Bab 6

1018 Words
Gemerlap lampu kristal yang menggantung megah di tengah aula besar kediaman keluarga Zein memantulkan cahaya menyilaukan, menembus beningnya gelas-gelas berisi wine mahal. Ruangan itu dipenuhi aroma parfum kelas atas, bercampur dengan suara riuh rendah obrolan para pengusaha dan pejabat penting yang hadir dalam pesta tahunan tersebut. Suara derap langkah kaki yang ringan dan berirama menuruni anak tangga marmer membuat kebisingan di aula itu perlahan mereda. Semua pasang mata menoleh ke satu titik. Di sana, Kirana berdiri dengan anggun. Ia baru saja turun dari ruang khusus keluarga Zein, mengenakan gaun berwarna peach lembut dengan aksen lengan balon pendek yang memberikan kesan klasik sekaligus modern. Riasan wajahnya tampak natural, menonjolkan kecantikan alaminya tanpa terlihat berlebihan. Sebuah jepitan berbentuk pita tersemat di rambutnya yang tertata rapi, menambah kesan manis dan feminin yang membuat siapa pun sulit untuk berpaling. "Cantik sekali," ucap salah satu pria yang berdiri di pojok ruangan, matanya tidak berkedip menatap Kirana. "Siapa dia, ya? Sepertinya aku baru melihatnya di pesta tahun ini," tanya tamu lain dengan nada penasaran. Kirana berhenti tepat di ujung anak tangga paling bawah. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan, mencoba mencari wajah-wajah yang familiar. Pujian-pujian yang ditujukan untuknya terdengar samar. "Dia ini anak angkat keluarga Zein, kan?" bisik seorang wanita paruh baya dengan kipas bulu di tangannya. "Cantik sih memang, tapi paling sebentar lagi mereka akan menjodohkannya dengan pengusaha kaya demi kelancaran bisnis keluarga. Biasalah, aset pajangan." Kalimat itu diucapkan dengan lirih, namun kata-kata itu sampai dengan jelas di telinga Kirana. Ia mengepalkan tangannya sedikit di samping gaunnya. Benar, ia tahu betul tradisi busuk ini. Keluarga Zein memiliki banyak anak perempuan, dan pesta tahunan ini sebenarnya hanyalah ajang pencarian jodoh untuk mereka. Saat Kirana tengah asyik dengan pikirannya sendiri, mencoba meredam amarah yang mulai merayap, tiba-tiba sebuah suara melengking menyapanya. "Hai, Kak?" sapa Salsa dengan nada basa-basi. Salsa, salah satu anak kandung keluarga Zein, berdiri di hadapannya dengan senyum miring yang menghina. Kirana hanya menatapnya datar, enggan untuk membalas sapaan itu. Karena tidak mendapat respons, Salsa melangkah lebih dekat, mempersempit jarak di antara mereka. "Bukannya kamu sudah dinikahkan ya, Kak? Kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Salsa, suaranya sedikit dikeraskan agar orang di sekitar mereka bisa mendengar. "Apa suamimu sudah bosan dan mengembalikanmu ke rumah ini karena kamu tidak berguna?" "Apa urusannya denganmu?" balas Kirana pendek, suaranya dingin dan tajam. Salsa tidak menyerah. Ia mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Kirana dengan nada yang penuh kebencian. "Kak, aku tahu kamu menikah dengan Argantara. Tapi jangan berpikir kamu bisa menganggap dirimu Nyonya Argantara yang sesungguhnya. Pria seperti dia? Bisa jadi kamu hanya dijadikan pelampiasan nafsu atau sekadar mainan sementara, kan?." Bersamaan dengan bisikan tajam itu, tangan Salsa bergerak dengan sengaja. Gelas wine merah di tangannya miring, menumpahkan isinya tepat ke bagian depan gaun peach Kirana yang bersih. "Ahh! Kamu apa-apaan!" hardik Kirana geram, langkahnya mundur seketika saat cairan merah itu meresap ke kain gaunnya. Bukannya meminta maaf, Salsa justru tertawa kecil tanpa rasa bersalah. Ia memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Kirana di tengah kerumunan yang mulai berbisik-bisik. Kirana menarik napas panjang, dadanya naik turun menahan emosi. Ia jelas ingin membalas, namun ia teringat tujuannya malam ini. Ia tidak ingin rencananya gagal hanya karena emosi sesaat menghadapi gadis kekanak-kanakan seperti Salsa. Dengan sisa ketenangan yang ada, Kirana mengambil beberapa lembar tisu dari meja terdekat dan mencoba membersihkan noda itu meski sia-sia. Di saat itulah, sebuah suara berat dan serak menyapanya. "Halo, Karina..." Kirana membeku. Suara itu ia kenal. Ia menoleh dan mendapati seorang pria gempal paruh baya dengan perut buncit yang dibalut setelan jas mahal yang tampak sesak. Tuan John. Pria ini adalah orang yang dulu sempat ingin "membayar" Karina—kakak kembarnya—agar bisa dinikahi. Pria itu tersenyum miring, menatap Kirana dengan pandangan m***m yang membuat mual. Jelas sekali, Tuan John mengira gadis di depannya adalah Karina. Oh, jadi ini pria yang ingin membeli Kak Karina dulu, gumam Kirana dalam hati. Sebuah ide liar muncul di kepalanya. Sekarang dia kembali datang padaku. Mungkin aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk memulai rencana yang sudah kususun. "Tuan John..." Kirana membalas sapaan itu dengan suara yang sengaja dilembutkan, terdengar manja dan rapuh. "Gaunku kotor," lanjut Kirana seraya menunjukkan bagian depan gaunnya yang ternoda wine. Matanya menatap Tuan John dengan binar yang sengaja dibuat tampak memohon. Tuan John, yang merasa mendapat lampu hijau, langsung menyeringai lebar. Ia mendekat, membiarkan aroma cerutunya menyengat indra penciuman Kirana. "Oh, sayang sekali gaun secantik ini harus kotor. Ayo, kuantar kau ke ruang khusus untuk berganti pakaian. Aku punya akses ke sana," bisik Tuan John menggoda. Kirana mengangguk lemah, memberikan kesan seolah ia pasrah. Ia mulai berjalan lebih dulu menuju koridor yang lebih sepi, diikuti oleh Tuan John yang tampak sangat bersemangat di belakangnya. Tanpa mereka sadari, dari lantai atas, tepat di tepi pagar pembatas yang menghadap langsung ke aula, dua pasang mata mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Arga berdiri di sana dengan wajah yang mengeras, sementara Bara berdiri satu langkah di belakangnya. "Siapa pria itu?" tanya Arga to the point, suaranya rendah namun mengandung ancaman yang nyata. "Dia adalah Tuan John, salah satu kolega bisnis keluarga Zein yang paling kaya, Tuan," jawab Bara singkat setelah mengamati pria gempal itu melalui tablet di tangannya. Arga terdiam selama beberapa saat. Matanya menatap lurus ke arah punggung Kirana yang semakin menjauh mengikuti pria itu. Ada rasa tidak nyaman yang bergejolak di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan secara logika. "Kalau setiap tahun keluarga Zein mengadakan pesta besar ini hanya untuk menjodohkan putri mereka dengan pengusaha kaya, aku rasa Nyonya sedang berada dalam bahaya, Tuan," jelas Bara saat menyadari kejanggalan dari interaksi antara Kirana dan Tuan John tadi. "Sepertinya pria itu punya niat yang tidak baik." Wajah Arga semakin gelap. Ia tidak suka miliknya—meski hanya dalam status—dimainkan oleh orang lain. "Bara, coba kau minta akses ke dalam CCTV ruang ganti atau koridor arah sana. Awasi setiap sudutnya!" perintah Arga tegas. "Baik, Tuan," jawab Bara sambil mengangguk hormat, lalu segera beranjak menuju ruang keamanan mansion tersebut. Kini tinggal Arga sendiri yang berdiri di balkon. Ia mencengkeram pagar pembatas dengan kuat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Kirana yang tersenyum lembut pada pria gempal tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD