“Sen … Senna …” Galen memanggil beberapa kali, tetapi gadis yang dipanggilnya tak juga menyahut. Senna duduk di pojok perpustakaan yang senyap, menatap kosong ke arah jendela. Di luar sana matahari bersinar terik, kontras dengan isi kepalanya yang berkabut. Dua puluh menit ia membiarkan buku tebal di hadapannya terbuka tanpa dibaca. Halamannya tidak bergerak, sama seperti pikirannya yang macet pada satu nama yang seharusnya ia hapus. “Senna,” panggil Galen lagi. Kali ini disertai sentuhan hangat di bahu. Senna tersentak hebat, seolah baru saja dibangunkan dari mimpi buruk. “Len? Kapan—” “Udah dari tadi, Sayang. Dipanggil-panggil nggak denger,” keluh Galen. Ia memanyunkan bibirnya, ekspresi merajuk yang biasanya membuat Senna luluh. “Kamu mikirin apa sih? Tugas?” Senna berkedip, mencob

