“Kopinya, Mas.” Falisha mendekati Arka dan meletakkan secangkir kopi di meja, tepat di hadapan suaminya.
Arka tidak menyahut, hanya melipat koran di tangan dan meraih kopi yang disajikan istrinya. Sebentar kemudian, Arka menyemburkan kopi yang baru saja diseruput.
“Kenapa, Mas?” tanya Falisha heran saat melihat Arka yang ternyata tidak berkenan dengan kopi buatannya.
“Kamu bikin apa, sih? Kamu sengaja ngerjain?”
Falisha ternganga. Dia sungguh tidak mengerti dengan maksud perkataan suaminya. “Ngerjain gimana, maksud Mas? Fal cuma bikin kopi buat temenin Mas Arka baca koran sebelum sarapan,” dalihnya.
“Terus ini apa?” Arka melempar tatapan dingin sambil jarinya menunjuk ke arah kopi yang sudah dia letakkan kembali di meja.
Falisha tidak tahu harus bagaimana membela diri. Penasaran, Falisha segera meraih cangkir berisi kopi dan menyeruputnya. Perempuan itu terbatuk dan berlari menuju kamar mandi terdekat. Dia baru tahu kesalahan apa yang sudah diperbuat sampai membuat Arkatama menjadi murka. Falisha pun kembali menghampiri suaminya.
“Maaf, Mas. Tadi Fal betul-betul enggak tahu kenapa kopinya jadi asin. Padahal Fal udah pastiin kalau buatnya pakai gula,” aku Falisha dengan sangat menyesal. “Fal buatin yang baru ya, Mas?”
“Enggak, enggak. Enggak perlu.”
Selain kesal perihal kopi, Arka juga kesal karena kemejanya harus turut menjadi korban, padahal dirinya tinggal mengenakan jas dan siap menuju kantor usai sarapan. Laki-laki itu pun bergegas menuju kamar dan mengganti kemeja dengan yang baru.
Falisha merasa sangat bersalah. Namun, sekeras apa pun dia mengingat kekeliruan yang sudah diperbuat, dia tetap tidak merasa telah salah memasukkan garam ke dalam kopi yang dibuat untuk sang suami.
Sebisa mungkin, Falisha menyembunyikan raut sedih. Dia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap meja yang kotor akibat semburan kopi Arka, kemudian membawa cangkir kembali ke dapur. Perempuan itu tidak menyadari, ada yang tengah memperhatikan.
“Silakan, Pak, kopinya.”
Falisha mendengar kalimat singkat itu saat melewati meja makan. Ucapan Nia, asisten rumah tangga di kediaman Wilis yang kembali membuatkan kopi untuk Arka. Padahal, Falisha sempat menawarkan untuk membuatkan kopi yang baru dan Arka menolak saat itu juga.
Hati perempuan mana yang tidak kecewa melihat laki-laki pujaan hatinya menolak tawaran untuk dilayani, sementara dia menerima pelayanan dari seorang asisten rumah tangga yang usianya sama dengan Falisha?
Usai mencuci cangkir di wastafel dekat meja makan, Falisha menuju dapur, membantu Nia menyiapkan sarapan meski tanpa diminta. Sebisa mungkin, dia menutup rasa sakit hatinya untuk disimpan seorang diri.
“Udah siap, Mbak? Biar saya yang bawa ke meja makan,” ujar Falisha yang lantas mengambil alih pekerjaan Nia.
“Oh, silakan, Bu. Kalau gitu saya bisa beresin dapur.” Nia membalas senyum Falisha. “Terima kasih,” lanjutnya sebelum menjauh dari majikan barunya.
Falisha menghela napas panjang, kemudian membawa semua makanan yang sudah siap dan menaruhnya di meja makan. Begitu selesai, Falisha hendak mencuci tangan di wastafel. Namun, dia harus sabar menunggu Arsya yang tiba lebih dulu, selesai mencuci tangan hingga tiba gilirannya.
“Are you okay?”
Bisikan Arsya membuat Falisha mendongak, memastikan bahwa laki-laki yang usianya lebih muda lima tahun darinya itu sedang mengajak berbicara.
“Kalau ada masalah, boleh cerita. Aku bisa jadi pendengar yang baik buat Kakak.”
Falisha sedikit memicingkan mata, kemudian meloloskan seulas senyum di bibirnya. “Enggak ada masalah, kok. Fal ... mmm ... Kakak baik-baik aja,” dustanya.
Arsya tidak berkata-kata lagi, melainkan membalas senyum Falisha dan bergegas menuju meja makan, bertepatan dengan munculnya Wilis dan Salma.
“Maaf ya, Mama sama Papa baru keluar. Kami harus siap-siap juga, soalnya bangun kesiangan.” Salma tampak sudah rapi dengan dress putih simpelnya yang terlihat elegan.
Wanita itu diikuti oleh Wilis yang juga sudah rapi mengenakan setelan jas berwarna navy.
“Mau ke mana, Ma?” Arka menoleh dan lebih dulu bertanya.
“Loh, memangnya Arsya enggak cerita? Mama udah bilang sama dia, kemarin. Kalau hari ini Mama sama Papa mau terbang ke Surabaya, ada meeting sama investor di sana.” Salma meletakkan tasnya di kursi, kemudian mendekati wastafel saat Falisha masih berada di sana.
“Kak Arka enggak tanya,” sahut Arsya dengan santai.
“Kamu ini kebiasaan.” Wilis memrotes jawaban Arsya.
“Jangan lupa, Arka. Mama nitip Falisha. Kamu jaga dia, bahagiain dia,” ucap Salma sembari menepuk-nepuk bahu menantunya. “Dia udah jadi bagian dari keluarga kita,” tambahnya.
“Betul,” timpal Wilis.
Arka tidak menjawab. Dia justru sibuk memainkan benda pipih di tangan, lega karena kedua orang tuanya kembali terbang ke luar kota. Sementara Arsya, sibuk memperhatikan Falisha yang lebih banyak diam.
“Arsya juga kalau Kak Falisha butuh apa-apa, misalnya Kak Arka belum pulang, tolong, ya, bantu kakak kamu. Pokonya Mama enggak mau kalau sampai menantu Mama enggak nyaman di sini.” Salma berpesan.
“Falisha nyaman di sini, kok, Ma.”
Perempuan yang dibicarakan pun menyahut. Tidak lupa dia menambahkan senyum di wajah cantiknya yang membuat Arsya keheranan.
“Soal itu Mama enggak perlu khawatir.” Arsya menimpali dengan sorot mata mengarah pada Arka yang masih sibuk dengan gawainya.
“Bagus. Jadi Mama sama Papa bisa menjalankan tugas dengan tenang seperti biasa.” Salma meraih tisu untuk mengelap kedua tangan, lalu memosisikan diri di samping Wilis. “Yuk, makan! Keburu siang.”
“Arsya jangan lupa fokus kuliahnya.” Wilis mengingatkan sebelum betul-betul menikmati sarapan.
“Beres, Pa. Tunggu aja, sebentar lagi aku skripsi. Jangan panggil Arsyanendra kalau nilaiku enggak bisa bikin Papa-Mama bangga.” Arsya sedikit besar kepala, mengundang tawa Wilis.
“Anak sombong yang enggak pernah gagal buktiin kata-katanya,” ujar Wilis sambil menggeleng samar.
Keluarga Wilis pun menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Wilis dan Salma yang pertama kali keluar usai sarapan, segera bertolak ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat.
Sementara Arka, dia lebih dulu menelepon kekasihnya saat melangkah keluar.
“Sayang, nanti meet up, bisa? Mama sama Papa barusan berangkat ke luar kota. Jadi kita bebas. Aku mau ajak kamu dinner, nanti aku jemput ke apartemen, ya? Nanti aku kabari kalau udah pulang kerja.”
Wajah Arka terlihat semringah mendengar kekasihnya berbicara dari seberang. Menurutnya, tidak ada yang lebih baik dari perempuan yang sedang diajaknya berbicara, termasuk Falisha sekali pun.
“Oke, Sayang. Love you more.” Arka mengakhiri panggilan dan memasukkan gawainya ke dalam saku celana.
Lelaki itu hendak membuka pintu mobil, tetapi ucapan Arsya cukup membuatnya terkejut.
“Sampai kapan Kakak bakal bertahan dalam hubungan yang enggak jelas?”
Arka menoleh ke arah sumber suara dan melihat adiknya bersandar pada pintu mobil belakang. “Bukan urusan kamu,” balasnya singkat, terlihat tidak suka dengan perkataan Arsya barusan.
“Lupa, sama pesen Mama-Papa sebelum berangkat? Lupa, sama tanggung jawab sebagai seorang suami?” Arsya mengingatkan.
“Enggak usah ngajarin soal tanggung jawab kalau kamu sendiri juga enggak bisa bikin anak orang bahagia.”
Mendengar balasan sang kakak membuat Arsya tertawa kecil. “Nabila, maksud Kakak?” tanyanya sembari menegakkan posisi badan. “Aku enggak cinta sama dia, lagian aku juga enggak ada ikatan apa pun, jadi bukan tanggung jawabku buat bikin dia happy. Kalau Kakak kan ... udah ada Kak Falisha sebagai istri.”
“Kamu enggak perlu menggurui.”
“Aku cuma ingetin. Ibarat Kakak baru dapet berlian, jangan disia-siain. Atau Kakak bakal menyesal.”
“Kamu ngancem?”
“Aku cuma ingetin!”
Adu mulut terhenti ketika terlihat Falisha mendekat.
“Syukurlah, Mas Arka belum berangkat. Ini, tadi Fal udah siapin bekal buat makan siang di kantor. Makanannya tetep hangat sampai nanti Mas Arka siap santap.” Falisha mengulurkan tas bekal ke arah Arka yang ditolak mentah-mentah.
“Aku ada meeting sama klien, jadi bisa sekalian makan di luar.” Arka membalas dengan abai, kemudian memasuki mobil tanpa memedulikan perasaan istrinya. “Tolong minggir.”
Falisha yang kecewa dengan penolakan Arka, tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan suaminya. Dia dan Arsya pun menggeser posisi, membiarkan mobil Arka dengan leluasa meninggalkan pelataran rumah.
“Sini, Kak. Bekalnya buat aku.” Arsya mengambil tas bekal dari tangan Falisha, bahkan tanpa persetujuan dari perempuan itu. “Berangkat dulu, ya. Makasih,” lanjutnya sambil sedikit mengangkat tas bekal, memperlihatkan raut bahagia karena sudah dibawakan bekal.
Falisha membalas perkataan Arsya dengan senyum samar. Dilihatnya lambaian tangan Arsya begitu memasuki mobil, kemudian berlalu meninggalkan pelataran di mana hanya tinggal Falisha yang masih berdiam diri di sana.
Ternyata rasanya sesakit ini saat menyadari, cinta Mas Arka bukan untukku. Gimana caranya mengambil hati Mas Arka?