berubah lagi. Tatapanku lalu tertuju pada sosok tetua Zis bersaudara itu, aku merasakan ada yang aneh dengannya. Sepertinya dia mengendalikan sesuatu dari dalam diri sang raja itu. Aura ini, aku bisa merasakannya, hampir sama dengan aura ular berbulu itu.
Bruk—pintu terbuka, tiga cahaya biru lebih terang datang dari luar. Lalu berhenti tepat di belakang kami, aku membulatkan mata. Mereka adalah Zura, Zespri dan juga Zanuar. Aku tersenyum bahagia, Zura menatapku dengan senyumannya. Aku melihat kerumunan yang juga ada di belakang, “Diam kau Zis bersaudara, aku tahu apa yang kalian perbuat selama ini. Edward, tahan Zavier untuk tidak bergerak. Dia berada di bawah pengaruh Zis bersaudara itu!” teriak Zura marah
Edward terlihat kebingungan, namun Ed lekas menahan Zavier dengan Travold.
“Dasar sialán, kenapa kalian harus datang hah? Mati saja kalian, serang mereka bertiga! Ahahaha”
Hiakkkk—bruk—aku terkejut melihat pintu di samping yang hancur. Lalu mataku berhenti pada sosok makhluk besar yang menatap kami dengan buás dan marah. “Aaaaaa!” teriak para penduduk klan vampire itu lekas menghindar dari serángan ular berbulu itu.
Aku lekas menghindar dari serángan ular berbulu itu, sosok itu lebih buás dari pada saat menyeráng kami di hutan klan penunggang. Aku melihat sesuatu di atas kepala ular itu, lalu menatap para tetua Zis bersaudara itu yang duduk dengan tenang di atas singgasana Zavier. “Kirey, menyingkir dari sini. Bawa mereka pergi dari sini, ular ini adalah ular yang menyeráng kalian saat kalian berada di klan penunggang. Sebelum kalian tiba, mereka sudah mengetahui hal itu dan menyuruh ular itu untuk menyerang kalian. Pergi dari sini!” teriak Zespri
Brukk—ular berbulu itu hampir saja menabrakku, namun Harry lebih dulu menahannya dengan air yang dia bentuk menjadi tameng. Kami lekas berlari ke luar, aku mengarahkan agar para penduduk klan vampire yang berkerumun di luar istana untuk menghindar. Suara teriakan ular berbulu itu terdengar sampai jarak yang cukup jauh.