"Hahaha, bisa aja Gan." Riza berusaha tertawa yang sebenarnya terdengar canggung, tapi cowok itu berusaha bersikap sebagaimana mestinya. Ia tidak boleh menunjukan suatu keanehan di hadapan Riza, hingga cowok itu tau bahwa dirinya menyukai Thella. Bisa bisa malah membuatnya menjadi ribut dengan Dirgan, Riza tidak mau itu terjadi dan nanti malah menyeret kecanggungan juga dengan Thella. Ia akan mengusahakan bahwa hubungan mereka akan berlangsung dengan damai meski harus mengorbankan perasaannya sendiri sehingga Riza harus kuat mata dan hati setiap kali melihat kebersamaan Dirgan dan Riza yang akan terlihat jelas di pandangannya.
Riza sampai berpikir, bagaimana ya cara menjauh dari mereka berdua? Apa Riza harus mengajukan pindah kelas ke tata usaha, atau bahkan ia harus pindah sekolah? Atau Riza harus tidak naik kelas agar tidak perlu satu angkatan dengan mereka? Baik lah , semakin lama bayangan Riza semakin aneh aneh saja. Hubungan mereka berdua benar benar membuat posisi Riza semakin serba salah. Ia merutuki, kenapa sih dari sekian banyak cewek yang ada di sekolahnya, yang banyak juga yang lebih cantik dari Thella – meski di mata Riza kecantikan Thella sungguh tiada dua, sebab Riza memang hanya melihat ke arah Thella – Dirgan justru harus menyukai Thella? Padahal, barisan cewek yang naksir Dirgan itu banyak banget. Dari mulai kakak kelas, adik kelas, teman seangkatan, bahkan anak anak di kelas pun ada yang naksir Dirgan. Kenapa Dirgan harus sukanya sama Thella? Kenapa?
Riza terus memprotes tentang perasaan Dirgan yang berada di luar kuasanya itu, perasaan yang memang tidak bisa di atur sebab sudah dengan sendirinya terlahir begitu. Jika memang perasaan bisa di atur, pasti Riza tidak akan repot repot akan mengatur perasaan Dirgan, lebih baik ia mengatur perasaannya sendiri untuk berhenti mencintai Thella agar dirinya tak lagi tersiksa terus menerus hingga detik ini dan masih belum berujung lantaran tambatan hati yang justur bersama dengan teman sendiri. Sudah pasti Riza akan mengatur perasaannya sendiri untuk tidak panas dan emosi setiap kali melihat Dirgan bersam thella. Riza juga akan mengatur perasaannya agar bisa bersikap biasa saja di wajahnya juga di hatinya, tidak munafik seperti ini. Tersenyum di hadapan mereka berdua, tapi dalam hati terus merutuki dan mengeluhkan segala sikap antara Dirgan dan Thella yang tertangkap indera penglihatannya.
Sepertinya memang tidak ada jalan keluar lain, selain harus bersabar menghadapi segala pemandangan ini yang entah kapan akan berakhir. Riza harus menabahkan hati, mempertebal iman, dan banyak banyak menguatkan diri sendiri untuk situasi yang tidak mampu ia prediksi ini. Tapi jika ia menemukan alasan untuk menghindari mereka berdua, sudah pasti Riza akan lebih memilih hal itu dibandingkan harus berkutat dengan kemalangan hatinya yang tiada bermuara ini. Menarik napas dan mengeluarkan napas secara perlahan merupakan cara Riza agar bisa tetap waras dan menahan suasana hatinya yang sesungguhnya akan meledak ledak. Riza mampu melalui semua ini meski itu berarti menggadaikan kewarasannya, sebab dalam kondisi waras Riza tidak bisa menerima hal yang jelas jelas menyakiti hatinya ini. Riza menginginkan Thella bersamanya, bukan malah melihat Thella bersama sahabatnya. Tapi yang lebih bodoh lagi, justru Riza yang membantu mereka jadi bersama. Riza jadi bingung setiap kali ingin marah pada dua sahabatnya itu.
"Ehh mending ni malem kita ngobrol-ngobrol aja yuk.." ajak Dirgan yang segera memecah keheningan di antara mereka bertiga yang tiba tiba saja tercipta, yang di sebabkan oleh Riza yang sibuk berkutat dengan pikirannya, memikirkan segala macam kemungkinan yang tiada berujung dan tak jelas arahnya ke mana. Ia bahkan sampai melupakan keberadaan Dirgan di sana yang terlihat kebingungan mencari pembahasan ketika mereka bertiga sudah berkumpul begini. Hingga kalimat random itu tercetus begitu saja, mengobrol ya, padahal dari pada ngobrol ngobrol gak jelas Riza mending pulang dan absen dari panas mata melihat kebersamaan Thella dan Dirgan yang membuatnya semakin gerah saja. Memangnya Riza tidak ada agenda lain yang bisa di kerjakan apa, yang lebih menyenangkan hati, bukan memanaskan hati seperti ini.
"Jangan bilang gue di suruh ngeliatin lo berdua pacaran." ucap Riza dengan muka melas yang sangat di buat-buat. Berusaha untuk mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak mencurigakan dan dibilang bete karena terlihat jelas betapa wajahnya sangat kesal berada di tengah tengan kebersamaan mereka berdua. Riza harus telihat normal dan tidak marah meski hatinya uring uringan berkepanjangan, ia harus mengingat bagaimana sikapnya yang baik dan ramah terhadap ke dua temannya itu, meski ia berkata asal jelas konteks itu hanya bercanda.
Malangnya nasib Riza, bahkan saat kesal dan sedih ia tidak bisa menunjukan. Hanya di rumah saja Riza tampak seperti orang yang akan di cabut nyawa, bersedih sepanjang hari dan melamun terus menerus, memikirkan perandai andaian yang tidak akan terjadi. Yang jelas jelas hanya harapan semata tanpa ada usaha dan bukti sama sekali. Riza bahkan tidak berjuang untuk merealisasikan harapan tersebut, tidak seperti Dirgan yang bergerak dengan berani, maju dengan pasti untuk melangkah ke arah Thella. Bahkan meski harus meminta bantuan Riza, sikap Dirgan memang sangat berani dalam mengambil keputusan, sedangkan Riza banyak pertimbangan dan memikirkan segala hal yang kelak akan terjadi. Hasilnya kan malah keburu di langkahi orang lain, ujung ujungnya Riza hanya menyesal belakangan dan merasakan sakit hati seperti ini karena tidak terima Thella bersama orang lain yang merupakan sahabatnya sendiri.
"Hahaha, tenang aja Za, kita gak bakal bikin lo jadi obat nyamuk kok." ucap Thella dengan senyumnya. Senyum manis yang kerap kali di sukai oleh Riza atau pun Dirgan, senyum yang kerap kali menghipnotis kedua cowok itu untuk terlarut dalam keindahan paras yang dimiliki Thella, yang terasa teduh dan menenangkan. Thella memang tidak bisa diibaratkan secantik dewi atau bidadari, tapi kecantikan Thella tampak sederhana dan membuat hati merasa senang melihatnya. Wajar dan tidak berlebihan, natural dan tidak banyak macam macam, meski bukan berarti Thella tidak suka make up seperti remaja pada umumnya. Thella tetap menggunakan bedak dan liptint seperti para remaja pada umumnya kok, tapi penggunaannya tetap membuat wajah cantiknya terlihat anggun dan enak di pandang.
Begitu lah memang pandangan dari dua orang yang memuja satu wanita, yang terlihat tentu saja sang wanita canti tak bercela meski banyak juga cewek cewek yang lebih cantik dari itu. Tapi jika hati sudah tertuju pada satu arah, tentu saja mereka tak dapat mengelak banyak dan hanya mengikuti perasaannya saja. Mereka hanya dua remaja yang sedang di mabuk asmara, juga merasakan pahit manis romansa yang sebelumnya tidak terkecap karena minimnya pengalaman juga. Kini saat mereka merasakannya, terasa pahit manis hingga ke dasar hati, rasanya yang kerap kali membahagiakan, atau juga beberapa kali menyakitkan hingga tercipta perih tiada dua. Mungkin saja di masa yang akan datang akan lebih perih dari ini, tapi siapa peduli, kan yang mereka rasakan adalah detik ini bukan detik berikutnya. Kenapa harus pusing memikirkan perasaan yang belum pasti mereka rasakan?
Mereka bertiga pun terlarut dalam obrolannya. Meksi awalnya Riza tampak menolak, tapi akhirnya ia juga ikut terlarut dalam membahas segala hal yang menurut mereka seru, topik topik hangat pun di bahas, dari mulai yang ramai di sosial media sampai yang ramai seantero sekolah hingga setiap siswa rasanya tau tentang permasalahan atau pergosipan yang memang sering panas di sekolahnya. Beruntung mereka bertiga bukan termasuk dalam jajaran siswa populer sehingga segala sesuatunya tidak terlalu di sorot dan hanya menjadi pendisuksi perilaku para siswa tenar di sekolahnya itu.
Tidak terbayangkan jika mereka bertiga merupakan para siswa tenar, pasti persahabatan mereka bertiga akan menjadi sorotan. Praduga tentang hubungan Thella dan Riza yang kenal sejak SMP pun akan menimbulkan shipper shipper yang ada di kalangan siswa di sekolahnya yang terkenal heboh sendiri, belum lagi barisan pendukung Dirgan yang juga di nilai lebih berani dalam mengambil sikap dan maju selangkah dari Riza untuk meresmikan hubungannya dengan Thella. Keriuhan itu jelas akan terjadi dan membuat seisi sekolah heboh dengan pertarungan sengit yang nantinya malah akan membuat Riza, Dirgan, dan Thella ikut berjauhan karena mengikuti keinginan mereka dalam bercerai berai.
Belum lagi sekumpulan siswi yang sudah pasti akan ada, yaitu pembenci Thella karena di nilai sok canti dan di perebutkan oleh dua cowok sekaligus. Hal ini selalu ada dalam setiap kerumitan siswa populer di sekolahnya, haters katanya, yang kadang kadang kehadirannya juga cukup meresahkan dan membuat pikiran mereka yang di benci. Segala sesuatu tentang mereka akan di ulik dan di kupas secara tuntas tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Tidak terbayagng juga jika Thella harus merasakan hal itu dan membuat Thella menjadi lebih beban pikiran lagi, seolah masalahnya di rumah belum cukup banyak saja harus di tambah lagi permasalahan di sekolah yang rumit itu.
Beruntung hal itu hanya sekadar perandai andaian saja, sebab nyatanya mereka bertiga memang sama sekali tidak terkenal dan tergolong sebagai siswa yang biasa biasa saja. Mereka juga tidak berniat mencari cari masalah agar di kenal oleh siswa lain, mereka tergolong siswa yang mencari aman saja dan berangkat ke sekolah, mengerjakan tugas tugas yang di suruh guru, dan berteman sewajarnya. Segalanya memang mereka lakukan karena ingin menikmati masa remaja dengan damai tanpa ada banyak drama yang membuat mereka jadi sorotan hingga energinya justru habis dalam menanggapi permasalahan permasalahan yang sesungguhnya tidak perlu ada. Memang aneh jika harus berhadapan dengan semua itu dan hanya membuat mental mereka menjadi tidak baik dan juga tidak sehat, berurusan dengan segala hal yang menguras energi dan tenaga padahal kan tidak ada untungnya juga.
Riza bersyukur juga dirinya tidak ganteng ganteng amat, tidak pinta pintar amat, pokonya siswa yang biasa biasa aja. Meski orang tuanya cukup kaya raya, tapi karena diirnya tidak terlalu di kenal di sekolah, jadi gak ada juga yang mengulik tentang informasi seperti itu. Dirinya jadi aman dan tidak di dekati siapa siapa, males banget kan berurusan dengan orang orang yang mau berteman dengan dirinya hanya demi mendapatkan keuntungan sendiri karena Riza di nilai bermanfaat bagi dirinya. Riza juga gak mau temenan dengan orang kayak gitu. Dirgan dan Thella merupakan teman yang paling asik dan tidak membahas status sosial di antara mereka, ketiganya tetap berteman meski ada banyak perbedaan dan jurang pemisah yang terpapar secara nyata di antara ke tiganya, hal itu tidak menghalangi pertemanan mereka seolah itu bukan masalah besar. Memang bagi ke tiga remaja itu, hal tersebut sama sekali bukan masalah besar. Masalah besar itu jika bel masuk sekolah sudah berbunyi tapi mereka belum selesai menyalin pekerjaan rumah, itu baru masalah besar. Sebab nantinya mereka akn menerima hukuman yang membuat mereka kewalahan dan kelelahan lantaran harus lari keliling lapangan.
Obrolan masih terus berlanjut, kali ini mulai membahas film yang sedang ramai di putar di bioskop. Yang juga di bicarakan oleh seisi sekolah karena keseruan film tersebut yang relate dengan mereka semua. Nyaris anak satu sekolah membahas film itu bahkan mempostingnya di sosial media, para siswa yang semula tidak berniat menonton pun menjadi tertarik untuk menonton karena obrolan mereka yang membahas seputar film ini sangat seru sekali. Riza, Thella, dan Dirgan belum sempat menonton itu karena beberapa kesibukan mereka, kini mereka tampak sedang mengagendakan kapan kira kira mereka ada waktu dan sempat untuk menonton film tersebut agar tidak tertinggal juga. Sebab, Thella pun penasaran apa yang membuat film itu tampak di gandrungi para remaja seusianya.
Dari pembahasan film, mereka terus berlanjut untuk membahas hal lainnya yang tak kalah seru. Latihan untuk pensi sekolah, mengingat masa lalu saat mereka baru pertama kali bertemu sewaktu mos, percakapan awal mereka bertiga yang tampak canggung dan malu malu. Segalanya di bahas dengan di iringi canda dan tawa yang menghiasi malam ke tiga anak remaja itu, tanpa beban dan tanpa tuntutan, seolah segala masalah yang sedang membelenggu ketiganya luruh dalam lautan obrolan yang terasa menyenangkan. Riza bahkan tidak merasa terganggu dengan hubungan Thella dan Dirgan, sebab kini mereka bersikap selayaknya teman seperti biasa dan tidak mengumbar kemesraan di hadapan Riza. Mungkin Dirgan mulai sadar jika hal tersebut mengganggu Riza dan membuat cowok itu merasa tidak nyaman, karena itu lah Dirgan berhenti dengan sendirinya dan enggan mengumbar kemesraan hubungannya dengan Thella di depan Riza. Mereka tetap mengobrol selayaknya perkumpulan pertemanan biasa seperti hari hari sebelumnya, membuat segalanya menjadi tampak nyaman dan terasa luar biasa. Riza juga tidak lagi uring uringan ingin pulang karena merasa panas dan kegerahan melihat Dirgan dan Thella.
“Jadi kapan kita nonton?” tanya Thella, setelah obrolan panjang yang belum mengambil kesimpulan perihal waktu mereka yang akan menonton film tersebut. Mata cewek itu menatap pada Dirgan dan Riza secara bergantian, untuk meminta pendapat mereka berdua tentang waktu untuk mereka bisa juga menikmati film tersebut.
Riza yang bersitatap dengan Thella, seketika mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani menatap Thella secara langsung untuk belakangan ini, selagi perasaannya masih tidak karuan dan kacau begini. Maka Riza lebih memilih untuk menghindari tatapan Thella dari pada harus merasakan hatinya berkecamuk lagi. Sudah bagus vibes saat ini yang terasa lebih menyenangkan dan tidak membuat Riza merasa tidak nyaman, tapi jika menatap mata Thella tadi, seolah mengingatkan Riza pada kejadian tadi sebelum Dirgan datang. Di mana mereka berdua terlibat adu pandang yang terasa panjang, seolah detik itu waktu sedang berhenti berputar. Yang terasa hanya ada kehadiran mereka berdua, suara dari mana pun seolah tidak terdengar, pergerakan benda macam apa pun seolah terhenti. Ada ruang yang tercipta di antara mereka berdua, yang sulit di definisikan dengan hanya sebatas kata. Ada hati yang meronta untuk bisa bersama, tapi terhalang oleh jurang persahabatan tiada akhir, belum lagi keadaan mereka saat ini. Thella dan kekasihnya, Dirgan yang merupakan sahabat kekasihnya juga.
“Weekend aja kali ya?” Dirgan bersuara, memberikan pendapatnya perihal waktu nonton yang tengah mereka sepakati, setelah mempertimbangkan bahwa hari biasa mereka sudah cukup sibuk dengan sekolah dan tugas yang sering kali di berikan oleh guru. Mana sempat untuk nonton lagi yang pulangnya berpotensi malam, jadi cowok itu mengusulkan untuk waktu weekend yang terasa lebih panjang agar bisa lebih nyaman dan tidak merasa di buru buru waktu saat mereka nonton. Masalahnya, sewajarnya remaja kan sepulang nonton pasti setidaknya main dulu. Entah itu makan di restoran yang tak jauh dengan bioskop, atau jalan jalan sambil sesekali membeli keperluan jika melewati toko kebutuhan.
“Iya weekend aja deh, pulang sekolah capek, mana bau lagi seragamnya. Enak weekend lebih seger.” Riza turut berkomentar, menyetujui usul Dirgan yang mengatakan bahwa jadwal nonton mereka sebaiknya di hari weekend saja demi kepentingan bersama. Kebetulan juga akhir pekan ini mereka bertiga sama sama tidak ada kegiatan, tidak ada tugas sekolah juga yang mengharuskan mereka memakan waktu liburnya untuk mengerjakan tugas. Sebab biasanya tugas sekolah mereka sebagian besar tertulis dan untuk individu jadi jarang juga mengerjakan tugas kelompok. Lagian juga sebagian besar tugas Riza di kerjakan di sekolah, itu lah alasan mengapa Riza senang datang pagi ke sekolah, tentu saja untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya yang tidak di kerjakan di rumah, karena malas kan yaa. Di rumah enakan tidur atau main game.
“Oke deh weekend. Duh gak sabar mau nonton.” Thella tampak bersemangat membayangkan film yang akan mereka tonton itu, membayangkan adegan demi adegan yang sebelumnya ia tonton dari cuplikan film tersebut membuat cewek itu berseri ceria. Thella memang suka nonton meski ia tak sering menonton seperti anak remaja biasanya. Thella hanya menonton film jika memang sangat ingin sekali, tidak semua film yang tayang di bioskop hampir di tontonnya sebulan sekali. Ia cukup tau diri melihat keadaan finansial keluarganya, itu pun jika ingin menonton Thella harus menyisihkan uang jajannya dengan ekstra keras agar bisa terkumpul untuk membeli tiket bioskop. Apa lagi uang jajannya juga tidak seberapa kan, itu pun dapat dari dana beasiswa.
Tapi thella tetap berusaha mensyukuri segalanya, ini semua cukup kok. Ia tidak merasa kekurangan, meski sesekali mengeluh sedikit bukan karena kurang tapi karena terkadang Thella menginginkan lebih. Ia sudah cukup berdamai dengan hal itu, berarti kuncinya adalah memang Thella harus menekan keinginannya agar tidak banyak hal yang membuatnya sesak kan, perasaan cukup dan bersyukur akan membuatnya baik baik saja dan tidak merasa menderita. Tapi yaa mengeluh juga wajar sih, sebab Thella juga masih manusia biasa yang bisa kesal, marah, atau pun lelah. Hanya saja ia berusaha mengurangi porsinya agar hal tersebut tidak menjadi penyakit hati yang mendarah daging dan membuatnya hilang akal hingga melupakan hal hal yang lebih penting di banding keinginan pribadinya, sebagai contoh adalah biaya pengobatan Firda yang lebih penting untuk di perhatikan, dari pada biaya langganan untuk menonton di media streaming online yang meski tidak mahal mahal amat tapi lumayan juga, setara dengan uang jajan Thella seminggu. Jadi Thella tidak akan membuang uang untuk hal hal yang belum sepenuhnya penting meski dia ingin.
Sampai akhirnya di pertengahan Riza mendapatkan telpon. Sesaat diliriknya layar ponselnya itu tertulis jelas nama 'my sista' yang berarti Nida. Tentu saja nama itu bukan Riza yang mengetikan di ponselnya, Riza saja geli melihatnya. Ia ingin hanya menamai Nida saja tanpa ada embel embel segala macam, tapi Nida terus terusan mengganti nama kontaknya itu jika ketahuan Riza mengganti namanya lagi. Alhasil, Riza menyerah untuk memberikan nama kontak yang wajar untuk nomor ponsel Nida, di biarkannya nama yang terlihat alay itu menghiasi layar ponselnya. Meski masih terlihat menjijikan setiap kali Nida menelpon dan nama itu kembali muncul di layar ponselnya. Mungkin begitu lah cara berpikir remaja SMP yang masih menganggap hal tersebut cute alih alih menjijikan.
Tak ingin banyak berdebat dan membuang energi untuk hal yang tidak penting, maka Riza hanya pasrah saja membiarkan nama kontak tersebut tanpa pernah menggantinya lagi. Bisa di tebak, kemungkinan besar nama kontak Riza di ponsel Nida berkisar antara My Bro, atau My Brother. Atau jangan jangan My Ngab? Mengingat bahasa itu sedang ramai, yang artinya adalah Bang lalu di bolak balik sedemikian rupa menjadi Ngab. Oke, membayangkan nama kontak Riza di ponsel Nida menjadi My Ngab, membuat Riza semakin merinding jika memang benar hal itu terjadi. Semoga kadar aneh Nida belum sampai ke tahap tersebut, semoga masih dalam hal wajar, di namai kakakku aja sudah bersyukur banget meski tetap saja terdengar alay.
"halo.." ucap Riza membuka pembicaraan. Ia meminta izin sejenak dari teman temannya untuk menjauh sebentar, seraya mengangkat telepon dari Nida agar bisa menyimak ucapan adiknya itu dengan lebih jelas. Riza tak lantas keluar dari rumah Thella, hanya menjauh beberapa senti dari sana, agar menyiratkan Dirgan dan Thella untuk mengecilkan volume bicaranya agar Riza bisa mendengar suara Nida dengan jelas. Riza kini duduk di dekat pintu rumah Thella meski tidak sampai pergi keluar rumah. Cowok itu menatap jalan depan rumah Thella yang tampak masih ramai para warga bolak balik untuk melakukan keperluan mereka masing masing, dari mulai ibu ibu, bapak bapak, hingga anak anak. Semuanya tampak berlalu lalang di setiap detiknya dan selalu ada saja.
Kawasan tempat tinggal Thella ini memang termasuk kawasan padat penduduk di Jakarta, atau mungkin di Asia Tenggara? Atau di Asia? Ah, apa jangan jangan di dunia? Riza tidak tau juga sih, ia sempat mendengar kabar kabar tersebut saat membaca atau menonton tv, tapi tidak tahu pastinya kawasan ini termasuk kawasan terpadat dalam lingkup apa. Yang jelas, kawasan ini memang banyak jalan jalan kecil yang biasa di sebut g**g, serta rumah rumah antar penduduk yang menempel satu sama lain dan sangat berdekatan. Sebagian besar bangunan di sini juga dari triplek, bukan terbuat dari dinding. Jalan jalan g**g pun tergolong sempit, kecuali jalan besar di depan g**g. Hal tersebut membuat Riza atau pun Dirgan kesulitan jika sedang membawa mobil dan main ke rumah Thella. Jadi, belakangan ini mereka berusaha menyesuaikan untuk tidak bawa mobil jika ke rumah Thella karena akan kesulitan mencari parkiran. Meski pun ada di depan jalan, tapi banyak banget anak kecil bar bar. Riza atau pun Dirgan lebih khawatir jika mobil mereka di timpuk batu yang sedang mereka mainkan entah untuk apa. Dari pada mengambil risiko mobilnya akan lecet lecet, lebih baik gak usah di bawa sama sekali kan?
"KA RIZAAAA..." teriak Nida di telpon, setelah beberapa saat yang lalu Riza menyapa adiknya itu. Suara Nida yang menggelegar seolah menusuk gendang telinga Riza, sebab cowok itu menempelkan ponselnya di telinga sehingga suara Nida terdengar sangat jelas. Riza sampai menjauhkan ponselnya dari telinga, atau nyaris saja Riza ingin membuang ponsel tersebut karena khawatir dengan Nida yang bisa saja keluar dari sana, lalu akan berteriak langsung di telinganya dan menghancurkan gendang telinganya detik itu juga. Riza langsung merinding seketika membayangkan hal itu terjadi, ia benar benar tak sanggup jika itu sampai menjadi kenyataan. Suara teriakan Nida sungguh lebih horor dari hantu yang ada di film horor.
"Ehh lo tuh hoby amat sih teriak-teriak, ini di telepon Da! gak usah kayak di hutan kaleee.." ucap Riza panjang lebar namun tetap saja adiknya masih seperti itu. Entah sudah berapa kali Riza sering mengomentari sekaligus menasehati terkait kebiasaan Nida itu, tetap saja anak itu gemar teriak teriak seolah orang lain tidak mendengar suaranya. Nida memang tipikal remaja yang senang mencari perhatian, ia membutuhkan pengakuan dari berbagai pihak. Hingga sikapnya cenderung aneh agar orang sekitarnya mengakui keberadaannya, sehingga eksistensinya tetap berjalan sepanjang ia hadir dalam kehidupan setiap orang. Tanpa peduli hal tersesbut berada dalam lingkup konotasi yang baik atau pun tidak, Nida hanya butuh pengakuan dan perhatian, hal hal yang jarang ia dapatkan hingga detik ini, lantaran semua orang serasa memunggungi dan tidak pernah peduli dengan kehadirannya.