"Mestinya Mas Hamdan tak lakukan itu di hadapan saya," ucapnya lirih setelah aku berhasil membuat suamiku tidur dan menyelimutinya. Kuambil inisiatif untuk keluar dari kamar rawat dan hendak pergi ke kantin untuk sarapan, tapi ucapan wanita yang kini berdiri di hadapanku dengan air mata menggenang kini menghilangkan selera makan. "Kamu harus memahaminya, dia sedang sakit, Maura," ucapku sambil menahan diri. "Sejak menikahi saya, alih-alih senang, Mas Hamdan kerap gelisah sendiri dan tak bisa tidur, dia jarang makan dan langsung jatuh sakit, saya yakin ini semua karena begitu beratnya masalah antara dia dan Mbak Aisyah." Aku hanya menghela napas sambil sedikit memicing menatapnya dengan seksama, menunggu dia melanjutkan kata katanya. "Saya rasa ... Mas Hamdan memang tak bisa lepas se

