Reza masuk ke apartemennya yang mewah yang berada di kawasan elit pusat kota. Dia melempar jasnya ke lantai dan menghempaskan tubuh atletisnya di atas sofa empuk miliknya. Pikirannya berkecamuk memikirkan ego dan nuraninya. Reza menatap ponselnya dan membaca pesan dari psikiaternya yang isinya memintanya untuk datang. Sudah hampir tiga bulan Reza tidak pernah datang untuk segera berkonsultasi dengan psikiaternya. Dia merahasiakan kondisinya dari siapapun kecuali kepada ibunya, karena ibunya itu tahu ada kelainan di dalam diri putranya itu sejak satu tahun yang lalu. Ibunya yang tadinya tidak terlalu peduli pada anak-anaknya itu mendadak merasa bersalah setelah putra satu-satunya itu mengidap mental illness. Barulah Reza bersikap terbuka pada sang ibu mengenai apa yang dialaminy

