Dari miliaran manusia, kenapa harus kamu orangnya?
Ruang makan terasa hening. Hanya suara sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring. Fafa makan dengan sangat pelan. Dia terus memaksa mulutnya untuk mengunyah walaupun sebenarnya dia tidak nafsu makan. Namun untuk menghargai masakan mertuanya dia terus memakan itu.
Dengan segala perjuangan akhirnya Fafa telah menyelesaikan makannya. Dia membantu mertuanya untuk membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor. Sedangkan Dirga kembali fokus dengan tabletnya sepertinya dia sedang meninjau dokumen-dokumen perusahaan.
"Oh iya, Fa kamu belum kenalan sama cowok tampan ini ya." Kata Ria dengan tersenyum.
Fafa hanya menampilkan wajah datarnya. Dia sudah kenal bahkan sangat kenal dengan cowok itu. Namun dia juga penasaran apa hubungan cowok itu dengan mertuanya.
"Fa, ini anak bungsu Mama yang artinya dia adik ipar kamu." Kata Ria memperkenalkan.
Terkejut? Pasti!
Namun Fafa menyembunyikan keterkejutannya itu.
"Dia tinggal dengan Papanya jadi kami jarang berkumpul. Saat Abangnya menikah dulu dia lagi ada di Singapura ada urusan pekerjaan." Kata Ria menjelaskan. Dia seperti tahu apa yang dipikirkan oleh menantunya itu.
Fafa hanya tersenyum kecil. Sikap egois laki-laki itu masih sama seperti dulu. Dia hanya memikirkan urusannya sendiri.
"Kalian kenalan dulu dong." Kata Ria sambil menyodorkan tangan Fafa kepada Dirga.
"Kami sudah saling kenal, Ma." Jawab Dirga dengan dingin.
Fafa segera menarik tangannya. Dia menundukkan kepalanya sambil memasang wajah tidak suka. Untuk apa Dirga mengatakan hal itu. Lebih baik mereka pura-pura tidak dan setelah itu mereka akan jarang berhubungan lagi.
"Loh kapan?" tanya Ria kaget. Pasalnya mereka baru pertama ini bertemu lantas kapan mereka saling berkenalan.
"Kami dulu satu sekolah." Jawab Dirga lagi seperti tidak ada masalah. Ya, dia merasa memang tidak pernah ada masalah dengan Fafa.
"Ohh kalian pernah jadi teman dan sekarang kalian jadi saudara." Kata Ria sambil tersenyum.
"Fa, adekmu ini mulai minggu depan pindah kerja di cabang sini jadi mungkin kalian akan sering berinteraksi." Kata Ria lembut. Dia tahu pasti hubungan Fafa dan Dirga akan canggung walaupun mereka pernah menjadi teman namun sudah lama tidak bertemu pasti akan ada yang berbeda. Di tambah hubungan mereka yang sekarang berubah jadi saudara.
"Iya, Ma." Jawab Fafa singkat.
"Oh iya untuk beberapa bulan ini kan Mama akan tinggal di sini nemenin kamu, apakah kamu mengizinkan Dirga tinggal di sini juga sampai dia menemukan tempat tinggal yang nyaman?" tanya Ria pelan. Walaupun rumah ini dibeli oleh putranya namun dia rasa Fafa lebih berhak daripada dia.
Fafa diam saja. Dia tidak menyangka jika mertuanya berpikiran seperti itu. Apa yang akan terjadi setelah ini ketika Dirga tinggal di rumah ini. Itu artinya dia dan Dirga akan bertemu setiap hari dan sedikit banyak mereka akan mulai berinteraksi lagi.
Dirga yang melihat raut wajah malas dari Fafa tahu jika wanita itu enggan menerimanya untuk tinggal di sini. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita itu namun dia merasa kehadirannya di sini ditolak oleh Fafa. Hubungan yang dulu dekat kini berganti asing. Fafa menganggap tidak pernah mengenalnya sebelumnya.
"Nggak perlu, Ma. Dirga bisa cari kontrakan kok." Jawab Dirga memutuskan. Dia tidak ingin mempersulit posisi Fafa. Dia tahu jika Fafa tidak ingin dia tinggal di rumah ini namun Fafa merasa tidak enak jika harus menolak.
"Loh kenapa? Kamu baru bertemu sama Mama dan kamu juga baru mengenal kakak iparmu, lagi pula di rumah ini hanya ada perempuan saja akan lebih baik jika ada 1 laki-laki di rumah ini." Kata Ria yang seperti tidak tahu situasi Fafa.
"Dirga sudah terbiasa hidup sendiri, akan aneh jika tiba-tiba Dirga hidup bersama orang lain. Lagipula Dirga akan sering-sering ngunjungin Mama disini." Kata Dirga beralasan. Sebenarnya dia juga ingin tinggal di rumah ini. Karena apa yang dikatakan oleh Mamanya benar.
"Tapi, Nak.."
"Dia kerja di perusahaan mana, Ma? tanya Fafa tiba-tiba memotong ucapan mertuanya.
"PT Aditama Media." Jawab Ria singkat.
"Di belakang kantor itu ada perumahan sederhana mungkin kalo mau cari ada yang di sewakan. Jaraknya jaga nggak jauh dari sini mungkin sekitar 15 menit." Kata Fafa dengan cepat. Dia memberikan gambaran untuk Dirga agar semakin yakin untuk menyewa saja.
Ria hanya bisa diam. Keputusan anaknya untuk tinggal sendiri ditambah ucapan menantunya yang tidak meminta Dirga tinggal di sini membuat dia hanya bisa diam.
"Makasih infonya besok aku coba cari." Kata Dirga sambil menyunggingkan senyum.
Fafa yang melihat senyum itu menjadi muak. Pasalnya itu adalah senyum favoritnya dulu namun sekarang bagaikan racun yang siap membunuh Fafa.
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Tapi kamu harus janji untuk sering-sering ngunjungin Mama dan harus sigap membantu kakak ipar kamu kalo lagi butuh. Orang yang hamil tua tidak bisa di tinggal sendirian, Dir." Kata Ria memberikan pesan untuk putranya itu.
"Iya, Ma. Dirga janji akan sering kesini. Doain aja Dirga nggak di tugaskan keluar kota terus." Kata Dirga terkekeh pelan.
"Iya-iya anakku." Jawab Ria sambil mengelus pipi Putranya.
Melihat Dirga yang tumbuh baik membuat dia menyesal kenapa dulu tidak berjuang untuk mengambil semua hak asuh anaknya. Dia malah mengambil salah satu anaknya dan satu anaknya lagi dibawa oleh mantan suaminya. Namun kini dia bersyukur karena Dirga yang dewasa sudah mau menerimanya kembali. Kebencian Dirga padanya berangsur-angsur luntur. Kini dia berjanji akan mengurus Dirga dengan seluruh kasih sayang. Ya, karena memang hanya Dirga anak yang dia miliki saat ini.
***
Fafa duduk di teras rumah dengan melamun. Entah mengapa sekarang dia sering sekali melamun. Cuaca sore hari yang enak untuk bersantai membuat Fafa memilih menikmatinya di kursi teras. Perumahan yang privat membuat jalanan sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat.
Sebuah mobil sedan berwarna putih memasuki pelataran. Fafa tersadar dari lamunannya ketika Dirga keluar dari bangku sopir. Di tangannya menenteng plastik hitam entah apa isinya. Laki-laki itu berjalan pelan memasuki rumah. Dengan sebelumnya dia mendekati Fafa terlebih dahulu.
"Mau cilok?" tanya Dirga pelan.
Fafa menggelengkan kepalanya pelan. Dia lantas bangkit dari duduknya dan berjalan masuk. Melewati mertuanya yang sedang menelvon seseorang di ruang tamu tanpa senyum dan ucapan apapun. Fafa kembali mengurung diri di kamar.
Dirga mendesah cukup keras. Entah ini penolakan yang keberapa kali yang dia terima. Fafa seakan-akan benar-benar ingin menjauh dari dirinya. Setiap kali dia mendekat Fafa seperti risih.
"Sore, Ma." Sapa Dirga dengan tersenyum.
"Dir, kamu ketemu Fafa di depan tadi?" tanya Ria dengan raut wajah kuatir.
Dirga menganggukkan kepalanya pelan. "Aku tawarin cilok tapi dia menggeleng dan langsung masuk." Jawab Dirga sambil menunjukkan plastik hitam berisi cilok itu.
"Mama bingung gimana caranya membuat Fafa tersenyum lagi. Dia anaknya ceria dan murah senyum lho, Dir." Kata Ria bercerita. Dia merasakan perubahan sikap Fafa. Semenjak ditinggal pergi suaminya menantunya itu berubah menjadi murung.
"Dirga tau." Jawab Dirga singkat. Ya, dia sangat tau bagaimana kepribadian Fafa.
"Mama ingin ajak dia liburan tapi dia menolak." Kata Ria dengan raut wajah sedih.
"Ma, Fafa itu suka sama alam bagaimana kalau kita bikin camp kecil-kecilan di samping rumah?" tiba-tiba saja ide muncul di kepala Dirga. Dia ingat sekali jika Fafa menyukai gunung dan tenda. Dulu Fafa suka mengajaknya untuk mendaki namun selalu dia tolak dengan alasan capek lah, sibuk lah, nggak suka dingin lah dan lain sebagainya.
Ria tampak menimbang-nimbang ide putra bungsunya itu. Dia baru tahu jika menantunya ini menyukai alam. Selama jadi menantunya wanita itu lebih suka di rumah dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Mungkin karena itu bentuk baktinya sebagai seorang istri kepada suami.
"Kita bikin pesta barbeque seperti itu?" tanya Ria.
"Bukan. Itu terlalu ramai. Aneh ma dia baru kehilangan suaminya masak kita siapkan pesta barbeque." Jawab Dirga. "Kita bikin tenda saja dan api unggun di samping rumah. Bikin seakan-akan kita sedang di gunung." Lanjut Dirga.
"Ya sudah, Mama ikut aja ide kamu. Kamu siapkan semuanya ya." Kata Ria pasrah kepada Dirga.
"Siap, Ma." Jawab Dirga dengan semangat.