Sierra bergegas menghampiri pintu apartemennya dan membukanya dengan cepat. Lagi-lagi mata Sierra membola saat melihat sosok yang telah berdiri di depan pintu apartemennya. Senyum lebar menghiasi wajah tampan seorang pria yang berbadan besar dengan bahu yang lebar dan tangan berotot liat. Sosok itu terus tersenyum melihat keterkejutan Sierra. Dengan santai dia meletakkan begitu saja tas ransel yang dibawanya ke lantai, tangannya terbuka lebar, dan kakinya melangkah maju dengan penuh percaya diri ke hadapan Sierra. Kedua tangan besar itu memeluk tubuh Sierra yang masih membeku seperti patung dengan sangat erat. “Aku pulang.” Suara bariton yang begitu dirindukan Sierra mengalun lembut di telinganya. Membuat jantung dan otak Sierra nyaris berhenti berfungsi. Kelembutan suaranya, kehangatan

