“Kenapa, Thel?” tanya Riza kebingungan karena tidak terlalu menyimak ucapan Thella. Cowok itu pun meletakan ponselnya ke atas meja untuk kemudian mengalihkan fokusnya pada Thella yang kini duduk menghadap ke belakang, tepatnya di hadapan Riza.
“Tugas lo udah selesai apa belom?” kata Thella mengulang ucapannya tadi karena Riza yang tidak mendengarnya.
“Oh, udah dong. Tadi ngerjain bareng Dirgan.” Kata Riza menjawab ucapan Thella, menjelaskan tentang tugasnya yang memang sudah selesai tadi di kerjakan bersama sama dengan Dirgan.
Thella hanya mengangguk mendengar ucapan Riza, cewek itu kembali menghadap ke depan karena merasa bel masuk sebentar lagi akan berbunyi dan guru akan datang ke kelas mereka untuk mengajar.
Sedang Riza, duduk di belakang Thella. Kini memperhatikan punggung cewek itu yang terasa jauh, padahal sosok itu begitu dekat. Mengingat kembali perihal ucapan Dirgan yang ingin menyatakan perasaannya pada Thella, membuat Riza rasanya menjadi bingung sendiri. Riza sudah menyetujui ucapan Dirgan, yang berarti ia akan membantu cowok itu dalam menyatakan perasaannya pada Thella. Namun, Riza sendiri seolah masih belum siap harus melihat Thella bersama orang lain, padahal di sisi lain Riza juga menyukai Thella sejak lama dan belum pernah di ungkapkan. Karena mengumpulkan keberanian serta keraguan dalam mengubah status persahabatan menjadi percintaan, membuat Riza tidak melangkah sama sekali dan diam di tempat hingga sekian lama dan tak kunjung usai.
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, menandakan akan dimulainya jam pelajaran. Para siswa yang tadi duduk asal di bangku entah milik siapa, tampak berlarian untuk kembali ke bangkunya masing masing sambil membawa buku tugasnya yang entah sudah selesai atau belum. Suasana kelas yang semula ramai kini menjadi hening saat seorang guru sudah terlihat dari jendela, berjalan menuju kelas mereka untuk mengisi jam pelajaran pertama dengan tugas yang tadi mereka kerjakan.
Sang guru pun mulai memasuki kelas mereka, membuat para murid segera duduk dengan rapi, dan ketua kelas pun memimpin untuk memberikan salam pada guru tersebut. Jam pelajaran pertama pun akhirnya di mulai.
***
Bel pertanda jam istirahat pertama berbunyi, membuat seisi kelas terlihat bernapas lega saat seorang guru yang ada di depan kelas, mengakhiri pelajarannya untuk hari ini. Meski itu bukan jam pelajaran terakhir, yang mana setelah istirahat masih ada pelajaran lain, tapi para siswa tetap menyukai suara bel panjang pertanda jam istirahat atau pun pulang. Setidaknya mereka dapat beristirahat sejenak, baik itu mengobrol dengan teman temannya, dengan gebetan, atau jajan sepuasnya di kantin yang ada di lantai dasar gedung sekolah ini.
Para siswa seketika keluar dari tempat duduk masing masing untuk menuju kantin dan mengisi perut mereka yang sudah kelaparan. Kelas nyaris kosong karena nyaris seluruh siswa berebut untuk keluar dari kelas agar bisa menempati kursi kantin yang selalu penuh jika tidak buru buru. Namun, beruntung sekolah ini tidak ada larangan untuk makan di kelas, membuat banyak dari mereka memilih untuk makan di dalam kelas saja alih alih berebut tempat duduk di kantin, yang biasanya di huni oleh para siswa terkenal, terutama kakak kelas. Jika mereka masih kelas sepuluh, jangan harap bisa merasakan bangku kantin yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan jumlah siswa di sekolah ini.
Thella menoleh ke belakang, tampak Riza dan Dirgan yang sudah bersiap untuk menuju kantin. Mereka jarang makan di kantin, dan memilih hanya untuk membeli makanan saja, lalu dibawa masuk ke dalam kelas. Untuk di makan di kelas tersebut karena enggan berebut tempat duduk dengan siapa pun itu. Mungkin, jika beruntung dan ada bangku kosong, tentu saja mereka tidak menolak untuk duduk di sana dari pada capek kembali ke kelas. Namun, kemungkinan tersebut sepertinya lebih sering terjadi pada jam istirahat ke dua yang mana suasana kantin menjadi lebih sepi, tidak seramai jam istirahat pertaman yang mana para siswa seolah membeludak memenuhi setiap sudut isi kantin.
“Yuk, ke kantin.” Ajak Thella yang sudah berdiri terlebih dahulu, lalu berjalan di depan yang ia pikir akan diikuti oleh Dirgan dan Riza yang tadi sudah terlihat seperti akan beranjak dari tempat duduknya.
Namun, dilihatnya Dirgan dan Riza yang masih duduk dan tampak berdiskusi. Thella yang sudah mencapai ambang pintu tak mampu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, seolah hal tersebut sangat seru untuk dibahas.
Riza yang masih duduk di sebelah Dirgan, kini tampak berbicara dengan sedikit berbisik pada Dirgan, agar Thella yang meski pun sudah menjauh tidak dapat mendengarkan pembicaraan mereka yang tentu saja bersifat sangat rahasia ini, karena menyangkut rencana pernyataan cinta Dirgan yang akan mereka agendakan itu.
"Gan gue minjem Thella bentar yah, buat rencana lo nanti." Kata Riza berbisik pada Dirgan yang berada di sebelahnya. Ia perlu berbicara dengan Thella berdua, untuk memastikan rencana ini dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dipilihnya momen istirahat ini untuk berbicara dengan Thella mengenai rencananya itu.
"Sipp.." Bisik Dirgan pula, sambil tersenyum lebar, ia sudah menyerahkan segalanya pada Riza dan mempercayai cowok itu untuk rencananya ini. Riza sudah mengenal Thella cukup lama, cowok itu pasti lebih tahu tentang Thella dan kebiasaannya, atau hal hal yang disukai Thella yang akan menjadi konsep pernyataan cintanya hari ini. Karena itu lah Dirgan begitu percaya pada Riza, urusan perasaaannya di terima atau tidak, hal tersebut tentu saja di luar kuasa Dirgan dan Riza. Setidaknya mereka sudah mengusahakan yang terbaik, biar nanti hasil baik akan mengikuti juga jika mereka memang bersungguh sungguh. Tinggal doa yang tersisa untuk bisa dilakukan Dirgan agar Thella mau menerima perasaannya itu.
"Za! Gan! Ayok! Kalian ngomongin apa sih?” panggil Thella lagi pada kedua temannya yang masih belum beranjak dari tempat duduk mereka. Karena tidak sabar, akhirnya Thella kembali berjalan ke tempat duduk mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan sampai tidak buru buru untuk ke kantin seperti biasanya.
Cewek itu mulai kembali melangkah ke arah meja Riza dan Dirgan, tapi sosok Riza buru buru berdiri sebelum Thella mencapai tempat duduknya, menarik tangan Thella untuk segera keluar dari kelas.
“Yok, Thel. Ke kantin, kan?” kata Riza seraya masih menarik tangan Thella untuk berjalan keluar, sebuah hal wajar yang memang kerap kali mereka lakukan. Skin ship seperti ini, yang ringan dan tentu saja tidak memiliki arti apa pun bagi keduanya karena menganggap hal seperti ini sudah biasa.
"Ehh, Dirgan gimana?” tanya Thella setelah mereka sampai di depan kelas dan hendak berjalan menuju kantin. Cewek itu baru menyadari bahwa Dirgan tidak ikut dengan mereka dan malah tertinggal di dalam kelas. Saat ini Thella hanya berjalan berdua dengan Riza di koridor sekolahnya, tanpa Dirgan yang ia kira mengikutinya dari belakang, ternyata tidak. Dirgan tetap di dalam kelasnya entah sedang melakukan apa.
“Dirgan katanya nitip aja, tadi dia udah nitip pangsit ke gue. Dia mau tiduran, ngantuk banget katanya dengerin guru bahasa indonesia tadi bacain cerpen.” Riza berusaha mencari alasan asal asalan, yang penting Thella percaya dan tidak curiga. Setidaknya alasannya masih masuk akal, karena memang Dirgan sering kali mengantuk saat jam pelajaran dan kepalanya kadang terlalu berat, hingga harus menjatuhkan kepala tersebut pada meja untuk bisa terlelap barang sejenak, sebelum pelajaran berikutnya akan berlanjut. Jadi, mengatakan Dirgan mengantuk jelas hal yang wajar bukan.
“Oh, iya sih gue juga ngantuk banget. Gila ya guru tadi, cerpen dibacain semua berasa di dongengin tapi gak boleh langsung tidur. Mana suaranya mendayu dayu banget kayak anak indie.” Thella menyahut sambil tertawa geli, mengingat guru bahasa indonesia tadi yang membacakan cerpen dari internet sebagai contoh untuk tugas mereka. Padahal, gak perlu dibacain juga, mereka semua memiliki smart phone dan tentu saja bisa buka sendiri, atau mencari contoh cerita lain kan juga bisa. Dibacakan seperti itu jelas saja membuat kantuk berjamaah hingga membuat para siswa berkali kali menguap dan mati matian menahan diri untuk tidak menempelkan kepalanya pada meja, yang kemudian memejamkan matanya yang terasa begitu berat untuk terbuka, karena terasa di tiup tiup angin yang entah datang dari mana.
“Iya kaan, untung aja gue laper banget. Kalo gak mah, males banget ke kantin.” Riza memegangi perutnya seraya menunjukan bahwa perutnya sudah berbunyi sejak jam pelajaran tadi dan para cacing yang ada di dalamnya seolah sedang mengadakan festival hingga membuat suara suara gaduh yang terdengar kriuk kriuk di perutnya.
Thella tertawa saat mendengar ucapan Riza yang hiperbolis saat mengibaratkan para cacing yang mengadakan festival itu. Cewek itu tampak santai berjalan bersama Riza dan asik mengobrol tentang segalanya, dari mulai pelajaran sekolah, atau tipe tipe teman yang ada di kelasnya, atau bahkan perkara uang kas yang sering kali di hindari para siswa karena merasa tidak berguna. Mereka sudah membayar uang spp, kenapa harus bayar uang kas yang tidak penting itu. Padahal kalo emang ada keperluan di dalam kelas kan bisa membuat surat tagihan saja yang nantinya akan di bayarkan oleh orang tua mereka. Kalo sistem uang kas seperti ini kan mereka jadi harus memotong uang jajannya kan demi menyisihkan buat uang kas yang tidak penting itu.
Sesampainya di kantin, mereka segera menuju warung yang menjual makanan yang mereka inginkan. Riza segera memesan pangsit untuk Dirgan yang memang memesan makanan tersebut, sedang Riza sendiri memilih untuk beli batagor karena dirasa lebih menggugah selera. Sedangkan Thella memilih untuk membeli nasi di aneka warteg yang ada di sekolahnya ini, lebih murah dan mengenyangkan dibanding makanan lain yang harganya di bandrol lumayan mahal.
Thella sudah selesai membeli nasinya, sedangkan Riza masih tampak antre pada warung yang menjual pangsit untuk Dirgan, yang tentu saja dikeluhkan oleh Riza karena Dirgan yang nitip malah makanan Dirgan yang lama matang dan antre sekali. Seharusnya Dirgan menitip makanan yang lebih mudah dan tidak perlu antre saja, jangan malah nyusahin orang seperti ini. Niat hati hanya ingin membantu Dirgan, Riza menjadi banyak mengeluh karena cowok itu.
Namun, kesempatan ini segera digunakan Riza untuk berbicara pada Thella mengenai rencananya itu. Tadi, Riza sudah sempat berpikir apa yang akan ia lakukan demi melancarakan rencana pernyataan cinta Dirgan pada Thella yang akan berlangsung krusial. Meski terasa berat hati harus menyaksikan hal tersebut, tapi Riza sudah berjanji pada Dirgan, ia akan membantu sahabatnya itu. Lagi pula, siapa tau Thella bisa bahagia bersama Dirgan. Selama ini Thella tampak nyaman dalam berteman dengan Dirgan, mengubah sedikit status di antara mereka berdua tampak tidak begitu sulit untuk dijalankan. Lagi pula, seandainya putus pun mereka berdua belum terlalu akrab banget, tidak seperti Riza yang sudah mengenal Thella sejak SMP itu.