*
Melihat Dokter Budi hampir pingsan membuatku beringsut pelan menghampirinya.
"Dok, anda baik-baik saja?"
"Ti-tidak usah, sentuh saya," jawabnya sambil menjaga jaraknya, tubuh dan mulutnya bergetar hebat.
"Dok, saya bukan setan, saya masih hidup, aslinya saya maasih hidup."
"Ja-jangan mengada-ada, ka-katakan apa yang kamu inginkan agar kamu segera pulang dengan tenang ke alam baka," jawabnya terbata-bata.
"Hahaha, bagaimana aku akan pulang ke alam baka kalo aku belum mati?" Aku tak sanggup menahan tawa.
"Lalu siapa yqng dikuburkan kemarin, Bukankah kamu sudah hancur dan hangus?"
"Itu orang lain, aku ... Sebenarnya sedang berpura-pura untuk mengungkap sesuatu."
"Apa?" tanyanya terlihat penasaran.
"Permainan suamiku, aku ingin tahu sejauh mana ia mengkhianatiku, apa yang aka dia lakukan pada uang dan perusahaanku."
"Ta-tapi, menurutmu ini efektif?"
"Aku ingin diubah dokter?" Kataku.
"Diubah bagaimana?"
"Buat aku cantik dan berbeda dokter."
"Maksudmu apa?"
"Ubah penampilan saya, bila perlu operasi saya agar terlihat berbeda."
"Tapi bukankah, aduh, Mbak Imelda ...."
"Bantu saya, andai Pak Dokter tahu apa yang telah terjadi, pasti dokter akan terenyuh untuk menolong saya," kataku memohon.
"Memangnya apa yang telah terjadi?"
Aku pun menceritakan padanya, secara gamblang dan runut, apa yah telah terjadi padaku, terlihat ia menyimak penuturanku dengan wajah prihatin.
**
"Baik, Saya tak keberatan dengan prosedur yang kamu inginkan, namun sebagai sahabat dan sekaligus pelanggan saya, mengapa kamu tak mencoba cara natural saja, untuk terlihat cantik, dengan sedikit perawatan ketat kita bisa mempercantik wajahmu," katanya dengan nada suara yang mulai tenang dan penuh perhatian.
"Perawatan seperti apa?"
"Kalo kamu mau serius cukup patuhi atauran dan anjuran saya, rutin minum suplemen kolagen dan datang tiap kali perawatan, saya akan bantu mbak Imelda, Selain itu ada bermacam perawatan yang akan saya lakukan ...." Ia berkata sambil Dokter Budi memperhatikanku.
"Apa saja Dok?"
"Prosedur sedot lemak, dan pengencangan kulit?"
"Aku sedikit ngeri dok," kataku.
"Itu aman karena menggunakan teknologi canggih eropa dan Korea, pake laser."
"Lalu?"
"Perawatan kulit wajah agar bening, dengan rutin infus kromosom, dan infus white Cell."
"Saya akan bayar berapa saja, Dok, asal saya dibantu."
"Ah, murah kok, Mbak, 55 juta sekali treatment," jawabnya sambil tersenyum.
"Baik, Dok, tak masalah buat saya, tapi ... Boleh ada satu permintaan lagi?"
"Apa itu Mbak?"
"Mohon rahasiakan ini," kataku setengah berbisik.
Ia hanya mengangguk perlahan dan Setelah kami sepakat, maka aku segera mohon diri dari tempatnya dan kembali ke apartemenku.
*
Pagi menjelang dengan sinar mentari yang memancarkan semangat baru untukku. Pagi ini aku akan memulai perawatan tubuhku, namun sebelum itu akan kutelpon Mia untuk memperoleh kabar terbaru.
"Mia,apa kabar?"
"Baik, Bu."
"Saya minta, jika hari ini Elea mula bekerja, kamu awasi terus dia, terlebih lagi ketika dia memasuki ruangan suamiku."
"Saya sudah minta perusahaan keamanan untuk memasang cctv tambahan di semua tempat Bu," jawabnya.
"Bagus, kamu memang bisa diandalkan," balasku.
"Makasih Bu."
**
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi ketika aku telah di mobil menuju klinik dokter Budi. Di perempatan jalan yang berada di pusat kota kendaraan begitu macet dan padat merayap, aku tahu rutinitas seperti ini setiap hari terjadi apalagi di waktu berangkat da pukang kerja.
Ketika kuarahkan pandangan ke luar jendela, tak sengaja kutangkap sosok yang familiar denganku, Mas Randy. Mobilnya tepat berada di samping mobilku.
Segera kuraih masker dari dalam tas dan kukenakan sebelum ia menatap ke sebelah kiri dan melihatku masih hidup. Bisa hancur semua rencanaku.
Ah, kutangkap sesosok lagi di samping suamiku, wanita itu, menggerai rambutnya dan menatap suamiku dengan manja, sedangkan Mas Randy hanya tersenyum kemudian tertawa kecil, entah apa yang mereka bicarakan, tapi kulihat suamiku menjawil gemas hidungnya.
"Duh, padahal hari kematianku belum genap 40 hari. Eh, tunggu ... tunggu, ah iya, aku lupa kalo aku belum mati," batinku sambil menepuk kening sendiri.
Andai saja aku adalah sungoku, karakter Dragon Ball pasti mobil ini dan beberapa kendaraaan di sekitarku akan terbakar meledak lalu terpental ke udara dan terhempas sejauh mungkin saking marah dan kesalnya diri ini, melihat dua manusia lupa diri itu.
Namun semua gejolak dalam jiwa ini harus kutahan sebelum semuanya menjadi lebih sulit dan menghancurkan rencanaku.
*
Kuraih ponsel dan kuhubungi asisten pribadiku. Aku harus memastikan sesuatu.
"Halo, Bu."
"Mia aku mau tahu, apakah kini suamiku dan Eleanor tinggal serumah?"
"Saya belum tahu Bu."
"Pastikan segera, saya ingin tahu, kenapa mereka berangkat bersama."
"Mungkin semalam dia menginap di rumah Ibu,"jawabnya perlahan.
"Nginap ngapain," kataku mulai terpancing emosi.
"Uhm, saya hanya menebak Bu, atau, mungkin saja, Pak Randy menjemputnya," jawabnya ragu.
"Kamu cari tahu ya," pintaku.
"Baik, Bu."
Kututup ponsel dengan hati kesal bukan kepalang, lampu hijau menyala dan kuinjak pedal gas meninggalkan tempat itu. Mungkin bagi orang lain aku begitu konyol dengan skenario pura-pura mati dan memata-matai suami sendiri. Tapi, andai mereka merasakan sakitnya, aku yakin, mereka juga akan setuju denganku.