Erika terpaku, tubuhnya gemetar melihat sahabatnya tergeletak bersimbah darah, luka di perutnya yang mengerikan. Hatinya hancur berkeping-keping, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Nia, Kamu kenapa? Siapa yang sudah berani melakukan ini sama kamu?" Suara Erika bergetar penuh kepanikan, matanya memburu-cari jawaban yang tak kunjung datang.
Dania menatap Erika dengan mata sayu. "Aku nggak tahu, Er. Tapi, bukan itu yang terpenting sekarang." Suaranya parau, hampir pudar terdengar memohon, "Tolong, jadi pengantin pengganti. Menikahlah dengan Mas Reno. Aku nggak mau dia menghadapi semua ini sendirian."
Merasa sangat terkejut, Erika mencoba membungkus kecemasannya dengan kata-kata penuh harap, "Kamu akan baik-baik saja, Dania. Percayalah."
Namun, Dania hanya menggeleng, lirih berkata, "Aku … aku benar-benar sudah nggak kuat lagi."
Saat itu, Reno tiba-tiba masuk, matanya membelalak, seluruh tubuhnya menggigil hebat oleh cemas yang membakar.
Dia meraih tangan Dania dengan gemetar, suaranya pecah, "Sayang, kenapa kamu bisa seperti ini? Siapa yang melakukan ini padamu, Sayang?" Rasa takut dan putus asa meledak di d**a Reno, menyelimuti ruangan itu dengan kesunyian penuh duka.
"Sayang, maafkan aku .... Aku gagal menepati janji untuk selalu menemani kamu." Suara Dania bergetar, menahan derai air mata yang tak mampu lagi ditahan. "Please, aku mohon ... menikahlah dengan Erika. Aku percaya, hanya Erika yang bisa menjaga dan menyayangi kamu saat aku nggak ada lagi di sini. Pernikahan ini harus tetap berjalan, aku nggak mau kamu menghadapi semuanya sendiri. Hanya Erika yang pantas menjadi pengantin pengganti."
Reno menggenggam tangan Dania lebih erat, matanya membelalak penuh kebingungan dan ketakutan. "Kamu bicara apa, Sayang? Kalau kamu tidak mau aku sendirian, maka bertahanlah! Aku akan membawa kamu ke rumah sakit sekarang juga!" Suaranya pecah, penuh harap yang tersisa.
Namun Dania menolak, napasnya sudah terputus-putus. "Nggak ada waktu lagi. Aku benar-benar nggak kuat, Mas," ucapnya lirih sebelum akhirnya menutup mata untuk selamanya, meninggalkan kesunyian yang menusuk jiwa.
"Dania … bangun! Bangun, Sayang. Aku mohon … jangan tinggalkan aku!" teriak Reno, suaranya berubah menjadi isak tangis yang menyayat.
Dunia seakan runtuh di sekelilingnya saat cinta sejatinya itu perlahan menghilang, meninggalkannya dalam kesendirian yang begitu pekat. Air matanya membasahi lantai, mencampur dengan duka yang tak pernah akan hilang.
"Dania … aku mohon, bangun. Bercanda kamu nggak lucu!" Erika pun merasakan yang sama, tak percaya kehilangan sahabatnya begitu saja.
Pintu tiba-tiba terbuka, Bella melesat masuk seperti badai yang menerjang. Jeritannya seketika pecah, mengiris ruang sunyi, sebuah teriakan histeris yang menggema saat matanya menangkap sosok kakak tirinya yang tergeletak tak bernyawa.
"Kak Dania! Apa yang terjadi, Kak?!" Suaranya bergetar penuh kepanikan, namun hanya sunyi yang menyambutnya.
Air mata meledak dari mata semua orang yang ada di sana, tangisan pecah mengiringi kehilangan Dania, sosok yang amat mereka cintai.
Namun di balik kepedihan itu, amarah Bella menyala liar. Matanya membara, menatap Erika dengan tajam bagai pisau yang siap mengiris. "Pasti kamu yang sudah membuat Kak Dania seperti ini!" dentum kata-katanya penuh tuduhan. "Terakhir kali aku lihat, dia bersama kamu, Erika!"
Tanpa pikir panjang, tangan Bella menjulur, mencengkeram leher Erika dengan kekuatan yang bisa membuat napas terhenti. Erika tersentak, napasnya tercekat dan matanya melebar ketakutan. Reno yang berdiri tak jauh langsung buru-buru merangsek maju, menarik tangan Bella dengan kekuatan sekuat hati yang gentar.
Napas Erika bergetar, akhirnya kembali bernapas dengan lega. "Aku tidak melakukan apa-apa!" Dia berteriak, suaranya serak namun penuh keberanian. "Justru aku yang menemukan Dania dalam keadaan seperti ini! Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah melakukan hal yang bisa melukainya! Kamu tahu betul, Dania itu sahabatku!" katanya dengan air mata mengalir, membela diri dalam putus asa.
"Tidak ada maling yang mengaku!" bentak Bella, nadanya penuh amarah membara sampai membakar udara di antara mereka. "Dasar pembunuh!" Tuduhannya menusuk seperti racun, mengoyak sepi dan harapan yang tersisa dalam ruangan itu.
Suasana berubah menjadi ladang peperangan, di mana setiap kata adalah amunisi yang melesat membara tanpa ampun.
"Cukup, Bella! Apa-apaan kamu?!" Reno meledak dalam amarah yang tertahan, matanya menyala saat menatap Bella yang tak mengerti situasi. "Kita sedang berduka, tapi kamu malah menyalahkan orang lain tanpa bukti!"
Dengan gerakan cepat, Reno menggendong tubuh Dania yang lemah. Sedangkan Erika dan Bella yang cemas, mengikuti dari belakang.
***
Mereka berlari ke rumah sakit, namun kenyataan paling pahit sudah menanti, nyawa Dania tak lagi bisa diselamatkan. Hari itu juga, wanita tersebut dimakamkan dengan sunyi yang menusuk hati.
Setelah prosesi pemakaman selesai, Bella mendekati Reno yang terpuruk dalam keputusasaan. "Kak, aku yakin, Erika yang membunuh Kak Dania. Aku melihat mereka bersama sebelumnya. Semua ini pasti sandiwara Erika!" Suaranya penuh tekad dan rasa duka, menanam benih kecurigaan dalam hati Reno yang rapuh. "Kak, Erika harus dipenjara," ujarnya dengan penuh tekanan, mencoba mempengaruhi pikiran Reno meski tanpa bukti.
Reno menunduk, napasnya berat. "Aku akan mengusut masalah ini, tapi aku tidak akan gegabah memenjarakan Erika tanpa bukti jelas." Matanya basah menatap kejauhan. "Aku akan menikahinya. Itu permintaan terakhir Dania."
Kalimat itu menggantung di udara, menyayat hati, membawa Reno ke dalam pusaran emosi antara dendam, cinta dan tanggung jawab yang mengikat erat jiwanya.
Bella terhenyak, matanya membara menatap Reno. "Kamu serius? Kamu mau menikahi wanita yang justru menyebabkan calon istrimu meninggal? Apa kamu sudah gila?!" Suaranya bergetar, separuh marah, separuh tak percaya.
Reno membalas dengan tatapan dingin, penuh kebingungan. "Kenapa ini harus menjadi urusanmu?" katanya singkat.
Bella mencoba menenangkan diri, tapi gugupnya jelas terpancar. "Jelas ini menjadi urusanku, Kak. Aku adiknya Dania! Kenapa kamu harus menikahi Erika? Kenapa tidak mencari wanita lain kalau memang pernikahan ini harus tetap berlanjut?" ujarnya, penuh desakan.
Reno menarik napas panjang, lalu suara tegasnya memotong, "Sudah aku katakan, ini bukan urusanmu!" Dengan kata-kata itu, dia berlalu, meninggalkan Bella berdiri dengan tanya yang menggantung di udara.
Tanpa menunggu lama, Reno mulai mencari keberadaan Erika. Ketika akhirnya menemukannya, wanita itu tampak rapuh, matanya menyiratkan luka yang dalam.
Reno terpaku, kalbunya bergolak. "Apa benar, Erika yang menyebabkan Dania celaka? Tapi, kenapa Dania malah memintaku menikahinya? Apa arti ini semua? Ada apa sebenarnya?" Dalam hati, ia merapal tekad. "Mungkin memang Erika yang melukai Dania, tapi pasti ada alasan yang belum aku tahu. Aku harus menggali semuanya sampai tuntas."
Tangannya mengepal erat, menahan gelombang emosi yang nyaris meledak. Dalam keheningan itu, Reno bersumpah, kebenaran harus diungkap, apapun risikonya.
Dia melangkah mantap mendekati Erika, suaranya dingin menusuk, "Apa kamu ingat, pesan terakhir Dania?" tanyanya dengan datar, tanpa sedikit pun memberi ruang untuk debat.
Erika menoleh, matanya merah dan sembab, bekas air mata yang baru saja tumpah. "Iya, aku ingat," jawabnya lirih, suaranya bergetar. "Tapi … kalau kamu tidak setuju, aku juga tidak harus menjadi pengantin pengganti."
Reno menatap tajam, ketegasan di wajahnya menguat. "Aku sudah putuskan, aku setuju. Kamu yang akan menjadi pengantin pengganti Dania. Sekarang juga kita berangkat. Pernikahan ini harus tetap terjadi hari ini, walaupun sempat tertunda."
Mata Erika membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Hatinya bergejolak, apakah ini benar jalan terbaik?
Namun, kenyataan tak bisa dipungkiri. Bukan sekadar omongan, di hari itu mereka benar-benar menikah, sah sebagai pasangan suami istri.
Erika menghela napas dalam, suara hatinya bergema penuh tekad, "Dania, aku janji akan menyayangi Kak Reno seperti kamu menyayanginya. Aku akan menjadi penggantimu menjaga dia. Kamu tenanglah di sana." Meski hatinya mengerti, Reno tidak mencintainya.
Bersambung …