Masinis

952 Words
“Mbakkkk! Udah jam 8!” teriak Dhira sesaat setelah dia melihat kearah jam di ponselnya. Mereka kesiangan padahal mereka harus balik ke Jogja hari ini juga. Mereka sudah merencanakan untuk bangun jam 5 pagi. Tapi mereka hanya bangun untuk shalat subuh dan tidur kembali. Mereka mengantuk karena malam itu mereka tak langsung tidur. Setelah dari lawang sewu mereka kembali ke hotel hanya untuk mandi saja. Mereka kembali keluar untuk menikmati makanan pinggir jalan disana sambil menikmati wedang jahe di sekitaran kota lama. Pikir mereka, sayang sekali hari terakhir hanya digunakan untuk tidur. Jadi mereka memutuskan untuk bergadang. Mereka baru balik ke kamar hotel pada pukul satu malam. Saking asyiknya mereka bercerita sembari menikmati suasana malam di kota lama. “Mampus, kita gimana ini Ra. Aduh astaga!” ujar Dian panik sembari berjalan sempoyongan karena dia baru saja membuka mata dan langsung berdiri. “kita Cuma punya waktu 30 menit mbak. udah gak usah mandi mbak. kita langsung lari aja.” Ujarnya sembari mereka menyiapkan tas mereka . untung saja malam itu barang-barang mereka sudah tersusun rapi di tas mereka. jadi paginya memang mereka tinggal berangkat saja. Dengan buru-buru mereka pun checkout dari hotel tersebut. Mereka berlari sekuat tenaga untuk sampai di stasiun. Untungnya lagi stasiun itu tak jauh dari tempat mereka menginap. Tapi tetap saja, mereka sudah mepet waktunya. “Pak, ini pak.” Dhira menyerahkan tiket mereka dengan tangan gemetar dan napas terengah-engah akibat berlari. “Baik mbak sudah. Silahkan tunggu di Peron ya. Keretanya tiba satu jam lagi.” “satu jam? Bukannya sekarang udah waktunya ya?” tanya Dhira dengan wajah terkejutnya. “Sesuai Tiket, keretanya jam 9.30 mbak.” ujar petugas tersebut membuat Dhira membelalak. Dia mencoba mengecek kembali tiketnya dan ternyata benar. Dia salah melihat jam tadi. Dia pun menatap Dian dan tersenyum simpul kearahnya. Sedangkan Dian sudah mengeluarkan dua tanduknya akibat kesalahan itu. Mereka merasa sia-sia karena berlarian kalang kabut seperti tadi. Bahkan mereka tidak mandi ketika keluar dari hotel mereka. Dhira meminta maaf atas kesalahannya tapi Dian tak benar-benar marah padanya. Itu hal yang manusiawi. Mereka pun akhirnya bergantian untuk membersihkan wajah mereka di toilet stasiun. Mau bagaimana lagi. Setidaknya mereka bisa merasa segar. Tak lupa mereka juga membeli sarapan dulu untuk mengisi kembali tenaga yang telah mereka gunakan secara sia-sia itu. Mereka hanya tertawa ketika mengingat momen memalukan itu. Benar-benar tak terduga. “Ra, udah mau balik?” tanya sebuah suara yang membuat kedua perempuan itu menoleh serentak. Mereka sedang duduk menunggu di Peron sembari menyeruput Es kopi yang telah mereka beli. “Eh iya ini. Liburan udah selesai, besok udah mulai kerja lagi.” Jelasnya pada lelaki itu. Dian nampak tak berkedip menatap lelaki di hadapan mereka itu. Tubuhnya tegap, wajahnya begitu tegas dengan rahang yang kokoh. Suaranya juga maskulin, membuat siapapun meleleh mendengarnya. “Oh begitu. Gimana liburanmu? Menyenangkan?” tanyanya lagi. “sangat. Mungkin kalau gak ingat kerja, aku masih mau disini untuk seminggu kedepan.” Jawabnya membuat lelaki itu tertawa kecil. Dian menyenggol kaki Dhira seakan memberi kode kepada sahabatnya itu untuk mengenalkan lelaki dihadapan mereka itu. “Oh ya, ini temanku, mbak Dian namanya.” Ujarnya setelah menerima kode Dian dengan baik. Lelaki itupun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dian. “Jovan.” Sebutnya. Dian pun dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut dan memberikan senyum terbaiknya kepada lelaki itu. “Masnya disini juga mau liburan?” tanya Dian dengan nada lembutnya. Dhira pun terkejut mendengar tutur kata Dian yang tiba-tiba berubah jadi softspoken itu. “Oh tidak, saya bekerja. Saya tugasnya mengantar orang liburan.” Jelasnya membuat Dian mengangguk pelan. “kerja apa tuh mas?” tanya Dian penasaran. “Sopir mbak.” mendengar itu mereka pun hanya ber’oh’ saja.. “sopir kereta kan maksudnya?” mendengar itu Jovan pun hanya tersenyum simpul. Dhira sebenarnya sudah curiga dari kemarin, kalau Jovan pasti bekerja di tempat yang tak jauh darinya. Kemarin dia tak melihat pakaian yang dikenakan Jovan sebab dia memakai jaket. Tapi sekarang dia tak memakai jaket apapun untuk menutupi seragamnya. Jadi dia bisa cepat mengetahuinya. “Hah, jadi kamu yang nyetir kereta itu?” tanya Dian takjub. Jovan hanya mengangguk pelan. “Yasudah, saya mau makan siang dulu. Hati-hati ya kalian.” Pamit Jovan pada mereka. mereka pun hanya menjawab ‘iya’ lalu membiarkannya pergi. Dian tak hentinya menatap kearah punggung Jovan yang terlihat begitu kokoh dari arah belakang. Dhira bisa menangkap aura-aura jatuh cinta dari wajah Dian. Wajahnya bahkan tak berhenti tersenyum sejak tadi. “Istighfar mbak Dian. Itu keliatan banget kecintaannya.” Sindir Dhira membuat Dian tersipu malu karena tertangkap basah. “Kamu tuh punya tetangga ganteng kenapa gak dikenalin aku sih Ra? Tau gitu kan aku sering main ke rumahmu.” Ujar Dian dengan semangatnya. “Aku aduin mas Dion ya mbak.” goda Dhira membuat Dian merengut ketika mendengar nama itu. “hidup aku udah tenang beberapa hari ini tanpa dia, Ra. Keknya emang si Dion nih sumber stres ku deh.” Dhira hanya tertawa mendengarnya. Kereta tiba, mereka pun bergegas masuk ke kereta yang akan mengantar mereka kembali. Perasaan Dhira campur aduk, momen inilah yang paling ia benci. Momen ketika meninggalkan suatu tempat yang membuatnya nyaman dengan segala keindahannya. Rasa sedih itu datang menyusup begitu saja. Dhira menilik lagi kearah kameranya dan melihat betapa banyak hal yang telah ia abadikan disana. Disetiap sudutnya menciptakan momen berharga bagi Dhira. “aku pasti akan kembali.” Gumamnya pelan sembari menatap salah satu foto yang ia ambil disana. Setiap kota menyimpan cerita tersendiri. Menorehkan kenangan indah bagi siapapun yang mengunjunginya. Bersyukurnya mereka bisa melihat secara langsung kenangan-kenangan bersejarah yang begitu indahnya. Perjalanan ini mereka jadikan kenangan berharga di kehidupan mereka sekarang dan kedepannya. Cerita tentang setiap sudut kota tak akan habisnya mereka ceritakan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD