Sore hari, Ayas datang untuk menjemput Raya pulang, orangtuanya tidak tahu menahu masalah rumah tangga yang tengah menimpa putrinya itu, sehingga mereka menyambut baik kedatangan menantunya. Sedangkan Raya acuh tak acuh dengan kedatangan suaminya, dirinya justru berharap Ayas tidak usah menjemputnya lagi. Dirinya sudah mati rasa pada suaminya, apalagi saat memakamkan anaknya, Ayas tak meneteskan air mata sedikitpun, hal itu yang membuat Raya semakin membenci suaminya. Agar orangtuanya tidak curiga, Raya bersedia untuk pulang meskipun hatinya berat, karena dirinya sebenarnya tidak ingin melihat wajah suaminya itu. Sesampainya di rumah, Raya dan Ayas tidak berbicara satu sama lain, selama di perjalanan pulangpun mereka hanya diam, larut dalam pikirannya masing-masing

