Dua Puluh Tujuh

1534 Words
Sabrina masih saja terusik dengan ucapan Joe 3 hari yang lalu. Ia tidak mau mengakui kalau ia akan meninggalkan Hans untuk Joe yang baru mengakui perasaannya, tapi sungguh ucapan Joe mengusiknya sampai saat ini. Cara memandang pria itu setelah mengungkapkan perasaannya tampak berbeda dari sebelumnya. Ia selalu mendapati Joe menatapnya tanpa mendekatinya seolah memberikan kesempatan bagi Sabrina untuk mempertimbangkan perasaannya. Dibandingkan sebelumnya, kini Joe lebih menunjukkan perasaannya secara terang-terangan. Jika dulu Joe sering mengalihkan pandangan saat Sabrina menangkap pria itu sedang menatapnya, kini Joe tidak berusaha menghindar sekalipun Sabrina menangkap basah dirinya yang memberikan perhatian lebih. Sabrina benar-benar takut kalau pengakuan Joe itu berhasil mengubah pandangannya dari hubungan dengan Hans. Ia takut perasaannya akan berubah dengan pengakuan yang sebenarnya masih tidak bisa ia percayai. Adalah suatu hal yang mustahil jika Joe menyukainya sejak dulu. Untuk mempercayai hal itupun sangat sulit bagi Sabrina, apalagi tidak ada alasan yang masuk akal untuk Joe menyukainya di masa itu. Tapi untuk apa pria itu berbohong dengan mengatakan hal seperti itu di masa ini? Saat Sabrina sudah bersama yang lain. "Sa, apa yang kau pikirkan?" tanya Alice sambil menepuk bahu wanita itu. Sabrina terhenyak kaget dan menatap Alice dengan bingung, hingga ia menggelengkan kepalanya dan tersadar dari lamunannya. "Ada apa, Al?" "Ini sudah jam makan siang." ujar Alice sambil menunjuk jam di meja Sabrina. "Ah iya," Sabrina menepuk jidatnya sambil menatap Alice dengan gelengan, "Sepertinya aku kurang fokus." Alice menganggukkan kepalanya, "Ya, kau memang kurang fokus sejak tadi Sa. Aku bahkan sudah berulang kali mememanggil namamu untuk meminta bantuan, tapi kau tidak menanggapi karena sibuk melamu." "Ah iya, ayo kita ke kantin." ajak Sabrina setelah membereskan mejanya dan membawa ponselnya. Mereka berjalan bersama dan melalui Joe yang sedang berbicara dengan asisten Antonio Wikler. Joe yang menyadari kehadiran Sabrina langsung menatap wanita itu sambil memasukkan tangannya di saku celana. Sabrina berusaha abai dan mempercepat langkahnya. Alice sedikit keberatan dengan kecepatan Sabrina hingga beberapa kali protes dan mengatakan langkah Sabrina terluka cepat dan sulit untuk diikuti olehnya yang lambat. "Kau menghindari Joe ya?" tanya Alice menyipitkan matanya menatap Sabrina setelah mereka masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk lantai 2. "Tidak." sanggah Sabrina dengan cepat tanpa mau mengakui apa yang terjadi. Alice berdecih karena tak percaya, "Sepertinya benar. Kenapa? Kalian ada masalah apa? Bukankah biasanya kalian bahkan makan bersama?" "Dia sedang sibuk, jadi tidak sempat makan siang bersama. Aku tidak mau mengganggu saja." ujar Sabrina sebagai alasan. Alice menghela nafas pelan, "Aku tahu Sabrina, kalian sedang bertengkar. Kemarin kalian sangat lengket dan Joe selalu datang ke mejamu jam makan siang atau jam pulang. Tidak perlu mengelak." "Ya sudah, terserahmu saja." "Kau tau bagaimana Joe menatapmu tadi? Woah, dia persis seperti orang yang tidak membiarkan mu jauh dari pandangannya sangking sukanya ia padamu." "Itu hanya omong kosongmu saja." desis Sabrina. "Astaga, Sabrina, aku ini wanita, jelas aku tahu hal itu. Oh, atau sebenarnya kalian bertengkar karena dia mengungkapkan perasaannya padamu? Kau takut kekasihku cemburu, jadi kau menjauhinya." duga Alice tak ada hentinya sampai Sabrina sakit kepala sendiri menanggapi wanita itu. "Tidak Al, sudahlah, tidak usah dibahas lebih lanjut." "Baiklah." angguk Alice pasrah padahal sebenarnya ia masih bersemangat membahas kisah cinta Joe dengan Sabrina karena menurutnya itu menyenangkan. *** Sepulang dari kantor, Sabrina terkejut dengan kehadiran Hans di depan pintu apartemennya. Pria itu sedang bersandar di dinding samping pintu masuknya sambil memasukkan tangan di saku celana dengan tatapan ke depan. Ketika menyadari kegagalan Sabrina, ia langsung menoleh dan membiarkan Sabrina membukakan pintu apartemen. "Sejak kapan kau di sini?" tanya Sabrina setelah berhasil membuka pintu. Hans menahan pintu tersebut agar tidak tertutup, lalu berjalan masuk di belakang Sabrina. Wanita itu sesekali melirik ke belakang untuk menunggu jawabannya. Ketika Sabrina sedang menuangkan minum ke gelas, ia merasakan pelukan dan kecupan dari Hans untuknya. "Apa kau tidak merindukanku?" tanya Hans, pasalnya Sabrina memang tidak berusaha banyak untuk membuat hubungan mereka membaik. Ia hanya mengirim pesan seadanya dan berusaha menelpon Hans beberapa kali saja dalam sehari. Kalau Hans memang tidak siap hubungan mereka berantakan, Sabrina yakin kalau pria itu sendiri yang akan menghampirinya dan benar saja, hari ini Hans datang karena merindukannya. Sabrina memutar tubuhnya dan menatap Hans, lalu melingkarkan tangannya ke leher pria itu dengan manja, "Aku merindukanmu, Hans. Sangat merindukanmu, tapi kau terlalu lama mengacuhkanku karena kecemburuanku itu." desis Sabrina terus terang. Hans mempererat pelukan mereka dan mencium puncak kepala Sabrina berulang kali sebagai bukti kerinduannya. Ia bahkan mengangkat dagu Sabrina agar jadi bisa mengecup bibir merah wanita itu. Sabrina membalas kecupan itu hingga menjadi sebuah ciuman dan keduanya benar-benar menggambarkan bagaimana kerinduan mereka lewat ciuman yang sangat intens. "Aku merindukanmu, Sa, sangat merindukanmu. Rasanya sampai mau mati menahan kerinduan ini." ujar Hans begitu menjauhkan pelukan mereka dan menatap baik-baik wajah kekasihnya. Sabrina mengangguk dan mengusap pipi Hans, "Aku juga merindukanmu dan menunggu kedatanganmu." "Tapi caramu membujukku tidak menggambarkan betapa kau merindukanku, Sa?" Sabrina terkekeh sambil membuatkan kopi untuk mereka, "Aku hanya tidak ingin terlihat begitu merindukanmu." "Baiklah, walaupun alasan itu tetap tidak bisa kuterima. Oh ya, minggu depan orang tuaku mengadakan pesta untuk hari pernikahan mereka yang ke-32 sekaligus perayaan rahasia yang tidak diberitahukan padaku. Kau akan datang kan walaupun penyambutan Ibuku agak mengecewakan?" tanya Hans. Sabrina menyentuh lengan Hans dan menatap pria itu dengan heran, "Ibumu tidak mengatakan apapun padamu soal pertemuan kami?" tanyanya cukup terkejut. "Kalian bertemu?" tanya Hans cukup terkejut mengetahui fakta tersebut karena ia tidak pernah menduga kalau mereka akan bertemu tanpa perencanaan darinya. "Iya dan aku sempat bermasalah dengan ibumu. Aku pikir dia akan mengatakannya padamu dan Membuatmu madah padaku." "Marah kenapa? Ibuku membuat kesalahan padamu?" "Lebih tepatnya dia menyuruhku meninggalkanmu agar kau bisa menikah dengan Kyle. Aku menolaknya dan mengatakan beberapa kalimat yang cukup tajam karena mereka melakukan hal yang sama. Menurutku perkataanku ada ibumu waktu itu cukup kurang ajar." Hans menghela nafas kasar dan mengusap punggung tangan Sabrina, "Tidak perlu merasa bersalah, Ibuku memang selalu memaksakan kehendaknya, jadi tidak udah heran." "Baiklah. Oh ya Hans, menurutmu apa tidak sebaiknya kalau aku tidak usah datang dalam acara orang tuamu?" tanya Sabrina. Ini mungkin terlihat buruk, tapi ia merasa kalau di acara itu nanti orang tua Hans bisa saja mempermalukannya atau justru membuatnya tidak betah berada di sana. Itu mungkin masih pemikiran negatif yang sempat terlintas saja, tapi bagi Sabrina itu sangat mungkin dilakukan ibunya Hans. Hans menggelengkan kepalanya tidak menerima alasan dari Sabrina karena ia menginginkan wanita itu untuk datang dan mendampinginya. "Tidak perlu berpikiran buruk. Aku ada di sana nantinya dan tidak akan membiarkan siapapun berperilaku buruk padamu." yakinkan Hans. Sabrina akhirnya tidak memiliki alasan lain untuk menolak karena Hans sendiri sudah mengajukan dirinya untuk melindungi Sabrina, meski wanita itu sedikit ragu. Walau bagaimanapun, yang akan datang nanti adalah kolega keluarga Hans, maka tentu saja Hans akan banyak kesibukan menyambut tamu. "Sudah, tidak usah berpikiran lebih jauh, Sa." Hans menarik tubuh Sabrina agar bersandar di dadanya, lalu ia mengecup pelipis Sabrina beberapa kali dengan mesra. "Nanti kalau kita menikah, menurutmu kita akan tinggal di mana? Kau ingin apartemen atau rumah sendiri?" tanya Hans membayangkan kehidupan di masa depan. Sabrina terkekeh dan menepuk d**a pria itu dengan malu, "Tidak usah membayangkan terlalu jauh. Belum tentu hal itu akan terjadi." "Menurutku membayangkan saja tidak semenakutkan itu, lalu untuk apa kau takut?" "Ini bukan takut, tapi lebih seperti aneh karena kau sudah memikirkan pernikahan saja." "Memangnya tidak pernah terlintas di pikiranmu mengenai pernikahan?" tanya Hans menatap Sabrina. Sabrina menggelengkan kepalanya setelah terlihat berpikir sejenak, "Sepertinya aku belum pernah membayangkannya karena merasa sedikit takut dengan hal yang tidak bisa kuduga akan terjadi atau tidak terjadi di masa depan." "Itu memang menakutkan, tapi tidak ada salahnya memberikan gambaran yang indah kan?" "Iya Hans. Aku hanya berharap bahwa kau ada di masa depanku." "Aku juga, aku mengharapkanmu mendampingiku di masa depan baik dalam kesulitan maupun kesenangan." Hans tersenyum senyum membayangkan bagaimana ia dan Sabrina akan bersama di anda depan. Itu sungguh menyenangkan. "Bagaimana kalau nantinya kau malah meninggalkanku dengan semua angan-anganmu itu?" tanya Sabrina menyipitkan Matanya seolah menyelidiki Hans. Pria itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya, "Itu tidak akan terjadi. Kalau kita putus, itu bukan karena aku, tapi karena kau yang tidak bisa mempertahankan hubungan kita." "Baiklah, kita lihat saja nanti. Aku harap bukan aku yang kecewa karena keputusanmu di masa depan." Sabrina terkekeh, meski sebenarnya ua meragukan ucapan mereka. Hans menganggukkan kepalanya, "Kau bisa memegang ucapanku, Sa. Aku tidak akan menyakitimu untuk setiap keputusan yang kubuat. Kalau aku mengecewakanmu di kemudian hari, itu bukan karena keinginanku, tapi untuk sebuah pilihan yang sulit kutangani." yakinnya. Sabrina meneguk kopinya yang pahit sambil membayangkan ucapan mereka berdua, "Kalaupun kau meninggalkanku, aku harap bukan karena pernikahan dengan Kyle karena aku akan sangat membencimu Hans. Itu jauh lebih mengecewakan dibandingkan pernikahan dengan wanita lain selain aku." aku Sabrina dengan yakin. "Kenapa? Kau ada masalah dengan Kyle." "Tidak, tapi aku benar-benar akan membencimu dan tidak akan mungkin memaafkanmu seandainya kau memilih wanita itu untuk berada dalam masa depanmu, entah itu pilihanmu sendiri atau paksaan dari orang tuamu, aku tidak akan pernah peduli." ujar Sabrina sangat yakin. Hans mengangguk dengan sedikit ragu karena tiba-tiba kepalanya membayangkan pernikahan dengan Kyle dan membuat Sabrina menyiramkan bahan bakar di pernikahannya, lalu memunculkan api yang sangat besar sambil tertawa jahat di dalam api yang besar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD