Mata indah itu perlahan terbuka, menunjukkan sorot mata penuh dendam dan ingin membunuh. Mendapatkan serpihan ingatan pemilik tubuh, membuatnya ikut merasa geram. Segala siksaan yang diterima pemilik tubuh membuatnya merasa marah meski bukan dia yang merasakannya langsung.
Masih teringat jelas di otak Mi Li kala Sonia disiksa Adelard dengan pisau tajam. Menggores pipi Sonia dengan perlahan seraya tersenyum menjijikkan. Segala tindakan kekerasan yang dilakukan Adelard terngiang olehnya sampai-sampai Mi Li ingin membunuh pria itu sekarang. Dia sama sekali tidak menyangka pria itu sangat gila. Ia memang sering membunuh seseorang tapi dia tidak setega itu menyiksa korbannya.
Lalu, ingatan tentang teman tubuh yang ditempatinya. Sonia punya teman yang bernama Laura. Seorang maid yang empat tahun lebih tua darinya. Maid itu begitu baik padanya. Sayangnya, maid itu sama seperti Che Hui. Serigala berbulu domba.
Insiden bunuh diri yang disebutkan Adelard ternyata hanya rekayasa Laura. Sebenarnya yang terjadi bukan seperti itu. Sonia tidak mati bunuh diri tapi dibunuh.
Gadis malang itu didorong dari balkon oleh Laura kala mereka sedang berdebat tentang sesuatu. Apalagi kalau bukan tentang masalah yang bersangkutan dengan Adelard.
Laura menyuruh Sonia untuk kabur dari mansion. Namun, Sonia menolak karena takut semakin disiksa. Laura terus memaksa, sementara Sonia terus menolak. Akibat terlalu geram Laura akhirnya menyeret Sonia ke arah balkon dan mendorongnya di sana sembari berkata, "Kalau kau tidak mau pergi darinya, aku yang akan membuatmu pergi untuk selamanya!"
Posisi Sonia yang tidak menguntungkan ketika terjatuh, akhirnya membuat gadis itu koma. Lalu, ketika Sonia terbangun di sela komanya, ia melihat Laura bersama dokter menyuntikkan 'cairan' ke dalam infusnya.
"Akan kubalas orang itu, Sonia! Dia harus merasakan apa yang kau rasakan!"
Ia bangkit dengan perlahan dari tempat tidur. Berjalan pelan ke arah cermin. Bergumam pelan melihat bayangannya di cermin. "Wajahnya terlihat lebih cantik dari wajahku. Tubuhnya ternyata sangat mungil. Sekali dibawa ke dalam sebuah peperangan pasti akan langsung hancur."
Seorang maid tiba-tiba memasuki kamar Mi Li dengan membawa sebuah nampan. Bibir maid itu tampak melengkung, membentuk senyuman. Senyuman yang sangat dibenci Mi Li. Senyuman palsu. Ternyata di kehidupan dulu dan sekarang sama saja, dia dikelilingi oleh penghianat.
"Makan dulu, Sonia. Aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu."
Maid itu lah Laura si penghianat.
Mi Li semakin geram melihat tingkah sok baik Laura. Dengan cepat Mi Li bangkit dan menghampiri Laura dengan langkah besar. Tangan kecilnya mencengkram kuat lengan besar Laura.
"Ada apa, Sonia?"
Mi Li tersenyum sinis. "Ikut aku! Ada hal yang harus kuselesaikan denganmu."
Bodohnya Laura mengikuti Mi Li ke balkon.
"Berdiri di ujung pembatas itu."
Kini, Laura tampak pias.
"Lakukan perintahku!"
Nada otoriter Mi Li membuat Laura patuh. "Apa yang harus kau selesaikan denganku, Sonia? Apa kau ingin curhat lagi?"
"Aku merasa familiar kala posisi kita seperti ini." kekeh Mi Li santai.
Laura kini tampak menguasai raut wajahnya. Gadis itu tersenyum lebar ke arah Mi Li. "Tentu saja kau merasa familiar, Sonia. Kita sering mengobrol di sini."
"Oh ya?"
"Iya, Sonia."
"Tapi kenapa aku merasa seperti telah terjadi sesuatu yang penting di sini?" Mi Li semakin mendekati Laura dengan senyuman datarnya.
Laura mulai gugup. Matanya bergerak ke sana kemari. "Apa maksudmu?"
"Haha. Sudah lah. Tidak usah drama lagi."
Laura semakin gugup. "Aku tidak mengerti, Sonia."
Mi Li menggeleng jengah. "Aku sudah mendapatkan ingatan pemilik tubuh ini tentang kejadian hari itu. Tenang saja, aku hanya ingin membalas apa yang kau perbuat pada hari itu." seringainya kejam.
Laura membelalak kaget. "Apa maksudmu, Sonia?"
Mi Li terkekeh meremehkan. "Cih, tidak usah sok polos. Aku sudah mendapatkan ingatan pemilik tubuh ini dengan sangat jelas." Sekuat tenaga Mi Li mendorong tubuh gempal Laura ke bawah.
"Rasakan juga apa yang kau perbuat pada Sonia." kekeh Mi Li dengan nada menyeramkan.
Laura hanya bisa berteriak histeris kala tubuhnya jatuh ke bawah. "ARGHHHH!! TOLONGGG!!!"
Adelard yang kebetulan juga hendak melihat keadaan istrinya segera berlari menuju asal suara. Keningnya mengerut melihat salah satu maidnya terjatuh ke bawah. Keningnya semakin mengerut kala melihat istri kecilnya tertawa aneh.
"APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MENDORONGNYA?" sentak Adelard mengagetkan Mi Li.
Mi Li menoleh. Seulas senyum miring kembali tampak di bibirnya. "Iya, aku mendorongnya. Sekarang giliranmu." desisnya sembari mendorong Adelard kuat ke bawah.
Pria tampan itu membelalak, untung saja dia dengan sigap memegang pembatas balkon. "KAU GILA HAH?"
Mi Li tertawa seraya berjongkok. Tersenyum menyebalkan kala melihat Adelard bergelantungan di pembatas balkon. Tatapan pria itu begitu menusuk.
"Aku hanya membalas apa yang kau lakukan padaku. Aku tidak salah, bukan?"
Adelard menggeram marah dan berusaha naik. Namun, Mi Li melepaskan pegangan Adelard perlahan, dimulai dari ibu jari.
"Rasakan juga apa yang kurasakan akibat perbuatanmu tadi. Kalau beruntung kau akan selamat tanpa terluka sedikit pun, tapi kalau tidak beruntung kau akan terluka bahkan mati." jari Mi Li melepaskan tangan kanan Adelard cepat.
"Cih, kau pikir hanya terjatuh dari balkon akan membuatku mati? Tidak akan!!" Gigi Adelard terdengar bergemeletuk. "Tunggu saja hukumanmu, Sonia." ancamnya.
"Aku bukan Sonia lagi tapi Mi Li. Mi Li!" Kembali, Mi Li melepaskan satu persatu jari Adelard.
"Selamat terjatuh dari ketinggian~"
"Arghhhhh!!!"
-Tbc-