part 56 tercengang

1134 Words

Air mata ini meleleh, membaca pesan Mas Hamdan, ditambah dengan suasana hari yang mulai mendung, guruh menggemuruh di langit, lantas hati ini makin tak karuan rasanya. Bagaimana dia bisa berpikir untuk menyerahkan kebun pada murah sementara selama bertahun-tahun kebun itu dibeli dari tabungan bersama dan hanya akulah yang bisa mengurusi segalanya, setelah kepengurusan Mas Hamdan. Sungguh tega pria itu mengatakan hal jahat ke depan wajahku. Sungguh egois dia tidak menimbang betapa sakitnya menusukkan duri di permukaan hati yang telah terluka sejak awal. (Kalau begitu mari berperang di pengadilan dan menangkan harta gono gini, aku tak gentar Mas, lagipula anak anak juga punya hak.) (Anak-anakpun akan kuambil darimu, kau sudah sadar dan puas sekarang!) (Sungguh tak adil jika aku tak bisa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD