Lila tak sadar bahwa dia sudah berulang kali mengelap meja makan di bagian itu secara berulang kali. Tatapan matanya kosong. Meja makan yang berbahan marmer itu bisa menampilkan lekukan tubuhnya. Lila melihat pipinya yang kini menggembung karena kehamilan. Ia kemudian menegakkan badannya dan memandang dirinya dari pantulan pintu kulkas yang mengkilat. Entah mengapa ia kesal melihat dirinya sendiri. ‘Memangnya kalau hamil aku harus menjadi bengkak begini ya?! Kenapa sih aku bodoh? Kenapa aku gak cantik? Kenapa aku gak bisa jadi satu-satunya wanita yang dilihat sama suamiku?!’ rutuk Lila dalam hati. Pelupuk matanya kini penuh dengan air mata yang siap meluncur kapan saja. Lila menunduk. Ia tak sanggup lagi menatap dirinya. Bayangan wanita cantik yang ia kagumi itu selalu saja berputar di

