“Ra, kemarin kamu ketemu nak Jovan kan? Gimana menurutmu, dia ganteng kan?” tanya bu Nadia ketika Dira sedang menyiapkan bekal makan siangnya di dapur. Perempuan itu sudah mengira pasti ibunya akan menanyakan banyak hal perihal lelaki itu. Atau memang itu rencana keduanya.
“biasa aja bu. Ya seperti manusia pada umumnya aja.” Jawab Dira sekenanya membuat bu Nadia berdecih kecewa.
“Maksud ibu tuh, dia kan udah umur tiga puluhan lebih tapi dia masih kelihatan muda kan Ra. Malah ibu kira dia tuh masih dua puluh lima loh Ra. Dia baik, sopan pula Ra sama ibu bapak. Ibadahnya juga rajin. Menantu idaman sekali sih Ra dia tuh.” Dira mulai mencium bau-bau mencurigakan dari ibunya itu. Dia secepat mungkin membereskan barangnya lalu bergegas untuk berangkat kerja.
“buru-buru amat sih Ra. Baru jam segini juga.” Protes bu Nadia tak terima.
“nanti ada rapat bu penting, aku mau menyiapkan materinya juga. Jadi harus cepat sampai kantor.” Alibinya.
Perempuan itu segera berpamitan kepada ibunya lalu pergi sesegera mungkin. Dira bukan hanya hidup sehari dua hari dengan ibunya itu, jadi dia tahu betul jika ibunya merencanakan sesuatu. Bahkan pasti itu arahnya ke pernikahan.
Memang mereka tidak pernah terang-terangan meminta Dira untuk segera menikah, tetapi dari gelagat mereka sudah terlihat jelas. Apalagi ketika mereka berjumpa dengan pemuda yang menurut mereka kompeten menjadi menantu mereka, pasti ibunya akan terus membahas segala kelebihan yang dimiliki oleh lelaki itu dan pada akhirnya menyuruh Dira untuk menikah dengan lelaki itu.
Padahal Dira sendiri masih belum terpikirkan untuk menikah. Dia masih ingin menikmati masa mudanya. Dia masih ingin menjelajahi tempat-tempat impiannya. Walaupun hanya di dalam negeri atau bahkan di kota dekat-dekat sekitarnya tapi dia selalu menghargai setiap perjalanannya.
Awalnya Shadira tidak diizinkan untuk berpergian oleh sang bapak, tetapi lambat laun Dira membujuk bapaknya hingga mendapatkan izin itu. Tak mudah memang, dia harus meyakinkan bapaknya dan membuktikan bahwa dia akan baik-baik saja dan bisa menjaga dirinya.
Shadira sampai di kantornya dan seperti biasa, dia yang pertama datang. Memang masih pagi sekali dia sampai di kantornya karena memang dia mencari alasan saja untuk menghindari ibunya itu.
Dira merapikan meja kerjanya, membuka jendela agar cahaya masuk ke ruangan kerjanya itu sembari dia menikmati pemandangan pagi yang memang tidak menarik itu. Karena memang hanya menampilkan pemandangan jalanan pagi yang macet karena memang hari kerja.
Dia membuka komputer kantornya sembali menyalakan musik untuk menemani kesunyiannya itu. Kemudian dia membuka email siapa tau ada pesan masuk yang harus dibalas sesegera mungkin.
Tak lama satu persatu rekan kerjanya datang. Dia pun sudah tak merasa sendirian lagi. Mereka saling tegur sapa dan berbincang-bincang layaknya teman biasa. Walaupun umur mereka kebanyakan lebih tua daripada Dira. Kebanyakan mereka sudah berumur empat puluh tahunan lebih.
Tapi hal itu tak menghalangi mereka untuk berbaur. Walaupun memang terkadang obrolan mereka tidak nyambung karena seringkali mereka membicarakan tentang kehidupan pernikahan yang dia tidak relate.
“Ra, ada kasus lagi. Nanti kamu temani aku ngobrol dengan tamu kita ya. Dia tadi udah mengirim pesan, katanya mau ketemu nanti siang jam sepuluh.” Ujar mba Dian, seniornya.
“ok mbak. Aku balas dan rekap email ini dulu ya.” Jawabnya yang direspon anggukan oleh Dian.
Beliau ini memang satu divisi dengannya disana. Mereka bekerja di bidang pemberdayaan perempuan. Jadi mereka juga menangani kasus-kasus yang memang berkaitan dengan kesejahteraan perempuan. Entah itu KDRT, pencemaran nama baik, ataupun pengembangan diri untuk perempuan contohnya UMKM atau usaha lainnya.
Disini, Dian berlaku sebagai mediatornya. Dia yang menerima keluhan dan akan memberikan jalan keluar nantinya. Dian ini lulusan psikologi, jadi tak heran jika dia sudah mahir dalam hal tersebut. Sedangkan Dira, bekerja di divisi yang sama, tapi dia lebih berfokus kepada bagian administrasi dan pendampingan.
Dia yang bertugas menerima email yang berisi keluhan, membuat undangan jika ada sosialiasi atau penyuluhan dan juga ikut terjun langsung ke lapangan jika ada penyuluhan dan sosialisasi.
Program di bidang pemberdayaan perempuan sendiri sangat beragam. Mereka membuat program yang bisa bermanfaat untuk para perempuan khususnya ibu-ibu untuk berdaya. Pastinya banyak ibu-ibu yang ingin tetap berpenghasilan, oleh karena itu dinas pemberdayaan perempuan hadir untuk membantu mereka. Sebagai wadah mereka untuk berkreasi.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dira pun menuju ke tempat dian untuk menemui tamu yang sudah ada janji temu bersama mereka. Mereka menjamu tamu itu di ruangan yang memang sudah khusus disediakan untuk menerima keluhan para warga di kabupaten tersebut.
Dira menyalami beliau, seorang perempuan yang mungkin umurnya masih tiga puluh lima tahunan. Wajahnya terlihat lelah dan lesu. Badannya kurus dan tak terurus. Dia menggendong seorang bayi berumur sekitar dua tahunan dan masih menggandeng anak yang juga masih balita, mungkin sekitar empat tahunan.
Mereka mempersilahkan ibu itu duduk dan menjamunya dengan baik. Mereka berikan minum yang ada dan snack seadannya. Anak itu begitu senang ketika Dira menyodorkan roti kearah anak itu. Matanya berbinar senang.
“iya ibu, jadi saya Dian, dan ini rekan saya Dira. Kami disini dari dinas pemberdayaan perempuan dan kami siap menerima segala keluhan. Silahkan ibu sampaikan apa keluhan ibu.” Jelas Dian dengan nada lembutnya.
Ibu itu nampak diam. Dia menunduk dalam dan tangannya bergetar. Ibu itu seakan ragu untuk menceritakan apa yang terjadi padanya. Dian paham itu, pasti sulit bagi ibu itu untuk menceritakan apa yang menjadi keluh kesahnya itu.
“ibu, tidak papa. Silahkan bercerita. Tidak usah takut.” Bujuknya kembali. Tapi ibu itu seakan enggan berbicara. Apalagi anak-anaknya sudah mulai rewel kembali.
“Ra, kamu ajak anak-anak ibu Ratna main dulu ya di playground.” Pinta Dian yang langsung dijawab anggukan setuju oleh Dira.
Dira sudah mengerti apa tugasnya jadi dia pun dengan senang hati mengajak kedua buah hati bu Ratna untuk bermain di playground yang memang tersedia disana. Untungnya kedua anak itu mau dan mereka penurut semua.
Tinggalah kini Dian dan bu Ratna. Dian kembali membujuk agar ibu Ratna mau buka suara. Dan akhirnya bu Ratna mulai menceritakan segalanya dengan suara yang bergetar. Dian sangat mengerti betapa besar rasa trauma bu Ratna sehingga dia setakut ini untuk bercerita.
Dian berpindah duduk disamping bu Ratna dan menggenggam tangannya. Dia membantu memberi kekuatan untuk bu Ratna. Dia ingin bu Ratna tahu bahwa beliau tidak sendirian.
“Suami saya sering melakukan KDRT bahkan sejak saya mengandung. Awalnya dia sangat sayang kepada saya bu, dia selalu perhatian. Tapi entah kenapa, semenjak dia bekerja di kantornya yang baru, dia berubah bu. Sepulang kerja selalu uring-uringan dan masalah kecilpun dibesar-besarkan. Saya sudah mengalah tapi dia tetap saja marah. Awalnya dia tak pernah melakukan kekerasan fisik, hanya verbal saja, tapi setahun belakangan ini dia sering memukul saya. Bahkan terhadap kesalahan yang tidak saya perbuat.” Bu Ratna berhenti sejenak untuk menghapus air matanya. Begitu sesak dadanya ketika mengingat setiap kejadian buruk yang menimpanya.
Betapa tangan besar dan kuat itu mengenai tubuh renta bu Ratna yang sudah lelah mengurus segala urusan rumah dan juga anak-anaknya. Bisa dibayangkan betapa lelahnya menjadi bu Ratna. Bukan hanya fisik saja namun juga mentalnya.
“Bahkan pasca saya melahirkan, saya juga masih saja dibentak-bentak. Saya lelah bu, saya sakit, saya juga gak mau begini. Waktu itu saya ingin mati saja. Tapi saya melihat anak-anak saya. Lalu saya mengurungkan niat itu. Saya tidak mau anak saya diurus oleh iblis itu. Saya tak rela anak saya disakiti olehnya.” Lanjutnya lagi dengan nada gemetar.
“apa yang membuat ibu bertahan dengan beliau?” tanya Dian dengan nada lembutnya.
Bu Ratna nampak menarik napasnya panjang sebelum menjawab. Beliau seakan tak kuasa mengatakan alasannya.
“saya tidak punya siapa-siapa dan tak punya apa-apa bu. Saya ini sebatang kara. Saya hanya memiliki suami saya. Tentu saya ingin sekali berpisah dengannya, tapi saya juga berpikir, saya belum mampu memberikan kehidupan yang layak untuk anak saya nanti kedepannya. Mau tinggal dimana saya, mau saya beri makan apa anak-anak saya nantinya. Pikiran itulah yang membuat saya bertahan sampai saat ini.” Jelasnya dengan nada putus asa.
Dian menghela napasnya berat. Dia paham betul perasaan bu Ratna saat ini. Begitulah seorang ibu. Seberapa keraspun ujian yang dia hadapi, tetap saja, anak prioritas baginya. Seberapa banyak rasa sakit yang ia rasakan, dia lebih memilih untuk menahannya dan bertahan demi anak-anaknya.
Jujur saja, hati Dian ikut hancur mendengarnya. Sebagai sesama perempuan, tentu saja Dian mengerti betul betapa lelahnya menahan semua rasa sakit ini sendiri. Apalagi bu Ratna sudah tak memiliki siapapun disisinya lagi.
Bu Ratna menggenggam tangan Dian dengan tatapan penuh harap. “saya berharap ibu bisa membantu saya. Bu Dian dan rekan-rekan bu Dian adalah harapan saya satu-satunya. Saya tak tahu lagi kemana saya harus meminta pertolongan. Tolong saya bu, tolong anak-anak saya.” Pintanya membuat Dian tak kuasa menahan air matanya.
Dian memeluk bu Ratna erat. Dia mengusap-usap punggung bu Ratna lembut seakan memberikan energi kepada bu Ratna. Agar beliau bisa bertahan lebih lama lagi. Agar beliau bisa bertahan demi anak-anaknya.
“Ibu tenang saja ya, kami akan berjuang sebisa kami. Kami akan membantu bu Ratna keluar dari masalah ini. Saya akan diskusikan dengan rekan-rekan saya dan saya pastikan bu Ratna dan anak-anak akan selamat.” Ujar Dian seakan memberi secercah harapan pada bu Ratna. Beliau tersenyum lalu tak hentinya mengucapkan terimakasih pada Dian.
“Kami akan segera kabari ibu ya jika sudah menemukan solusi terbaiknya. Tidak akan lama ya bu. Saya pastikan sesegera mungkin.” Lanjutnya lagi menenangkan bu Ratna.
“iya, terimakasih ya bu. Terimakasih.” Ujar bu Ratna dengan penuh rasa syukur.
Mereka membiarkan bu Ratna disana sejenak. Mereka membelikan makanan untuk mereka, agar mereka bisa makan dengan tenang. Beliau tersenyum senang, apalagi anak-anaknya. Mata mereka berbinar ketika melihat makanan yang dihidangkan di hadapan mereka.
“Terimakasih ya bu Dian, bu Dira. terimakasih telah mendengarkan keluhan saya dan telah menjamu saya dan anak-anak dengan baik.” Ucapnya dengan raut wajah bahagia yang tak bisa ia bendung lagi.
“tentu ibu, sudah menjadi tugas kami. Hati-hati ya bu, semoga selamat sampai rumah.”
Setelah bu Ratna pergi, akhirnya Dian pun menceritakan segalanya kepada Dira. Perempuan itu tak mengerti situasi yang terjadi karena dia sibuk menjaga anak-anak bu Ratna. Mendengar cerita itu tentu saja Dira merasa iba dibuatnya. Dia juga jadi takut untuk menikah. Mungkin memang benar, saat ini dia harus fokus ke dirinya sendiri dulu. Sampai benar-benar ada orang yang tepat yang datang padanya.
“Kasihan banget ya mbak. Kita harus segera bantu beliau.” Ujarnya dengan raut wajah iba.
“Pasti. Aku akan pikirkan solusi terbaiknya.” Dira mengangguk semangat mendengarnya.
***