“Kau adalah sanderaku. Kau mengertikan?” Raymond menyeret Sierra ke salah satu sudut dan mendorong punggung Sierra sedikit keras hingga menabrak tembok. Sierra mengernyit menahan nyeri yang terasa. Kedua tangan Raymond ditempatkan di kedua sisi Sierra untuk menahannya. Meskipun saat ini Raymond berdandan cantik dan feminim, tetapi aura kegelapan sebagai ketua mafia yang sudah di pupuknya selama bertahun-tahun masih tetap bisa dirasakan dan cukup menakutkan. “Aku mengerti.” Sierra menjawab, tetapi raut wajahnya tetap datar dan dingin. “Apa sedikitpun kau tidak merasa takut? Atau terkejut? Panik? Ngeri?” Sikap Raymond yang dingin dan menakutkan sejak tadi, mendadak berubah menjadi panik dan putus asa. “Sierra, tidak bisakah kau bersungguh-sungguh menjadi seorang sandera? Mana ada sandera

