Delapan Belas

1425 Words
Ela duduk di samping suaminya setelah meletakkan segelas kopi yang sengaja ia buat untuk suaminya yang sedang sibuk dengan komputernya. Wanita itu sesekali sibuk mengganti channel televisi sambil melirik Adkey yang begitu fokus bekerja. “Oh ya, Ad, Joe belum mengatakan apa-apa padamu?” tanyanya. Adkey menatap istrinya sebentar, lalu mengambil gelas kopinya dan meniupnya pelan-pelan, “Sejauh ini dia belum ada mengatakan apa-apa. Memangnya dia sudah berbicara denganmu?” tanyanya kembali. Ela menggelengkan kepalanya, bersamaan denngan itu, Kay datang dan melemparkan dirinya di sofa yang lain dengan hela nafas lelah yang terdengar sangat jelas. “Kay.” Seru Ela. “Hm?” Kay menyahut tanpa memandang ibunya, dan maalh fokus pada ponselnya. Yang namanya ponsel pasti tidak jauh jauh dari tangan Kay. Meletakkan ponselnya saat masih bangun membuatnya tidak akan tenang sama sekali. “Joe tidak mengatakan apa-apa padamu tentang rencananya membuka sebuah bengkel?” “Tidak. Baru-baru ini aku hanya melihatnya sering bertelponan dengan Kakek. Sepertinya ia akan bekerja di Wikler Enterprise.” Jelas Kay berdasarkan apa yang ia ketahui selama orang tuanya itu di luar kota. “Memangnya akhir-akhir ini kalian tidak banyak bercerita?” tanya Adkey setelah menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Karena masih panas, jadi ia meniupnya sesekali. Sepengetahuan Ela dan Adkey, anak-anaknya memang sering bercerita bersama entah itu Kay dengan Joe, Joe dengan Loy atau mungkin Loy dengan Kay. Meskipun memiliki kebebasan untuk hal apa saja yang positif, tapi ketiga anaknya tidak sepenuhnya terbuka pada mereka. Hubungan persaudaraan membuat mereka lebih nyaman satu dengan yang lain untuk bercerita. Ela dan Adkey tidak merasa masalah sama sekali dengan hal itu, tapi untuk beberapa hal mereka juga penasaran dengan anak-anaknya yang semakin beranjak dewasa dan semakin memberikan batasan sebagai anak dan orang tua. Ya, itu memang hal yang wajar kan? Hanya saja terkadang mereka merasa kehilangan sosok anak yang dulunya begitu manja dan selalu mengandalkan mereka. “Tidak. Joe jadi lebih tertutup akhir-akhir ini. Dia bahkan sudah jarang mengunjungi kamarku hanya untuk menggangguku saja.” “Kau tidak bertelponan dengan Loy?” tanya Adkey lagi. “Tidak. Akhir-akhir ini Loy sibuk, begitu juga dengan aku. Kalau kalian merindukannya, kalian kan bisa menelponnya.” “Tentu saja bisa. Hanya saja, siapa tahu kalau Loy bertelponan denganmu ataupun Joe, kami hanya ingin tahu.” “Tanya saja pada Joe. Nah, itu dia.” Tunjuk Kay begitu Joe datang dan masuk sambil melempar-lemparkan kunci mobil Ela. Pemuda itu memang lebih sering menggunakan mobil Ela setelah lulus kuliah. Apalagi Adkey juga melarang Ela untuk menyetir sendiri sekalipun Ela tahu mengemudikan mobil. Pria itu lebih sering meminta anak-anaknya untuk mengantarkan Ela ke mana saja yang wanita itu mau, jika Adkey tak berada di rumah. Akhirnya Joe dapat dengan leluasa menggunakan mobil ibunya dan Ela pun mengizinkan saja. Sementara Kay, ia selalu naik busa ke mana pun pergi atau pasti mendapat tumpangan dari teman-teman pria atau teman perempuannya. Kay sering bilang bahwa banyak kenalan itu penting supaya bisa membantunya dan orang tuanya hanya meyetujui hal itu. “Kenapa? Kalian baru saja membahas tentang aku.” Ujar Joe menatap selidik orang tua dan adiknya. “Tidak usah memasang wajah menjijikkan seperti itu.” desis Kay jijik sendiri, “Ayah dan Ibu bertanya apakah kau tidak jadi membuka bengkel?” tanya Kay dengan santai tanpa menanggapi kode dari ayahnya yang berusaha menghentikannya. Joe menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku bekerja pada Kakek saja. Aku juga sudah mengatakan pada Kakek agar aku bisa bekerja secepatnya dan memiliki atasan sendiri yang akan mengajariku.” Ujarnya sembari berjalan menuju kamarnya. Adkey menghela nafas pelan, “Kalau kau mau membuka bengkel sendiri, aku bisa menghentikan proses pembangunan hotel yang baru.” Joe berhenti melangkah dan langsung menoleh pada ayahnya dengan cukup terkejut mendengar penawaran yang sangat menarik itu. Ia mendekati ayahnya dengan langkah kecil, “Memangnya tidak masalah?” tanyanya. “Tidak masalah kalau kau sungguh-sungguh pada niatmu bekerja di bengkel sendiri.” jawab Adkey dengan yakin. Joe sebenarnya sangat tertarik dengan hal itu, tapi ia merasa tak sanggup untuk mengutamakan kepentingannya di atas kepentingan orang tuanya ya walaupun ayahnya sendiri yang mengatakan tak masalah. Seperti yang pernah paman Alvanya katakana. Orang tuanya pasti akan mengutamakan kepentingan anak-anaknya di atas segalanya, tapi ini Joe merasa bersalah jika ia harus mengangguki keinginannya. “Tidak usah. Aku bekerja pada kakek saja dulu. Nanti kalau memang aku tidak bisa bekerja di sana, aku akan meminta kalian untuk membantuku.” Ujar Joe pada akhirnya. “Kau yakin Joe?” tanya Adkey meyakinkan putra pertamanya itu. Bukan hal yang mudah bagi Adkey dulu bekerja pada bidang yang ta kia kuasai dan tak ia sukai sedikitpun. Saat kau tidak menaruh perhatian sedikitpun pada pekerjaanmu, maka pekerjaan itu hanya akan menjadi beban sebanyak apapun kau berusaha mencobanya. Adkey tak ingin kalau anaknya juga akan seperti itu dan merasa sangat berat untuk bisa bekerja di Wikler Enterprise yang beban pekerjaannya tak man-main. Joe menangguk menenangkan orang tuanya, “Aku ini sudah dewasa, jadi hal-hal tidak sesuai keinginan seperti ini bukan hal yang tidak biasa kan.” Ya, semakin Joe dewasa, ia semakin menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan, rencanakan bahkan lakukan. Selain itu, ia juga semakin sadar bahwa tidak bisa selamanya ia memilih antara pilihan A dengan pilihan B, tapi ada juga yang merupakan suatu pilihan yang tak bisa ia pilih sehingga mau tak mau ia harus memilihnya sebab sebuah alasan keadaan. “Ya, aku cukup yakin dengan keputusanku sendiri.” *** Hari ini Joe menemui kakeknya atas permintaan Antonio sendiri yang mengatakan bahwa ia akan memperkenalkan seseorang yang bisa mengajarinya segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan yang akan Joe pegang nantinya setelah bekerja di Wikler Enterprise. Tapi karena sedang ada kunjungan ke Wikler Entertaiment, jadilah Joe diminta datang ke sana sekaligus mengunjungi Alva. Joe juga tidak keberatan, apalagi setelah mengingat adanya Sabrina yang bisa ia temui jika datang ke Wikler Entertaiment. Dan benar saja, sebelum Joe bertemu dengan kakek dan pamannya, ia lebih dulu bertemu dengan Sabrina yang sedang sibuk mengangkati beberapa kursi ke sebuah ruangan yang tidak Joe ketahui guna ruangan itu. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Joe. Sabrina menoleh, lalu menghela nafas kasar begitu menyadari bahwa Joe adalah orang yang bertanya padanya, “Memangnnya kau tidak bisa lihat apa yang sedang kulakukan?” tanyanya dengan sinis. Lagi pula pertanyaan yang Joe ajukan memang sangat basa-basi, padahal pria itu sendiri sudah melihat apa yang sedang Sabrina lakukan kan. Joe tertawa mendengar jawaban ketus itu tanpa merasa tersinggung sedikitpun, “Ah, kalau itu, aku juga melihatnya. Maksudku untuk apa yang mengangkati kursi-kursi ini sendirian?” tanya Joe lagi, kini ia sambil membantu Sabrina mengangkat beberapa kursi untuk meringankan pekerjaan pria itu. “Ruangan ini akan digunakan untuk rapat. Presiden Direktur perusahaan akan datang.” Ujar Sabrina sedikit lebih lembut karena bantuan Joe padanya. Joe tersenyum mendengar penjelasan itu, “Lalu di mana teman kerjamu yang lain? Kenapa kau hanya sendiri mengangkati kursi sebanyak ini?” “Karena mereka juga punya kesibukannya masing-masing. Kedatangan Presdiden Direktur yang tiba-tiba membuat kami harus bergerak cepat. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sabrina kemudian setelah ia sadar bahwa Joe bukan orang yang bekerja di Wikler Entertaiment. “Ah, itu, aku datang untuk menemui Kakek dan Pamanku.” Jawab Joe. “Joe, apa yang kau lakukan?” sebuah suara yang cukup tiba-tiba berhasil mengejutkan Joe dan Sabrina hingga keduanya sama-sama menoleh ke belakang dan mendapati Antonio bersama dengan asisten pribadinya, yaitu Roni. Sabrina langsung menundukkan tubuhnya kepada Antonio yang siapapun pekerja di sana pasti akan mengenali wajah Antonio sekalipun Antonio terbilang jarang sekali datang langsung ke Wikler Entertaiment. “Selamat pagi, Mr. Wikler.” Antonio hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban dari sapaan, lalu kembali melihat Joe yang memegang kursi sama dengan karyawan Wikler Entertaimen itu. “Ayo ke ruangan Pamanmu Joe.” Ajak Antonio. “Ah iya, sebentar lagi aku akan datang.” Ujar Joe setelah melihat kakeknya berputar menuju ruangan pamannya. Sabrina melirik Joe, “Dia kakekmu?” tanyanya. Joe menunjukkan cengirannya, “Iya. Maaf tidak bisa membantumu sampai selesai. Aku harus pergi dulu. Kuharap kita bisa kencan secepatnya.” Joe mengedipkan sebelah matanya sambil menagih janji dengan Sabrina mengenai rencana kencan mereka yang belum terwujud karena kesibukan satu sama lain dan Joe juga belum menemukan waktu yang tepat untuk kencan itu. Sabrina mendengkus kesal, “Tidak jauh-jauh dari kata menyebalkan. Kenapa pula dia adalah cucu dari pemiliki perusahaan ini? Dia pasti selalu memiliki alasan untuk kemari.” Ujarnya sambil menggerutu membayangkan bahwa Joe akan selalu datang ke Wikler Entertaiment, lalu bertemu dengannya dan mengganggunya seperti yang biasanya pria itu selalu lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD