Dia menangis, tergugu di bahuku sambil terus mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Aku yang dipeluk seperti itu tentu kaget dan tidak menyangka bahwa dia akan memberi ungkapan terima kasih dengan cara dramatis, segera kukendurkan diri dan mendorong dirinya. "Awas, Mas, mundurlah," ucapku pelan Dia terkesiap, mungkin mendapat penolakan semacam itu membuatnya salah tingkah luar biasa. "Ah, maaf, Aisyah, aku terbawa suasana," ujarnya sambil membersihkan wajah dengan sapu tangan coklat. Sapu tangan yang dulu kubelikan dan sampai sekarang masih ada padanya. "Tidak apa apa. Lihat bayimu, pergilah azankan dia." Dengan tatapan berbinar Mas Hamdan mendekat ke buaian bayi lalu mengazankan putranya dengan penuh kasih. Usai menyudahi azan ia kecup pipi mungil anaknya lalu dia beralih lagi pad

