Jeritan kekaguman terdengar di sekitarnya, membuat Jasmine memperhatikan sekelilingnya, penasaran untuk mencari pusat kehebohan itu, sampai di satu titik, pemandangan di depannya membuat wajahnya sontak memucat, matanya terbelalak, jantungnya sepertinya sempat berhenti berdetak sekian detik. Di depan matanya, seorang Daniel, orang yang sebeku es di kutub utara, pria yang selalu menolak berdekatan dengan wanita manapun kecuali dengan dirinya. Benar-benar membiarkan seorang wanita memeluknya seperti itu? Keduanya sangat dekat sekali. Jika ada salah satunya yang mencondongkan kepalanya ke depan sedikit saja, maka bibir keduanya pasti akan bertemu. Mungkin hanya ilusi cahaya atau memang kenyataan, Jasmine seperti dapat melihat sentuhan manusiawi di wajah Daniel. Kecemburuan terasa membak

