Masuk ke dalam rumah, aku senyam-senyum sendiri. Bersyukur banget sikap Abang gak berubah.
“Ayu, kenapa senyum-senyum gitu? Dianterin pacarnya, ya?” tanya Bunda saat berpapasan denganku.
“Pacar apaan? Gak ada cowok yang mau sama si Ayu, Bun. Cewek jelek begitu,” timpal Abang, tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
“Dih, sembarangan. Gini-gini banyak tahu cowok yang suka sama Ayu,” balasku memajukan bibir beberapa senti. Mengikuti Abang yang berjalan ke arah ruang tamu.
“Masa? Gak percaya. Pacaran aja ama cowok pesbuk. Cowok maya. Soalnya, cowok nyata gak pada mau ama lu 'kan?”
Terus saja mengejek. Dasar nyebelin.
“Sembarangan.” Kutimpuk Abang dengan bantal sofa.
"Sembarangan apaan? Cowok nyata gak mau sama lu, soalnya lu jelek." Abang ngajak lagi.
Bibirku maju beberapa centi. Lihat Bunda datang, aku langsung bergelayut manja pada lengannya.
"Bunda, Abang tuh, ngatain Ayu jelek mulu."
“Dendi ....” panggil Bunda lembut, melerai perdebatan kami.
“Bunda ....”
“Minta maaf sama Ayu. Bilang kalau Ayu cantik. Cepetan, Nak!” Abang menghela napas. Menatapku dengan memelas. Berdiri mendekatiku.
“Maafin gue ya. Iya lu cantik. Cantik banget.” Aku tersenyum manis.
“Tapi, boong.” sambung Abang berjingkat masuk kamar. Sialan!
“Abaaaangg! Bunda, Abang rese.”
“Sudah-sudah, Abang kamu itu emang jahil. Ayu mandi dulu, habis Maghrib kita makan bareng.”
“Iya, Bun.”
Gak bisa banget tuh orang memuji dengan tulus. Emang bener apa kalau aku jelek? Ish dasar bewok.
***
Usai sholat Maghrib, kulipat mukena, mengenakan kerudung, lalu keluar kamar. Di meja makan, Bunda sudah duduk menunggu.
“Ayo, Sayang duduk. Kita makan. Bunda masakain masakan kesukaan Ayu lho,” ucap Bunda berbinar seraya menata masakan di atas meja.
“Makasih banyak ya, Bun.”
“Iya, sama-sama.”
Menarik kursi, lalu duduk. Aku melihat kursi Abang masih kosong. Kemana tuh orang?
“Bunda, Abang kemana?”
“Ada tuh di kamarnya.”
“Gak makan?”
“Bilangnya nanti. Lagi beresin laporan kerjaan dari karyawan. Tadi kan Abang gak masuk kantor.” Aku manggut-manggut.
“Bunda, insya Allah minggu depan Ayu udah mulai sidang skripsi. Doanya ya, Bun?” Ucapku di sela makan. Bunda menatapku tersenyum.
“Iya, Sayang, pasti bunda doain. Kamu, Dendi selalu ada dalam doa-doa Bunda.” Aku terharu mendengar penuturan Bunda. Bunda sudah lebih dari seorang ibu angkat. Kasih sayangnya selama ini tak pernah dibeda-bedakan antara aku dan Abang. Justru terkadang Bunda seperti lebih sayang padaku.
“Bunda ....” Aku menyimpan sendok setelah makanan di atas piring sudah habis.
“Kenapa, Nak?” tanya Bunda mengakhiri suapan terakhir. Lalu meneguk air minum sampai setengah gelas.
“Hmm ... kalau Ayu udah dapat kerja, Ayu pengen ngontrak. Boleh, ya?” kataku menatap Bunda dengan tatapan memohon.
“Kenapa? Apa Ayu gak nyaman tinggal bersama Bunda? Apa Bunda punya salah sama Ayu?” Aku menggeleng cepat. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin hidup lebih mandiri lagi. Tidak mau terlalu bergantung pada Bunda dan Abang.
“Enggak, Bun. Enggak. Ayu cuma pengen belajar hidup mandiri," ucapku menjelaskan. Aku tidak mau kalau Bunda salah paham. Bunda diam. Merunduk, menghela napas panjang.
“Bunda minta maaf, kalau selama ini bikin Ayu gak nyaman. Terutama sikap Dendi yang sering jahilin Ayu, sering ngomelin Ayu.” Mendengar perkataan Bunda, aku semakin tidak enak hati.
“Enggak, Bun. Rumah ini sangat nyaman buat Ayu. Bunda udah sangat baik merawat Ayu. Gitu juga Abang. Maaf ya, Bun. Ucapan Ayu bikin Bunda tersinggung.” Aku jadi menyesal berbicara seperti tadi.
“Nak, sejujurnya Bunda gak mau Ayu pergi dari rumah ini apapun alasannya. Ayu udah Bunda anggap anak perempuan Bunda satu-satunya. Kepada siapapun, Bunda gak pernah bilang tentang siapa Ayu sebenarnya. Kalau Bunda boleh memohon, jangan tinggalin Bunda. Jangan pergi dari rumah ini, ya, Nak?”
Air mataku tak terasa berlinang. Terharu mendengar ungkapan Bunda. Aku menghampiri Bunda, memeluknya erat. Bunda mengusap-usap punggungku.
“Maafin, Ayu, Bun,” ucapku di tengah isak tangis. Bunda ternyata benar-benar tulus menyayangiku padahal aku adalah anak angkat. Ya Tuhan, semoga suatu saat nanti aku dapat membalas segala kebaikan Bunda. Aamiin.
“Iya, Sayang. Bunda juga minta maaf udah egois. Larang Ayu keluar dari sini.” Aku menggeleng. Sedikit pun aku tidak berpikir kalau Bunda egois. Justru aku berpikir kalau Bunda sangat baik dan sayang padaku.
“Gak apa-apa, Bun. Sekali lagi maafin Ayu.” Kucium punggung tangan Bunda takzim.
Setelahnya, aku dan Bunda merapikan piring kotor dan mencucinya.
“Bunda ke kamar duluan ya, Yu?”
“Iya, Bun.”
Bunda masuk kamar, aku melihat kamar Abang. Pintunya masih rapat. Hendak melangkahkan kaki, menyuruhnya makan dulu, aku ragu. Takut ganggu. Nanti yang ada malah ngomel-ngomel.
“Udahlah, nanti juga kalau lapar makan sendiri.”
Aku berbalik, memutuskam masuk kamar.
***
Lima belas menit usai sholat Isya, pintu kamar diketuk.
“Yu! Ayu!”
Itu kan suara Abang. Aku bergegas ke pintu kamar, setelah mengenakan kerudung.
“Ada apa, Bang?”
“Anter Abang beli bakso.” Muka Abang kusut amat.
“Dih, beli bakso aja minta dianter. Manja!”
“Bukan manja.” Jari telunjuk Abang menekan dahiku. Kebiasaan banget. Suka tekan-tekan dahi.
"Abang lapar?" Aku baru ingat tadi Abang gak ikut makan bareng.
"Udah tahu nanya."
Ya ampun, minta tolong tapi galak amat. Heran sama manusia satu ini.
"Kalau lapar, makan sana! Tadi Bunda masak enak."
“Gue maunya makan bakso. Lu mau ikut gak?” tanya Abang dengan nada tinggi.
“Ada apa, Den?” tanya Bunda tiba-tiba keluar kamar.
“Mau ngajak Ayu makan bakso, Bun.”
“Bunda ikut, ya? Udah lama gak makan bakso.”
“Jangan! Nanti gagal diet lho, Bun. Bakso itu kan lemaknya banyak. Mau Bunda, nanti dibully temen-temen gegara gendutan?” Bunda langsung menatap perut dan memegang kedua pipi.
“Iya juga ya. Gak jadi deh.” Bunda masuk kamar lagi. Aku menatap Abang gemas. Ada-ada aja alasannya.
“Yaah ... malah lihatin gue. Napa? Baru nyadar kalau gue ganteng?”
“Dih, kepedean.”
“Ya udah buruan siap-siap! Gue nungguin di teras! Cepet!”
“Iya.”
Mau gak mau, akhirnya ikut Abang juga. Tetapi, bakso? Ah, boleh jugalah.
***
“Naik motor?” tanyaku ketika melihat Abang nangkring di atas motor Ninja miliknya.
“Pake nanya. Cepetan naik! Laper nih.”
“Udah minta anter, galak lagi.”
Aku berjinjit naik ke atas motor, tangan kanan memegang pundak Abang.
“Makanya jadi cewek tuh tinggian dikit. Punya tinggi minimalis," gerutu Abang.
“Bawel, ih.” Setelah nyaman duduk di atas motor, Abang menyerahkan helm.
“Pake nih.”
“Males, ah.”
Abang menurunkan standar motor, membalikkan badan menghadapku. Memakaikan helm. Wangi parfum dari tubuh Abang menyeruak. Wajahnya yang brewokan hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku memejamkan mata.
“Dah selesai. Pegangan!”
Baru saja membuka mata, Abang langsung menancapkan gas. Refleks kupeluk pinggangnya.