“Pekerjaanmu sudah selesai?” Daniel yang sedang berdiri di depan pintu tidak mengindahkan panggilan Sierra. Tatapan tajamnya dengan niat membunuh masih diarahkan kepada Franklin, yang bahkan sudah memundurkan langkahnya agar semakin jauh dari tempat Sierra duduk. “Belum. Ada apa?” Sierra mengerutkan alisnya, kebingungan dengan sikap Daniel yang aneh menurutnya. Kenapa dia terlihat marah? Apa ada sesuatu yang terjadi? Sierra segera bangkit dan mendekati Daniel. Tatapannya penuh pertanyaan yang tidak dijawab oleh Daniel. Pria itu hanya berkata dengan dingin, “Kau sudah melewati obatmu beberapa hari ini. Aku datang untuk menjemputmu pulang.” “Ah, Sierra, kau sedang sakit? Pulanglah, istirahat. Aku bisa menangani situasi disini. “ Franklin terkejut sedikit saat mendengar Sierra ternyata se

