Melihat suaminya resmi menyerahkan harta potensial padaku, wanita muda itu mencebik dengan penuh kemarahan. Dia memberengut dengan tarikan muka yang sangat tegang dan kesal. "Terima kasih Mas, akhirnya aku dan anak anak bisa lega. Oh ya, aku tahu bahwa kedatanganku kemari selalu membuat kalian tak nyaman, oleh karena itu aku akan berjanji mulai hari ini tidak akan datang lagi kemari," ujarku sambil bangun dan hendak menjauh. "Lalu kertas apa yang kau tinggalkan itu?" "Undangan pengajian sekaligus akad nikah," jawabku sambil menjauh. "Sungguhkah setega itu kau sampai mengundangku?" "Kau tidak mengundangku di pernikahanmu dan Maura, tapi aku mengundangmu di hari bahagiaku agar kau tahu bahwa kita sudah saling melepaskan dan melupakan." "Sama sekali tidak masuk akal! Aku tak mengundangm

