16. Marah Tidak Jelas

810 Words

“Nggak masuk dulu?” tawar Senna, saat Galen memarkir mobilnya tepat di depan rumah Senna. Melihat lampu menyala teras menyala, Senna jelas tahu jika pasti ada Devan di dalam. Galen terlebih dahulu turun sambil membawa payung agar Senna tidak kehujanan ketika turun nanti, membuat anak itu tersenyum lembut ke arah Galen yang tengah menunggunya. Tanpa mereka sejak tadi apa yang mereka lakukan tengah diperhatikan oleh Devan yang berada di lantai dua. Tatapannya tajam, bahkan buku-buku jarinya memutih karena tangannya dikepal erat. Cemburu. Dia benar-benar cemburu dengan sikap yang diberikan Galen pada Senna. Dengan kasar, Devan menutup goden karena tidak tahan dengan pemandangan yang dilihatnya. "Thanks. Udah nganterin. Maaf jadi ngerepotin," ucap Senna sambil memegang payung yang juga dip

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD