19 Agustus 2021 Usai pengakuan itu, kami sudah seperti biasa. Tidak canggung dan tidak merasa kenapa-napa. Aku legah. Begitulah perasaanku kali ini, bahkan kami saat ini sedang sibuk mencari buku yang dimaksud oleh Jaanafar. Perhatianku tertuju pada sebuah buku yang sepertinya terselip, tanganku tergerak untuk mengambilnya. Namun begitu tanganku menyentuh buku itu, sebuah cahaya keluar dari buku itu dan juga dari kalungku. Semua perhatian tertuju padaku, termasuk Jaanafar yang baru saja kembali lagi dari rak bukunya dengan tumpukan buku. "Kau ... itu adalah bukunya!" Jaanafar menatap buku yang berada di tanganku itu. Kami menyisihkan tumbuhan buku yang ada di atas meja, lalu aku meletakkan buku bersampul hitam dengan ukiran naga itu di atas meja. Kenapa ukirannya berbentuk naga? Aku men

