Masa Depan yang Masih Abu-Abu

1690 Words
            Ayas baru saja keluar dari kantor atasannya dengan wajah lesu, hari ini merupakan hari terakhir dirinya bekerja di perusahaan yang sudah lima tahun digelutinya. Besok status Ayas sudah berubah menjadi pengangguran. Ketika dirinya menceritakan keadaannya pada sang ibu, ibunya menyuruh Ayas untuk pulang dan tinggal saja di kampung halaman, ibunya bahkan mengatakan bahwa Ayas tidak perlu lagi merantau di ibukota. Hati Ayas kembali terbujuk untuk pulang, sebenarnya Ayas juga sudah ingin pulang, dirinya juga memiliki rencana untuk tinggal di tempat kelahirannya entah itu sambil mencari pekerjaan baru atau berwiraswasta seperti rekan –rekan kerjanya yang lain yang sudah lebih dulu pulang ke kampung halaman masing-masing. Setelah melakukan salam perpisahan pada rekan-rekan kerjanya yang masih bertahan, Ayas pun pulang ke kostannya, sambil menenteng perasaan yang campur aduk.             Sesampainya di tempat kost, Ayas langsung membereskan pakaian dan barang-barangnya yang akan dia bawa pulang ke kampung halaman. Barang-barang seperti kasur dan lemari sengaja ditinggalkan di tempat kost, agar bisa digunakan oleh penghuni baru tempat kostnya nanti. Rencananya besok selepas sholat shubuh Ayas akan berangkat dari Jakarta ke kampung halamannya dengan menggunakan bus. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur tipis, sambil melihat sekeliling tempat kost yang sudah menjadi rumah kedua baginya selama tinggal di ibukota. Ayas mengambil ponselnya dan melihat-lihat akun media sosialnya yang sudah lama tak disentuhnya. Pikirannya terbersit nama Raya yang sudah lama tak dihubunginya. Pasti Raya marah padanya, apalagi ketika dirinya memblokir nomor kontak Raya. Hal itu dilakukan Ayas, semata-mata untuk kebahagiaan Raya, agar Raya bisa melupakan dirinya dan membuka hatinya untuk laki-laki lain yang lebih siap. Meskipun sebenarnya perasaan bersalah menyelimuti diri Ayas, entah kenapa hati Ayas terasa nyeri sekali.              Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, Ayas tiba di kampung halaman siang harinya, bukannya istirahat dia langsung menyambar koran dan mencari-cari lowongan pekerjaan. Dirinya tidak sudi menjadi pengangguran barang sehari pun, begitu ada beberapa pekerjaan yang dirasanya cocok, Ayas langsung menyiapkan berkas lamaran kerja untuk dia serahkan keesokkan harinya.                                                                                                 **            Sudah tiga minggu Ayas mencari pekerjaan kesana kemari, namun mencari pekerjaan di kota kecil tak semudah yang dia bayangkan. Ijazah sarjana pendidikan ekonomi yang dia miliki sepertinya tidak bisa membantunya mendapatkan pekerjaan meskipun hanya sekedar menjadi admin sekalipun. Ayas bersandar pada sandaran kursi di teras rumahnya, adik ketiganya yang bernama Ainun yang masih duduk di bangku SMP menghampirinya sambil memberikannya segelas air putih.             “Gagal lagi ya A?” Tanya Ainun sedih, Ayas hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum getir. Dirinya tak kuasa untuk sekedar menjawab pertanyaan adiknya sedikitpun.             “Aa jangan menyerah, besokkan masih ada kesempatan nyari kerja lagi, semangat A!” Kata Ainun sambil memegang bahu kakak laki-lakinya itu, Ayas kembali dibuat tersenyum, kali ini sembari mengacak-acak kepala Ainun yang ditutupi jilbab.             Tiba-tiba ponsel Ayas berdering, tertera nomor telepon teman kuliahnya, Fajar. Fajar mengabarkan bahwa ada lowongan pekerjaan untuknya, tentu saja Ayas senang bukan kepalang, dirinya langsung mengambil kunci motor dan bersegera menemui Fajar.             Pekerjaan yang ditawarkan Fajar adalah menjadi seorang pelayan di kedai kopi Sakko milik pamannya Fajar, dan Fajar dipercaya menjadi managernya. Kedai kopi itu sudah hampir dua bulan beroperasi dan tentunya membutuhkan banyak karyawan baru. Tanpa pikir panjang Ayas menerima tawaran pekerjaan itu, saat ini dirinya tak mempermasalahkan harus bekerja sebagai apa, baginya yang terpenting adalah pekerjaan itu halal. Setelah mengucapkan terimakasih pada Fajar, dirinya pulang ke rumah dengan hati gembira.             Pekerjaan pertama Ayas sebagai pelayan, tak membuatnya kesulitan, dirinya begitu cepat beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Bahkan dia juga cepat sekali akrab dengan rekan-rekan kerja barunya itu salah satunya Aji dan Diva. Ayas juga belajar menjadi barista, ternyata menyeduh kopi juga ada seninya, hal itu tentunya menambah ilmu dan pengalaman untuknya.             Hal tak terduga terjadi ketika Ayas bertemu dengan seseorang yang tengah dilupakannya, Raya. Dirinya begitu kaget melihat Raya saat tengah mengantarkan charamel macchiato, namun situasi itu dengan cepat dia alihkan. Ayas tidak ingin ada drama-drama lagi dengan Raya. Ayas berharap Raya segera pergi dari kedai kopi, tapi perkiraannya ternyata salah, sudah hampir tujuh jam Raya berada di kedai kopi, seperti tengah menunggu dirinya. Perasaan Ayas kembali tersentuh, namun dirinya tidak ingin berurusan lagi dengan Raya, untuk itu ketika jam kerjanya usai, Ayas pulang lewat jalan belakang agar tak diketahui Raya. Tapi sepertinya Raya tahu jalan pikiran Ayas, dia langsung mengejar Ayas bahkan hampir terjatuh karena tersandung batu. Ayas baru menyadari bahwa dirinya ternyata salah menilai Raya, Raya adalah tipe wanita yang pantang menyerah dan cukup tangguh. Karena kasihan, Ayas terpaksa memberi Raya kesempatan untuk berbicara. Sesuai dugaan Ayas, Raya hanya ingin membicarakan urusan mereka yang menggantung. Ayas tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan pada Raya, dari lubuk hatinya, Ayas merasa tersanjung karena Raya begitu tulus menyukai laki-laki seperti dirinya. Namun di sisi lain hidup Ayas masih belum stabil, dirinya masih belum menjadi apa-apa, banyak hal yang sebenarnya ingin Ayas lakukan. Pada akhirnya Ayas terpaksa mencampakkan Raya, dirinya ingin menyudahi semua drama ini. Ayas pergi tanpa menoleh ke belakang, Ayas tahu pasti hati Raya sangat hancur.            Gerimis membasahi tubuh jangkung Ayas, setelah yakin Raya tidak mengikutinya, Ayas terdiam sambil menatap langit sore, wajahnya basah oleh gerimis yang sedikit demi sedikit berubah menjadi butiran hujan. Tak terasa air mata Ayas jatuh bercampur dengan air hujan. Ingin sekali dirinya berteriak keras, namun suaranya seolah tercekat, hatinya juga seolah teriris, rasanya begitu sakit sekali. Namun dirinya tetap berjalan ke depan sembari diguyur hujan yang tiba-tiba membesar.                                                                                                 **             Ayas tiba di rumahnya dengan kondisi basah kuyup, ibu dan ketiga adiknya begitu kaget melihat kondisi Ayas, apalagi ketika melihat mata dan hidungnya memerah. Ayna, adik pertamanya yang masih kuliah dan hendak bertanya tentang kondisi kakaknyapun, dicegah ibu. Tanpa banyak berbicara, Ayas langsung pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya.             Ayna mengetuk pintu kamar Ayas sambil membawa nampan berisi makanan, dilihatnya Ayas tengah berselimut sarung di tempat tidur.             “Aa, kata ibu makan dulu, nanti sakit.” Sergah Ayna, Ayas hanya mengatakan iya, untuk kemudian kembali mendekap guling. Setelah Ayna pergi, baru Ayas bangun dan memakan makanan yang diantar Ayna, perutnya sakit, Ayas baru sadar tadi siang hanya makan sebungkus roti gulung saja, karena terganggu dengan kehadiran Raya di tempat kerjanya. Ayas meraba hatinya, ketika dirinya bertemu Raya, jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan, apalagi ketika berbicara berdua dengan Raya di taman, dirinya malah panas dingin, apakah dirinya jatuh cinta pada wanita itu? Ayas berfikir sambil menyantap tumis buncis buatan ibunya, ah cinta, selama hidupnya dirinya tak pernah jatuh cinta, cinta hanya akan menghambatnya meraih prestasi. Tapi meskipun hidupnya dipenuhi dengan cinta maupun tanpa cinta, dirinya tetap merasa hidupnya gagal. Tanpa sadar Ayas terus-terusan membayangkan pertemuannya dengan Raya, suaranya yang renyah, matanya yang bening, hidungnya yang kecil, bibir dan dagunya yang manis membuatnya tersenyum. Namun Ayas segera mengenyahkan pikirannya tentang Raya, prinsipnya, berani jatuh cinta harus berani menikahi. Namun dirinya belum merasa siap untuk menikah, banyak ketakutan yang menghinggapinya. Ayas kembali fokus pada makanan dan segera melahapnya dengan cepat.             Efek hujan-hujanan kemarin membuat Ayas demam, pada akhirnya dia terpaksa tidak masuk kerja. Setelah minum obat penurun demam yang dibeli ibunya di apotek, Ayas akhirnya tertidur. Ayahnya yang penasaran dengan sikap aneh anak laki-lakinya itu sepulangnya dari Jakarta, bertanya pada istrinya. Suami istri itu pun berdiskusi dan menyimpulkan sesuatu.             “Ayas, kemari sebentar nak,” perintah ayahnya yang tengah duduk di ruang tamu, Ayas yang baru saja menunaikan sholat maghrib menurut untuk duduk di samping ayahnya. Sedangkan ibu, Ayna dan Ainun berada di ruang tengah, sedang menonton televisi. Adik keduanya yang bernama Attar masih di masjid, sedang mengadakan rapat karang taruna.             “Nak, sepulangnya dari Jakarta, kamu sering kedapatan melamun bahkan tidak fokus seperti ada sesuatu yang kamu pikirkan, ada apa nak, ceritalah pada ayah.” Sergah ayahnya langsung kepada intinya. Ayas dengan wajah yang masih pucat hanya terdiam dan menunduk, dirinya tak kuasa untuk sekedar mengangkat mukanya pada pria yang sudah membesarkannya itu.             “Aku tidak apa-apa yah, hanya saja aku terlalu mengkhawatirkan masa depan,” kata Ayas jujur.             “Masa depan seperti apa? Masalah pekerjaan atau masalah yang lain?”             “Masalah lain? Maksud ayah?”             “Lho, kok malah balik nanya. Ya apa saja, menikah misalnya, kau kan sudah 30 tahun, pasti ada pemikiran ke arah sana,” Ayas langsung menatap wajah ayahnya, pikirannya berkecamuk, namun lidahnya tetap kelu.             “Wajar saja nak, sudah sepantasnya kau memikirkan persoalan itu, dulu ayah juga seperti itu, galau kayak kamu,” Ayahnya terkekeh mengingat masa lalu.             “Apa menurut ayah, aku sudah siap untuk menikah?” Tanya Ayas memberanikan diri.             “Laki-laki yang sudah siap menikah itu terlihat dari empat hal, yang pertama secara usia dia sudah dewasa, kedua, dia memiliki dan memahami ilmu-ilmu tentang pernikahan, ketiga, dirinya pintar mengontrol emosi dan yang terakhir adalah persiapan finansial. Menurut ayah kau sudah memiliki keempat-empatnya.”             “Benarkah yah? Tapi pekerjaanku hanya seorang pelayan di kedai kopi, gajinya saja hanya cukup untuk menghidupiku, bagaimana aku harus menghidupi anak orang lain?”             “Hahaha, kau tahu waktu ayah menikahi ibumu, ayah hanya seorang mahasiswa hampir drop out? Waktu itu ayah jatuh cinta pada ibumu namun ibumu itu hendak dijodohkan oleh orangtuanya, karena tidak mau kehilangan ibumu, ayah memberanikan diri untuk melamar ibumu, meski tidak mendapat restu dari orangtua karena masih kuliah dan belum memiliki pekerjaan, tapi ayah berhasil meluluhkan hati orangtua ayah dan orangtua ibumu. Setelah ayah menikahi ibumu, ayah memiliki tugas double sebagai suami sekaligus sebagai anak, karena pada saat itu ayah berjanji pada orangtua ayah untuk merampungkan kuliah. Ayah bekerja serabutan dari menjadi kuli bangunan, tukang parkir sampai akhirnya ayah mengikuti tes CPNS dan berhasil. Untungnya ayah memiliki istri yang sabar, masa-masa sulit di dalam pernikahan itu adalah sesuatu yang wajar. Ayah yakin kau pasti bisa menjadi suami yang bertanggung jawab, meskipun belum memiliki penghasilan tetap, tapi yang terpenting adalah berusaha untuk tetap berpenghasilan. Jangan takut menikah nak.” Ayas merasa takjub dengan penuturan ayahnya, hatinya sedikit merasa plong.             “Ngomong-ngomong siapa wanita yang sudah membuatmu seperti ini?” Goda ayah. Ayas hanya menunduk malu, dia juga masih meraba-raba hatinya. Obrolan santai dengan ayahnya membuat Ayas merasa percaya diri, dia juga memberanikan diri bercerita tentang Raya, kebingungannya, ketakutannya dan perasaan-perasaannya yang lain. Beban Ayas yang selama ini dia pendam, terangkat sudah, berkat ayahnya. Tapi baginya masih ada satu hal yang harus Ayas tanyakan pada dirinya sendiri, apakah dia yakin bahwa dia jatuh cinta pada Raya?                                                                                             ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD