“Bukankah sudah waktunya bagimu untuk kembali?” aku melirik kearah Idril yang sudah tumbang di ruang tengah. Pria itu hanya menatapku agak lama tanpa memberikan jawaban apa-apa. “Dengan senang hati Mi Amor~” tiba-tiba aku dilanda rasa tidak nyaman. Julukan itu selalu membayangiku, caranya mengatakan itu sama persis seperti situasi selalu membuatku resah dan gelisah bilamana mengingatnya. “Berhenti memanggilku seperti itu,” “Itu julukan yang cocok untukmu,” “Aku sedang berusaha untuk memperlakukan tamu dengan baik, tapi bila kau bersikukuh dengan sikapmu ini apa boleh buatkan?” “Tidak apa-apa. Aku suka semua hal yang melekat padamu,” “Kau tahu jelas apa yang aku maksudkan Elvern,” “Kurasa kita butuh ruang untuk bicara, kau ingin sepupumu mendengar pembicaraan kita ?” aku melirik

