Aku terkesiap, tanganku refleks menutup mulut dengan terkejut, tubuhku gemetar dan tungkaiku seakan kehilangan tulangnya. Aku gemetar, tubuhku bergetar hebat, menyaksikan ayah anakkku terkapar begitu saja di ubin ruang tamu. "Raihan ...." "Aku tidak bisa membiarkan Ayah memperlakukan Ibu seperti itu," jauhkan aku dengan nada yang tidak kalah bergetar pula sepertinya ini adalah pertama kalinya dia melakukan kekerasan dalam hidupnya. "Pergilah ke kamar dan bersikaplah seolah tidak tahu apa-apa," ucapku merampas piala dari tangannya. "Apa yang ibu lakukan dengan itu." "Aku akan membersihkannya lalu mengaku kepada semua orang bahwa akulah yang memukul Mas Hamdan," jawabku parau. "Tapi ibu tidak bersalah," balas Raihan dengan gelengan kepala. "Tahukah kamu apa yang akan terjadi jika semu

