Resort ini terbilang kecil, namun tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi membuatnya berkembang pesat.
Daftar tunggu untuk menikmati suasana pedesaan eropa disini cukup panjang.
Konsep sederhana yang diimplementasikan secara sempurna menjadi kekuatan bisnis keluarga Brown ini. Mereka merupakan pasangan paruh baya dan anak lelakinya yang memutuskan pulang menemani kedua orangtuanya setelah mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu.
Thomas Brown, lelaki dengan postur tinggi langsing melengkapi wajah tampan dengan rambut coklatnya, merupakan sosok yang bersahabat, pekerja keras dan penuh perhatian pada keluarga dan orang disekitarnya. Kota kecil ini dulu lebih banyak ditempati lansia, tapi mulai berubah sejak Resort ini mulai berkembang. Anak anak muda mulai berani untuk pulang, mengelola aset yang dimiliki orang tua atau kakek neneknya ... membentuk komunitas yang lebih menyerupai keluarga besar dengan Brown Resort sebagai pusatnya.
Dan kini lelaki itu menghampiri Diandra dengan senyum puas ," Semua berjalan lancar sejauh ini, gadis kecil."
Diandra tertawa ," Syukurlah ... musim panas nanti camp barumu sudah bisa dibuka, sudah 80% terisi."
" Thanks Sweetheart .... Semua gak akan terjadi tanpamu." dipeluknya sejenak perempuan yang hampir enam tahun ini bersamanya, menjadi orang terdekat yang benar benar menerima apa adanya. Bersama Diandra, Thomas punya keberanian untuk menatap hidup setelah kehilangan anak istrinya. Sempat terpuruk ... sampai ia lupa masih ada kedua orangtuanya untuk dibahagiakan.
Diandra tersenyum ," Semua dalam kehidupanku dan Narend tidak akan semudah ini tanpamu." kembali rasa bersalah itu memenuhi dadanya.
Hampir enam tahun yang lalu, Thomas dan istrinya menerima Diandra bekerja dan tinggal di rumahnya, untuk mengurangi biaya hidup gadis sebatang kara di negeri orang dengan kondisi hamil. Beasiswanya tidak cukup besar untuk menanggung bayi yang dilahirkan beberapa bulan kemudian.
Pemikiran cemerlang serta kerja kerasnya memberikan hasil bagi mereka berdua. Saat ini, Diandra sudah menempati rumah kecilnya sendiri ... Kliennyanya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Konsepnya yang selalu sederhana memudahkan kilen yang baru memulai usaha. Jam mengajar di universitas lokalpun cukup padat.
" Belakangan aku lihat kamu sedikit sedih." ditariknya kursi ke hadapan Diandra ," Mau berbagi ?"
Diandra menghela nafas, menatap lelaki yang menjadi dewa penolong, mentor sekaligus sahabat dan bagian keluarga yang dimilikinya ," Tentang Narend."
Thomas duduk diam tanpa menuntut, hanya siap mendengarkan.
" Semakin hari semakin mirip dia dengan ayahnya." Diandra menarik nafas panjang, mencegah air matanya turun ," Mungkin ini hukuman buatku, karena sudah lari dari kenyataan dan merampas hak Narend dan ayahnya untuk tau satu sama lain." diusapnya wajah ," Beberapa bulan belakangan aku mencari tahu tentang ayahnya Narend, untuk memastikan aku tdak menempatkannya pada posisi yang sulit. Aku ingin memberitahu tentang Narend, dan mungkin akan jadi masalah baru kalau dia sudah punya kekasih atau bahkan sudah menikah."
" Ketemu ?"
Diandra mengangguk ," Satu sisi hatiku ingin dia sudah punya kehidupan baru ... dan aku punya alasan untuk memberikan nama keluargaku pada Narend." Air matanya mulai menggenang ," Tapi itu gak adil buat mereka, Narend dan ayahnya."
" Dia benar benar gak tau tentang Narend ?"
Diandra menggeleng ," Karena aku gak bicara, dan aku ragu orangtuanya menyampaikan hal itu padanya. Kalau dia tau, dia akan menemukanku dengan cara apapun.”
Thomas berdiri, meraih gadis itu kedalam pelukannya ," Kalau Tuhan menghendaki, akan ada jalan terbaik untuk mengatakannya." diusapnya rambut legam itu ," mungkin ini jalannya setelah kamu berdamai dengan dirimu ... ada yang harus dibayar dari sebuah kelalaian." gumannya pelan ... menahan perih yang mengalir pelan, sebuah kelalaian telah mengharuskannya membayar mahal.
Diandra menghela nafas, menarik diri dan mengusap air matanya ," Makasih."
" Kita selalu ada satu sama lain kan ?" Thomas tersenyum ," Sana, mungkin lebih baik kamu bergabung dengan Narend."
Di tempat lain
Rajendra mengawasi sosok kecil yang tengah duduk diatas pagar sambil mengunyah buah berry yang dipetiknya tadi.
" Mirip kamu banget kan ?"
" Fotocopy, aku seperti melihat diriku sendiri beberapa tahun yang lalu." sahut Rajendra tanpa melepaskan pandangannya ...
Kedua orang tua dan Laras, adiknya terdiam. Mereka melihat lelaki kecl itu tertawa seraya mendongkakkan kepala, persis kelakuan Rajendra, mengulurkan tangan membantu Aliya yang diangkat ayahnya, memeluk bahunya saat gadis kecil itu duduk disampingnya.
Bu Hardy menarik nafas panjang .... ada sekelebat kenangan yang saat ini membuatnya takut, bagaimana kalau gadis itu mengatakan hal yang sebenarnya ? Mungkin saat ini .... apakah ini ...
Rajendra mendekati Bram, adik iparnya, dan kedua bocah itu ," Hai ..."
Lelaki kecil itu menatapnya, mengirimkan sesuatu yang membuat Rajendra tercenung. Keduanya bertatapan untuk beberapa saat, dan melemparkan senyum yang sama. Rajendra duduk disamping nya ," Siapa namamu ?"
" Narend."
" Aku Rajendra."
" Aku Narendra ... mirip."Narend tertawa dan antusias ketika mendapati ia bisa berbicara dengan bahasa ibunya, bahkan pada Aliya teman barunya ," Kata ibu aku harus bisa bahasa Indonesia."
Bram mengangkat Aliya yang terlihat mengantuk, meninggalkan Narend dan Rajendra yang masih asik ngobrol sambil mengamati kuda kuda yang berderap di tengah lapangan. ," Dia bisa bahasa Indonesia. Ibunya orang Indonesia." diulurkannya Aliya pada Laras.
" Ayahnya ?"
Bram menatap Bu Hardy ," Dia cuma mengangkat bahu, dan bilang tapi ada uncle Thomas , Grandma and Grandpa. Kelihatannya dia tidak mengenal ayahnya."
Kepala Bu Hardy terasa berat, sedikit terhuyung ," Pa ... apa dia ..." bisiknya, menyusup ke pelukan suaminya.
Pak Hardy memeluk istrinya ," Ayo kembali ke kamar, mamamu kurang sehat." sekilas ditatapnya Rajendra tengah berkuda bersama anak kecil itu, dan pertanyaan yang sama muncul dibenaknya. Beriringan mereka kembali ke pondok kecil dengan tiga kamar yang mereka tempati.