"Ya ... Oma harap juga begitu. Keinginan kedua wanita yang sangat dekat dengan Erlan itu terlalu besar untuk kebahagiaan keduanya.
Setelah selesai makan, mereka disibukkan dengan mencocokkan cincin permata, bertahtah berlian murni untuk dilekatkan di jari manis Mitha.
Tuan Fred bahkan telah mem-booking pub itu, sebagai tempat diumumkannya pertunangan diantara Mitha dan Erlan.
"Mi, memangnya harus pakai cincin kah?" keluh Erlan yang dari tadi jari manisnya, diukur beberapa kali oleh cowok kemayu, salah satu karyawan, yang ditugaskan oleh toko permata terkenal itu, untuk melakukan pelayanan khusus bagi pelanggan high class seperti Keluarga Levin.
"Yaiyalah, Lan! Kamu ini aneh-aneh saja pertanyaannya." tutur sang mami.
"O ... Oma, apakah ini tidak berlebihan? Harga cincinnya sangat mahal, Oma. Apakah tidak ada cincin yang harganya biasa saja?" keluh Mitha bingung, melihat harga satu cincin saja yang sangat mahal.
"Mitha ... kamu itu, calon menantu Keluarga Levin. Kamu nantinya akan menjadi satu-satunya menantu perempuan di dalam keluarga. Masa kamu hanya memakai perhiasan yang biasa-biasa saja? Apa kata dunia nanti?" sahut, sang Oma.
"Ta ... tapi Oma, sa-ya tidak terbiasa memakai barang-barang mahal sebelumnya." jujur, Mitha.
"Oh, ya?" tanya Oma Rini.
"I ... iya, Oma." jawabnya singkat.
"Nah kalau begitu. Mulai sekarang kamu harus bisa membiasakan diri untuk menggunakan barang-barang branded." ucap Oma Rini lagi.
"Duh ... bagaimana ini?" lirihnya hati.
Mitha yang berasal dari keluarga sederhana, sama sekali tidak terbiasa dengan hal-hal mewah seperti ini. Dia bisa kuliah saat ini, hanya karena dirinya yang mendapatkan beasiswa dari sekolahnya dulu. Karena Mitha adalah salah satu siswi tercerdas di sekolahnya. Jadi ada donatur yang disediakan oleh sekolah untuk membiayai kuliahnya.
Ayahnya memang memiliki bisnis kecil-kecilan di Bandung. Namun saat ini, sedang mengalami kebangkrutan akibat penipuan yang dilakukan oleh orang kepercayaan sang ayah.
"Bagaimana? Apakah semua sudah siap?" tanya Tuan Fred kepada tim konferensi pers itu
"Siap, Tuan." jawab salah satu, dari mereka.
Sementara di dalam kamar,
"Oma! Sejak kapan aku berubah jadi kaum lemas sih!" protes Erlan tak suka.
"Kaum lemas? Maksud kamu apa, Erlan?"
"Banci, Oma! Masa aku disuruh pakai kemeja berwarna peach?" kesal Erlan.
"Kamu sendiri yang mengatakan dirimu sebagai kaum lemas. Jangan sampai Mitha berubah pikiran dan tidak mau menikah denganmu." tukas Oma Rini kepada cucunya.
"Apaan sih, Oma! Tapi aku nggak suka pakai kemeja warna itu!" kesalnya lagi.
"Lan ... buruan ganti bajumu. Kamu nggak malu, apa? Mitha sudah dari tadi selesainya. Biasanya mempelai perempuan yang selalu berdandan lama. Ini kok malah sebaliknya?" sergah sang ibu.
Mitha tidak dapat menahan senyumnya, karena mendengar perkataan Mami Rini.
"Woi! Ngapain Lo senyum-senyum sendiri? Lo ngeledekin gue, hah?" Seketika Erlan menatap tajam ke arah Mitha.
"Dasar jalang! Tunggu saja pembalasanku!" ujarnya lalu meraih kemeja itu dan membawanya ke dalam kamar mandi.
"Erlan! Jaga bicaramu!" Mami Anisa menjadi kesal melihat putranya yang selalu berbicara kasar, kepada Mitha.
"Mitha, tolong maafkan Erlan, ya? Dia pasti tidak sengaja berkata seperti itu." Sejujurnya hati Mitha sangat sakit, saat mendengar Erlan yang selalu mengatakan kata 'jalang' kepadanya. Namun Mitha tidak dapat berbuat apa-apa saat ini.
"I ... iya, Mi." jawabnya singkat.
Mitha mencoba menyembunyikan rasa sedihnya kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Semua sudah siap, bukan? Kalau begitu, mari kita ke lantai bawah untuk konferensi pers." seru Oma Rini.
Erlan ternyata ingin berjalan lebih dulu, namun sang ibu menegurnya.
"Erlan ... kamu jalan beriringan dengan Mitha. Gandeng tangannya, tubuhnya sepertinya masih lemah. Kamu jangan lupa! Dia seperti itu karena ulahmu."
"Dasar manja!" ketus Erlan.
"Sini, berikan tanganmu!" Mitha pun mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh pria itu.
"Tanganmu kok dingin banget? Kamu baru pulang dari Kutub Utara, ya?" tanya Erlan kepadanya.
"A ... aku takut, Mas." lirih Mitha, pelan.
"Cih! Alasan aja, Lo!" ketusnya lagi.
"Mas ... bisa kah, kamu berjalannya lebih lambat lagi?"
"Lho memangnya kenapa, sih?"
"Kakiku sakit, Mas." lirih Mitha, lagi.
"Cih! Dasar lemah!" cibirnya kepada gadis itu.
Mami Anisa dan Oma Rini langsung menatap Erlan dengan tajam karena berjalan terlalu cepat. Ditatap oleh kedua wanita yang dirinya sangat segani itu, membuat nyali Erlan menciut seketika.
Dia pun secara perlahan, memperlambat langkahnya, mengikuti langkah Mitha yang berjalan tertatih-tatih, akibat ulahnya tadi malam.
"Memangnya sakit banget, ya?" Bisik Erlan.
"I ... iya, Mas." jawab Mitha, singkat.
"Tapi aku menginginkanmu lagi! Kamu harus mau, ya! Nanti aku cari cara agar kita bisa melakukannya lagi." seru Erlan, memaksa Mitha.
Mitha ingin menolaknya. Namun Erlan tidak lagi menggubris omongannya. Karena dia tahu gadis itu pasti akan menolaknya.
"Aku harus mencari cara, agar dia mau mengulang acara kami tadi malam!" gumamnya dalam hati.
Hilang sudah citra Erlan yang selama ini ditampilkan olehnya, sebagai sosok yang dingin kepada perempuan. Semua telah sirna karena kehadiran Mitha.
Kedua pasangan muda itu sangat serasi penampilannya. Mereka sama-sama menggunakan outfit senada dengan warna dasar peach.
Keduanya terlihat sangat serasi, beberapa wartawan bahkan mengabadikan foto keduanya.
Mitha terlihat sangat cantik dan menawan. Sementara Erlan terlihat sangat tampan.
Acara konferensi pers itu berlangsung sukses. Semua telah diklarifikasi, jika Erlan ternyata memiliki hubungan khusus dengan Mitha. Hanya saja yang salah dalam hubungan mereka, karena keduanya telah melakukan adegan ranjang yang sudah tersebar di mana-mana.
"Saat ini saya umumkan, putra saya, Erlan sekaligus sebagai cucu pertama dari Keluarga Levin, akan menikah dengan tunangannya bernama Mitha Alena yang akan diselenggarakan tiga minggu dari sekarang!" Tepuk tangan riuh peserta konferensi pers itu berlangsung hangat.
Namun wajah pucat sang manager dan juga Niken tidak dapat dibendung lagi. Saat Tuan Fred mengumumkan satu pemberitahuan penting.
"Saya akan mengusut tuntas hal ini. Saya telah membentuk tim khusus untuk mencari tahu siapa yang telah menjebak Erlan dan Mitha! Saya tidak akan memberinya ampun!" tegas Tuan Fred di depan semua orang yang ada di pub itu.
Sementara itu, Brandon pesaing bisnis, perusahaan milik Erlan. Baru saja mendapatkan kabar kurang mengenakkan. Pasalnya, sebuah perusahaan raksasa yang bergerak dalam bidang multimedia, secara sepihak telah memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan miliknya.
Brandon semakin frustasi setelah menonton konferensi pers dari Erlan dan keluarganya.
Niat busuknya, yang ingin menjatuhkan karier Erlan, malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri dan perusahaanya yang terkena imbasnya.
Terlebih lagi, uangnya telah banyak keluar untuk menjebak Erlan. Namun yang dia dapati malah sebaliknya.
"Sial! Semuanya kok jadi berantakan begini, sih?" keluhnya dalam hati.
Tiba-tiba dia merasakan kepalanya sangat berat. Bagaimana tidak, perusahannya terancam gulung tikar.
"Apakah aku harus meminta bantuan kepada Erlan, lagi? Apakah masih kurang cukup rasa malu yang ku hadapi saat ini?" Brandon terlihat menyesal telah menjebak Erlan. Yang telah banyak membantunya selama ini.
"Apakah hubungan Erlan dengan penguasa multimedia itu? Kenapa semua terlihat seperti kebetulan?" geramya dalam hati.
"Aku harus mencari tahu kebenaran dari semua ini! Tapi apa yang harus ku lakukan untuk menyelidiki perusahan besar itu?"