- 16 -

660 Words
"Kagak ada, Gan?" Ucap Riza dengan tampang inocent nya, bercandaan basi yang tetap sering digunakan Riza meski tahu tidak terlalu lucu tapi cowok itu tampak menikmatinya. "Bodoamat, Anjir!" ucap Dirgan sambil menjitak kepala Riza. Merasa di permainkan oleh Riza yang malah menjawabnya dengan becanda, tapi tak ayal Dirgan tetap tertawa kecil melihat tingkah Riza yang selalu di luar nalar dan tidak terpikirkan. Ia bahkan tidak mengerti mengapa bisa cocok berteman dengan Riza, padahal sebelumnya teman teman Dirgan sangat waras. Tentu saja tidak seperti Riza yang jauh dari kata waras karena lebih gemas bercanda. "Sakit, g****k!" balas Riza yang tidak terima kepalanya di toyor oleh Dirgan dan balas menoyor kepala Dirgan agar merasa impas, meski aksi tersebut berhasil dihindari Dirgan dengan sigap sehingga tangan Riza hanya mengambang di udara. Untuk beberapa saat keduanya tampak berdebat, dengan tangan Riza yang masih terus berusaha menggapai kepala Dirgan untuk membalas toyoran tadi. Juga berkali kali Dirgan selalu bisa menghindarinya karena mampu menbaca gerakan tangan Dirgan yang hendak mengarah ke mana. Dirgan benar benar tidak pandai bela diri, sekadar membalas toyoran saja Dirgan tidak bisa tepat sasaran. Hingga kejadian tersebut terus belangsung sampai mereka berdua kelelahan dan kembali teringat akan tugas yang sedang dikerjakan mereka saat itu, hingga mereka kembali menyalin sontekan lagi dengan tenang tanpa menyelesaian masalah aksi saling toyor yang tadi belum selesai karena Dirgan yang selalu berhasil menghindar. Beberapa saat berlalu, mereka masih tampak fokus mengerjakan tugasnya tanpa berbicara, mengingat bel masuk kelas yang semakin dekat sedangkan tugas yang mereka kerjakan masih belum selesai. Meski tidak pintar pintar amat, mereka berdua berusaha untuk tidak mencari masalah dengan guru yang mengajar, meski malas sih. Tapi yah minimal bisa melihat tugas punya teman kan, yang penting gak di omelin. Urusan benar salah itu belakangan, biasanya mereka mencontek dengan Thella, tapi cewek itu masih belum datang juga entah kenapa. Lima menit sebelum bel masuk berbunyi, akhirnya keduanya selesai mengerjakan tugas tersebut. Mereka berdua merenggangkan tangannya karena merasa kelelahan setelah menulis dua halaman tugas tadi. Dikembalikannya buku tersebut pada teman yang duduk di bangku belakang mereka, juga tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan pinjaman buku tugas untuk di contekkan. Thella masih belum datang, pesan mereka juga tidak dibalas, mungkin cewek itu sedang di jalan. Beberapa kali Thella memang suka terlambat karena harus mengurus Firda yang tiba tiba penyakitnya kumat, mungkin kali ini juga begitu, mengingat kemarin kondisi Firda tidak begitu baik saat mereka berkunjung ke rumah Thella. "Za, kapan yah moment yang tepat buat gue nembak Thella?" Tanya Dirgan yang tiba tiba membahas perihal Thella. Bukan lagi rahasia jika Dirgan memang menyukai Thella, yang mana diketahui oleh Riza yang merupakan tempat Dirga bercerita tentang cewek itu. Entah sejak kapan, yang jelas Dirgan langsung bercerita kepadanya saat merasa tertarik dengan Thella. Bersahabat dengan cewek itu membuat perasaannya bahagia, karena bisa dekat dengan orang yang dicintainya. Dirgan menceritakan seribu satu alasan, mengapa ia bisa menyukai Thella. Hanya saja cowok itu belum mengatakannya, karena menunggu waktu yang tepat yang entah kapan datangnya. Juga karena Riza yang menjadi penasihatnya, berkali kali mengulur waktu Dirgan, dan mengatakan belu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Thella karena banyak alasan. Dari mulai kondisi kesehatan Firda, Thella yang harus fokus dengan pelajaran, permasalahan keluarga Thella yang terlilit masalah ekonomi membuatnya tidak bisa menikmati masa masa seperti itu, dan masih banyak alasan lainnya yang dibuat Riza hanya agar mengulur waktunya. Segalanya dilakukan Riza, karena ketidakmampuannya untuk seperti Dirgan, yang mau dan berani mengakui perasaannya, serta memiliki keinginan untuk bergerak ke arah lain. Tidak sepertinya. Bisa di katakan, dalam hal ini Riza cukup jahat karena mempermainkan Dirgan hingga saat ini, dengan membuat berbagai alasan hanya untuk melindungi perasaannya yang tidak siap patah hati apabila Dirgan benar benar bersama Thella dalam sebuah hubungan. Dirgan hanya berusaha membuat segalanya menjadi terulur dengan harapan Dirgan bisa menyukai cewek lain, yang mana bukan Thella. Siapa pun asal bukan cewek itu. Sebab Riza juga menyukainya. = = = = = T B C = = = = =
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD