36 | Selalu Menunggu

1959 Words

Setelah Pandu meninggalkan aku di teras, kami belum untuk bicara berdua lagi karena malam harinya Kak Ririn dan suaminya datang. Atau bisa juga dibilang lantaran aku dan Pandu sama-sama tidak ada yang memulai. Aku bisa merasakan Pandu kecewa padaku, sikapnya menjadi dingin dan cenderung menghindari kontak mata denganku. Meski kami duduk bersisihan berdua, kami tidak saling berinteraksi. Pandu asyik mengobrol dengan Mbak Ririn dan suaminya, sementara aku hanya menimpali dengan tawa sesekali kalau mereka tertawa. Diam-diam aku menyelinap keluar rumah, bermaksud menjauh dari keramaian, sekaligus mencari udara segar. Aku duduk-duduk di teras ambil memutar-mutar cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisku. Aku butuh berpikir jernih dan tenang, apa sebenarnya yang membuat diriku ja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD