"Gimana keadaan teman saya dok?" tanya Shaniya khawatir karena melihat temannya yang terbaring di ranjang rumah sakit. "Aduh, Rina, kenapa sih lo bisa sampai begini?" lanjutnya sambil mengelus pelan lengan temannya.
"Gue gakpapa elah, cuma lecet doang sama memar dikit, Ya."
Shaniya memutar bola matanya ketika mendengar jawaban dari temannya itu. Dia sangat khawatir pada temannya yang satu itu, tapi malah dibalas dengan jawaban yang menjengkelkan.
"Saya ingin meminta maaf karena sudah menabrak motormu," ucap Adhi sambil menatap Rina dengan ramah.
"Oh, nggak Pak, ini saya yang salah, harusnya saya tidak ngebut dibelokkan, akhirnya ketika belok dan ada mobil di depan saya, saya kaget dan tidak bisa mengerem."
"Daripada kita saling menyalahkan satu sama lain, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar pria itu dengan senyumannya yang memesona.
"Iya bole—"
"Eh eh, gak, gak bisa. Lo harus ikut gue pulang Rin! Gue mau pindahin file itu sekarang! Daripada nanti gue disemprot dosen, ogah!" geram Shaniya sambil menatap tajam Rina. "Dan untuk Pak Kesit yang terhormat, terima kasih sudah membantu teman saya, mungkin lain kali saja kita makan siang bersamanya. Untuk saat ini, ada hal yang lebih penting untuk kami urus."
Dengan perlahan, Shaniya membantu Rina berdiri. "Kalau begitu kami permisi Pak, assalamualaikum.." ucap Shaniya sambil memapah Rina berjalan keluar kamar.
Sedangkan disisi lain, Adhi mendengus pelan. Sudah banyak kali ia bertemu dengan wanita dengan macam-macam sifatnya, namun baru kali ini ia melihat seorang wanita yang jutek, judes dan dingin dalam berbincang dengannya, biasanya para kaum hawa berbicara dengannya lemah lembut dan penuh godaan.
Tanpa pikir lama, Adhi segera membayar biaya administrasi dan kembali pulang.
•••••
"Aduh, Ya! Lo tuh bego atau gimana sih? Tadi tuh ganteng banget sumpah! Harusnya kita terima aja ajakan makan siangnya," gerutu Rina sambil memakan camilan yang ada di mobil Shaniya.
"Buat apaan? Lagian di rumah gue juga ada banyak makanan, lo kan udah sering main," jawab Shaniya dengan mata yang masih fokus menatap jalanan.
"Kali aja dia naksir sama gue, Ya. Kan lumayan dapet cami ganteng kek doi," jawab Rina.
"Apaan lagi cami?"
"Calon suami, asek gak tuh?"
"Aduh Na, jangan berkhayal terlalu tinggi, kalau jatoh tuh sakit, menurut gue nih ya, keknya dia udah punya istri, secara keliatan dari mukanya yang udah gak muda lagi, yakali doi masih lajang," ujar Shaniya.
"Masa sih Ya?" tanya Rina dengan raut wajah yang menekuk.
"Ya kan itu perkiraan gue aja, mana gue tau, emang gue emaknya apa?!"
"Yailah, judes amat sih Ya, awas susah dapet jodoh."
Seketika itu Shaniya terdiam. Pikirannya langsung memutar pada kejadian beberapa waktu silam. Lalu wanita itu tersenyum miring. Apa benar jika dirinya terus memasang wajah dingin dan judes akan susah mendapatkan jodoh? Jika iya, mungkin ia akan merubah sedikit demi sedikit sikapnya. Karena bagaimana pun, ia juga ingin memiliki pendamping hidup.
•••••
Sebulan setelahnya, Adhi bersiap-siap untuk bertemu dengan kliennya lagi. Pagi ini, ia sudah rapi dengan kemeja biru dongker, celana bahan hitam, dan juga gesper Hermesnya. Rambutnya ia pakaikan pomade agar terlihat klimis.
Setelah itu ia duduk di sofa kamarnya, setelah sebelumnya mengambil sepasang sepatu hitamnya yang berjejer rapi di rak sepatu. Lalu dengan cepat ia memakainya. Setelah semuanya dirasa siap, Adhi pun mengambil ponsel dan juga iPadnya, taklupa kunci mobil.
"Selamat pagi, ibu yang cantik," sapanya ketika sudah sampai di meja makan.
"Duduk Mas, kita makan," jawab Ibunya.
"Ini yang mau nikah kenapa cemberut terus?" ucap Adhi sambil menatap adik perempuannya yang duduk di sebelahnya.
"Beneran Mas Adhi belum ada calon? Aku gak enak langkahin Mas Adhi duluan," jawab wanita berambut pendek itu.
"Nikah ya nikah aja, ngapain mikirin Mas? Lagian juga Mas kan udah pernah nikah," tangan kekar Adhi mengambil sepiring nasi goreng yang sudah dibuat oleh Ibunya.
"Apa perlu Adis cariin istri?" ucap Adisti—adik Adhi.
"Adis, sudah, Masmu sudah sangat dewasa, biarkan dia sendiri yang memilih pendamping dunia akhiratnya," ujar Ibu mereka.
"Tapi Bu, Adis lihat Mbak Talia udah nikah lagi tuh sama bule."
Adhi yang mendengar nama mantan istrinya disebut, tiba-tiba saja nafsu makannya langsung menghilang. Dengan kasar ia meletakkan sendok ke atas piring. Lalu pria itu bangkit berdiri.
"Bu, Adhi berangkat," ucapnya sambil mencium punggung tangan Ibunya. "Assalamualaikum." Setelah itu ia segera pergi.
"Kamu sih Dis, Masmu itu sensitif kalau nama wanita itu terus saja kamu sebut."
"Maaf, Bu..." ucap Adisti penuh penyesalan.
•••••
"Assalamualaikum..." ucap Adhi ketika ia membuka pintu ruangan direktur utama. "Selamat pagi, Pak Rega," sapanya kepada pria paruh baya yang sedang menatap sebuah figura besar di tengah tembok ruangannya.
"Waalaikumsalam," jawab pria paruh baya itu sambil tersenyum penuh keramahan.
Adhi pun melihat figura besar itu. Baru kali ini ia melihat foto itu, karena setiap kali ia berkunjung ke kantor Pak Rega, tidak pernah ada foto keluarganya, yang ada hanyalah lukisan-lukisan yang bernilai jual tinggi.
Tapi ada sesuatu yang tidak asing di matanya. Gadis itu! Gadis super jutek dan dingin, teman wanita yang sudah ia tabrak sebulan lalu, sedang tersenyum manis di sebelah kanan Pak Rega yang duduk di kursi sambil menatap kamera dan di sebelah kiri ada seorang wanita setengah baya yang Adhi perkirakan itu adalah istrinya Pak Rega.
Jadi... apakah gadis itu putri dari Pak Rega?
"Dia Shaniya, putriku.." ucap Pak Rega sambil terkekeh. Adhi yang ketahuan terlalu lama menatap figura itu langsung tersenyum kikuk. "Silahkan duduk, Adhi."
Adhi pun dengan sopannya duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang Rega duduki, hanya ada halangan meja diantara mereka.
"Kenapa kamu menatap foto putriku terus?" ujar Rega sedikit menggoda pria berusia 35 tahun itu.
"Dia... gadis yang cantik," ucap Adhi jujur. Ya, dia tidak dapat berbohong bahwa Shaniya adalah gadis yang cantik.
Rega terkekeh pelan. "Sayangnya nasib putriku tidak secantik parasnya."
Adhi mengerutkan keningnya bingung.
"Sudah lebih dari 4 lamaran datang kepadanya, namun mereka semua langsung membatalkannya ketika mengetahui bahwa Yaya adalah korban pemerkosaan," lanjut Rega.
Adhi membelalakan matanya tidak percaya. Tiba-tiba saja ekor matanya kembali menatap foto keluarga itu. Ya, Adhi baru menyadari bahwa dibalik senyuman manis gadis itu, tersimpan beban yang begitu berat.
"Usianya baru 22 tahun, tiga bulan lagi ia wisuda," lanjut Rega.
"Apa.. Shaniya anak Pak Rega satu-satunya?" tanya Adhi.
"Tidak, ada Radja, putraku yang sedang bersekolah di London." Adhi mengangguk pelan. "Kau lihat itu? Itu dia."
Adhi mengikuti arah telunjuk Rega yang menunjuk sebuah foto seorang lelaki remaja yang sedang tersenyum. Adhi pun tersenyum kecil melihatnya.
"Dia juga.. remaja yang tampan," komentar Adhi.
"Soal Shaniya, saya mohon kepadamu untuk tidak menyebarkannya kepada siapapun, karena saya tau, kamu bukan orang seperti itu, oleh karena itu saya berani membicarakannya denganmu. Saya hanya takut, Shaniya kesulitan mendapatkan pendamping hidup," Rega menatap serius Adhi yang menganggukkan kepalanya.
"Apa Anda merestui jika saya yang melamar putri Anda, Pak Rega?"
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin melamar putri saya?"
"Sebenarnya saya sudah pernah bertemu dengannya, Pak. Di rumah sakit. Saat itu saya tidak sengaja menabrak temannya. Dan dia datang untuk melihat temannya. Dan saat itu pula saya menaruh hati padanya," jelas Adhi panjang lebar.
"Kamu serius? Yaya itu..."
"Saya serius Pak, dan yang perlu Pak Rega tau, saya itu seorang duda, saya pernah menikah dan sudah bercerai 2 tahun lalu."
"Kamu punya anak?" tanya Rega penasaran.
"Tidak, Pak."
"Malam minggu ini, saya mengundang kamu dan keluargamu untuk makan malam di rumah saya, bisa? Sekalian juga kamu dan Shaniya mengakrabkan diri."
"Tentu, Pak. Tentu saya bisa," jawab Adhi penuh semangat.