- 24 -

1485 Words
Pukul tiga kurang sepuluh menit, akhirnya motor yang dikendarai Riza datang juga. Kendaraan tersebut berhenti tepat di depan rumahnya, sehingga Thella yang sudah menunggu sejak tadi bisa langsung naik ke atas boncengan. Lalu motor tersebut tak begitu lama berhenti di depan rumahnya, untuk kembali melaju menuju tempat yang sudah mereka berdua bicarakan. Taman di dekat SMP nya dulu, yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggal Thella. Menempuh perjalanan sekitar lima belas menit dengan menggunakan sepeda motor, akhirnya Thella dan Riza sampai juga di taman tersebut. Taman ini masih tampak asri dan sejuk, serta tidak banyak yang berkunjung. Thella sendiri tidak mengerti mengapa taman seindah ini jarang ada yang mengunjunginya? Apa mereka pikir taman ini dibuat hanya untuk penghijauan tanpa bisa digunakan fasilitasnya? Atau memang warga ibu kota yang sudah tidak terlalu menyukai bermain di taman, lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di mall atau pusat perbelanjaan lainnya? Entahlah, Thella tidak benar benar mengetahui yang pastinya. Yang jelas, Thella menyukai taman ini karena suasanya yang asri, sejuk, serta menenangkan. Mengunjungi kembali taman ini membuatnya merasa hangat dan berdebar, antara tidak menyangka karena bisa kembali ke tempat favoritnya ini yang nyaris terlupakan sejak dirinya memasuki jenjang Pendidikan sekolah menengah atas. “Masih kayak dulu ya, Za tempatnya. Sejuk dan nenangin banget duh.” Kata Thella yang masih terlarut dalam euphoria kenangan masa lalunya dengan tempat ini yang menyimpan banyak cerita yang pernah terjadi di tempat ini. Masa SMP nya yang menjadi lebih hangat sejak mengetahui tempat ini, hingga nyaris setiap pulang sekolah Thella selalu mengunjungi tempat ini untuk membuat isi kepalanya menjadi sejuk. Seolah ada energi yang di transfer dari tempat ini untuk dirinya, sehingga Thella bisa merasakan energi tersebut dan menjadi tenang setiap kali habis dari tempat ini yang membuat perasaannya menjadi lebih baik. Maka dari itu Thella begitu menyukai tempat yang menyimpan banyak makna untuknya ini. “Iya, Thel. Masih sepi juga kayak dulu. Kenapa ya? Taman ini tuh gak kelihatan apa gimana sih?” Riza menyahuti ucapan Thella untuk membahas perihal taman ini yang masih juga sepi meski waktu sudah terlewat beberapa tahun, tapi masih belum banyak orang orang yang mau menikmati fasilitas public yang dibuat oleh pemerintah ini, agar para warga dapat merasakannya untuk menikmati keindahan dan kesejukan taman di tengah hiruk pikuk serta polusi yang bertebaran di mana mana. Tempat ini padahal begitu cocok karena memiliki banyak tanamana yang menghasilkan oksigen dan udara bersih untuk mereka bernapas. Namun tetap saja, tak banyak orang yang repot repot peduli dengan hal tersebut dan memilih sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Thella mengambil tempat duduk pada sebuah kursi panjang yang ada di taman ini, sambil menghirup udara yang sejuk di tempat ini. Ia menatap sekelilingnya, suasana taman ini yang terawat meski jarang terjamah oleh pengunjung. Mungkin Ia akan terus menyukai tempat ini meski tak banyak orang yang mengethui perihal tempat ini, sehingga membuat taman ini menjadi tetap asri dan sejuk, serta selalu memiliki tempat di hatinya sendiri dalam memaknai keberadaan taman tersebut. Thella menjadi seperti seorang penjelajah samudera yang berhasil menemukan satu pulau berisi rempah rempa berkualitas tinggi seperti era colonial dulu. Riza juga ikut duduk terlebih dahulu di samping Thella, menikmati udara sejuk yang ada di sini, serta wajah berseri Thella yang tampak begitu jelas menggambarkan bahwa cewek itu tengah bahagia. Riza nyaris hafal setiap ekspresi Thella, dari mulai cewek itu senang, haru, kesal, sedih, terkejut, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut karena Riza yang sudah mengenal Thella begitu lama, sehingga dapat memahami setiap ekspresi yang dikeluarkan Thella. “Kok lo tiba tiba ngajak ke sini sih, Za? Dalam rangka apa deh?” Thella berusaha untuk memancing Riza yang sejak tadi tidak bersuara dan memilih diam saja, tapi Thella jelas menyadarinya saat cowok itu menatapnya dengan seksama, seolah enggan mengalihkan tatapannya dari Thella. Jika begini, bagaimana Thella tidak berpikir yang aneh aneh kan, seluruh sikap Riza seolah menjelaskan segalanya, jadi Thella sama sekali tidak salah paham bukan? Ia yakin, Riza juga menyukainya. “Tiba tiba pengen aja.” Jawab Riza sekenangnya, berusaha agara Thella tidak curiga dengan rencananya. Meski mengangguk, tapi Riza dapat melihat ekspresi tidak puas di wajah Thella, seolah jawaban tersebut bukan lah jawaban yang ingin di dengar dan di tunggunya. Riza membiarkan Thella untuk sejenak terlarut dalam dunia cewek itu bersama tempat ini, sehingga Riza memiliki kesempatan untuk mengirimkan pesan pada Dirgan yang memiliki kepentingan hari ini. Selagi Thella terlarut untuk melihat ke segala arah, Riza pun mengeluarkan ponselnya lalu mengetikan pesan yang memberi tahu cowok itu bahwa Thella sudah siap, sehingga dirinya juga bisa bersiap untuk menyiapkan rencana mereka. Riza : Thella udah sama gue nih di taman, lo udah sampe mana? Kalo masih jauh gue bakal usaha buat nahan Thella di sini dulu biar gak bosen Riza : Tapi cepetan bales ini dulu, gue gak enak kalo sampe nahan lama lama Riza : Woy! Bales dong Gan. Lo niat gak sih? Atau mau gue black list lagi hah? Dirgan : Sip. Thank you yaa, Za. Ini gue udah nyampe kok, tinggal jalan kaki aja. Kan lo bilang supaya parkirnya jauhan dikit dari tempat lo parkir. Riza : Oke, cepetan yak ke sini. Riza : Inget, main gitar pake laguku. Karena itu impian Thella dari SMP buat denger pernyataan cinta dari laguku. “Eh, Za! Ada tukang rujak tuh! Beli yuk!” kata Thella seraya menunjuk gerobak tukang rujak yang melintas di luar taman. Cewek itu segera berdiri untuk berlari, mengejar tukang rujak yang terlihat tidak akan berhenti jika dirinya tidak mengejar dan memberikan sinyal bahwa ia mau beli rujak. Sebab Kawasan ini memang tidak ada orang, untuk apa juga tukang rujak berhenti di dekatnya. Jadi, Thella harus menunjukan ketertarikannya untuk membeli barang dagangan tersebut, hingga membuatnya berlarian sambil berteriak. “Abaaang! Rujaaak!” teriak Thella seraya terus berlari mengejar tukang rujak tersebut. Riza yang melihat tingkah Thella itu hanya menggelengkan kepalanya seraya tidak habis pikir karena sikap Thella yang terlihat menggemaskan. Namun, tak ayal cowok itu turut berdiri untuk mengikuti langkah Thella mengejar tukang rujak tersebut yang sudah berhasil berhenti di dekat taman, sehingga Thella tidak perlu berlarian lagi untuk mengejarnya. Cewek itu kini sudah tampak menjelaskan buah buahan apa saja yang diinginkan dirinya, sebab tidak semua buah disukai Thella. Riza hafal betul bahwa Thella hanya akan memilih buah yang disukainya saja, karena khawatir merasa mubazir apa bila tidak ada yang makan karena dirinya tidak doyan. “Lo mau buah apa, Za?” tanya Thella saat Riza sampai di sebelahnya, ikut memperhatikan aneka buah di dalam aquarium yang dibawa tukang rujak tersebut. Riza tampak berpikir sejenak, untuk mempertimbangkan buah apa yang diinginkannya. Namun, ia tampak tidak begitu berselera untuk memesan satu porsi rujak untuk dirinya seorang, dilihatnya rujak milik Thella yang sudah berisi banyak buah, sehingga membuatnya enggan untuk memilih buah lainnya. “Barengan sama lo aja, Thel. Gue gak terlalu pengen juga sih, tapi kalo minta punya lo ya pengen hehe.” Kata Riza seraya tertawa kecil sambil menunjuk rujak milik Thella yang sudah di bungkus. Cowok itu segera mengeluarkan uangnya sebelum Thella yang membayar, lalu membawa kantong plastic hitam berisi rujak itu untu ditentengnya sampai tempat duduk yang mereka tempati tadi. Di jalan, Thella sempat memprotes dengan aksi Riza yang membayarkan rujak untuknya itu, seolah ia tidak mampu beli sendiri saja. Riza tahu pasti bahwa Thella tidak mau dikasihani, ia berusaha untuk terlihat mampu dan tidak mau menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, Thella tampak tidak suka karena sikap Riza yang tadi membayarkan rujak miliknya, alih alih dirinya sendiri yang membayar karena jelas jelas Thella yang menginginkannya, bukan Riza. Bahkan Riza sendiri memilih untuk tidak membeli kan karena tidak begitu ingin juga, malah berakhir dengan membayarkan rujak milik Thella. “Ya, gak papa, Thel. Kan gue gak beli, jadi anggep aja itu patungan. Kan kita makannya bareng bareng.” Kata Riza berusaha untuk tidak membuat Thella terus membahas hal tersebut karena masala bayar membayar tadi. Ia tahu Thella memang tidak menyukai hal seperti ini, tapi ia tulus membayarkan rujak tadi bukan karena merasa kasihan pada Thella. “Kan gue juga yang ngajak lo ke sini, masa lo jajan sendiri sih.” Katanya lagi berusaha untuk membuat Thella tidak merasa tidak nyaman, dengan menghibur diri cewek itu dengan berbagai kata katanya. Ia hanya memutar ucapan ucapannya agar semata Thella tidak begitu kesal dengan sikapnya tadi. Sesampainya mereka di bangku taman yang tadi mereka tempati, Thella segera membuka bungkus rujak tersebut. Matanya berbinar saat menangkap aneka buah segar yang terasa menggiurkan, dipadu dengan sambal petis andalan rujak buah dingin yang tak kalah nikmat. Thella segera mengambil lidi tusuk untuk mengambil potongan buah yang di inginkannya. Kemudian Thella mengambil potongan buah pepaya yang ia colek dengan sambil petis kesukaannya itu, lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya. Cewek itu berdecak, merasakan kenikmatan dari makanan yang dimakannya ini. Makan rujak buah dingin di siang hari, saat mengangkat kepalanya, duduk di hadapannya sang pujaan hati yang makan buah bersama dengannya juga. Thella tersenyum lebar, membayangkan hal hal manis yang mungkin akan terjadi bersama Riza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD