"Maukah kau menikah denganku?" Aku takkan bosan mengatakan itu padamu, Nadia, sampai kau benar-benar akan menerimaku sebagai suamimu. Aku akan terus mengatakannya padamu. Jika kau menolak aku tidak akan pantang menyerah, ya, kau benar. Aku akan terus berusaha sampai aku mendapatkannya. Prok ... Prok ... Prok ... Suara tepukan tangan membuat kami menoleh ke sumber suara. Tetiba Rizki datang di waktu yang kurang tepat. Apa maksudnya coba? Dia mengganggu sekali. Ingin kupukuli dia saat ingat dialah penyebab aku dan Nadia berpisah. Tapi kalau aku main kekerasan, itu artinya aku belum dewasa. Akan kuselesaikan ini baik-baik. "Aw aw aw, rupanya ada yang melamar mantan istriku, padahal udah ditolak. Gak punya malu ya..." sindir Rizki, perkataannya mulai lancang. Sabar, sabar, aku tidak bole

