CHAPTER 23 "Selalu ada harapan, dan aku sekarang tipe yang percaya dengan kata itu. Faktanya, sih, ya, dengan pengalaman ini aku sadar ada hal yang harus aku terima. Itu kata ayah kamu, there's no bad luck, just different way to get happiness." Indira menatap Brendon termenung, ia memikirkan kata-kata itu. Ia bangkit dari rebahan dan duduk di tepi kasur. "Papah bener-bener nyuci bersih otak, Mas?" "Mengilhami, sih, aku suka nyebutnya." Brendon menggedikan bahu. "Well, siapa peduli? Seenggaknya aku lebih baik, sedikit." Dengan ancaman keselamatan kedua orang tuanya, ya, tentu saja Brendon punya pendorong mutlak untuk sikapnya saat ini. "Tidur sana!" Indira menggeleng.

