Joe berbaring di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi, tapi juga sesekali memainkan ponselnya untuk membalas pesan dari temannya. Ia hanya melirik saja saat kedua orang tuanya baru pulang dari restoran sambil bercakap-cakap dan berakhir duduk di sofa lain. Tadi sore mereka pergi hanya untuk mengecek saja karena seharian ini mereka banyak menghabiskan waktu di rumah.
“Aku kan sudah bilang kalau anak-anak itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja.” Ujar Ela.
“Iya, aku tahu, tapi kan kita tidak bisa menyamaratakan anak-anak kita dengan anak temanmu itu.” ujar Adkey.
Adkey tadi meminta agar Ela pergi ikut dengannya ke luar kota untuk menemani Adkey selama pengurusan pembangunan hotel hanya saja Ela mengatakan kalau ia tak bisa meninggalkan anak-anak karena takut mereka menjadi bebas. Tadi Ela mendapat kabar dari temannya yang mengatakan kalau anaknya mengajak teman-temannya bermain di rumah dan menjadikan rumah seperti club.
Ela tidak ingin anaknya merasa bebas dan membawa teman-temannya, lalu wanita lain untuk bisa berparty di kediaman mereka. Ia paling tidak suka hubungan pertemanan seperti itu sekalipun anak-anaknya sudah cukup dewasa.
“Apa yang kalian ributkan?” tanya Joe akhirnya setelah tidak tahan mendengar percakapan orang tuanya yang tidak bisa ia tangkap maksudnya.
Adkey menyandarkan tubuhnya di sofa, “Ini, Ibumu tadi cerita kalau anak temannya membawa teman-temannya ke rumah saat orang tuanya tidak di rumah dan menjadikan rumah seperti club. Ibumu takut kalau kalian akan seperti itu jika kami pergi berdua.” Jelas Adkey.
“Apa aku dan Kay terlihat senakal itu sampai tidak bisa dipercayai?” tanya Joe tak terima.
“Ini bukan tentang kepercayaan, tapi kebebasan. Ibu tahu kalian sudah dewasa, tapi Ibu tidak tahu sudah sejauh apa pergaulan kalian, tapi Ibu harap kalian tidak akan mengecewakan kami Joe, terkhusus kau karena adik-adikmu bisa meniru perbuatanmu nantinya.” Ujar Ela.
Joe memutar bola matanya malas dan menghela nafas kasar. Ia lalu memainkan ponselnya tanpa sadar kalau Adkey sedang menatapnya dalam diam, tapi tak berniat buka suara. Saat Joe menyadari tatapan itu, ia mengernyit, “Apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya.
Ela menatap anak sulungnya, lalu beralih menatap suaminya, tapi ia memilih diam dan menunggu pembicaraan mereka.
“Tidak.” Jawab Adkey, “Jadi, bagaimana rencanamu untuk melamar pekerjaan di tempat Kakekmu?” tanyanya kemudian.
Joe menggelengkan kepalanya, “Aku masih bingung. Aku masih bisa bekerja di restoran kan?” tanyanya.
Adkey mendengkus, “Aku bertanya seperti itu bukan untuk mengusirmu, tapi ingin tahu rencanamu. Sudah kukatakan kan kalau kau harus terbuka kepada kami supaya kami tahu caranya mendukung keinginanmu.”
Joe menganggukkan kepalanya, “Aku akan memberitahukannya nanti.” Ujarnya, “Aku ingin ke kamar dulu.” Pamitnya kemudian.
Ela mengusap tangan suaminya, “Tidak apa-apa, dia mungkin belum siap mengatakan keinginannya. Semakin dia dewasa, Ad, dia semakin mengerti bagaimana keadaan orang tuanya, jadi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya sendiri.” jelas wanita itu dengan bijaksana.
Adkey menatap Ela, “Aku bisa mengundur pembangunan hotel itu kalau dia mau, La. Aku juga tidak memaksakan kalau hotel itu akan langsung jadi begitu saja sesuai rencana. Kalau memang dia serius ingin membuka bengkel sendiri, maka aku bisa mendahulukan keperluannya.” Ujar Adkey dengan sedikit kecewa.
Ia mendengar sendiri dari Alva kalau anaknya itu mendatangi kakak kembarnya dan mengatakan bahwa ia ingin membangun bengkel sendiri dan meminjam dana dari Alva tanpa memberitahukannya terlebih dahulu padahal ia adalah ayah Joe. Ini bukan masalah Adkey iri pada Alva karena Joe lebih terbuka pada pria itu, tapi ia kesal karena anaknya tidak ingin meminta bantuannya lebih dulu.
Ia sendiri juga sudah berusaha memberi kebebasan untuk anak-anaknya dan ia pikir hal itu akan membuat anak-anaknya terbuka padanya, tapi pada kenyataannya, Joe malah mendatangi Alva duluan dan meminta uang dari kembarannya itu. Ia mengerti kalau pemikiran Joe yang sudah dewasa membuatnya berpikir mengenai keadaan keuangan orang tuanya, tapi tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu, itu yang membuat Adkey kecewa.
Setelah Alva memberitahukan rencana anaknya itu padanya, Adkey tidak ingin langsung menegur Joe karena ia ingin menunggu anaknya itu yang terbuka lebih dahulu. Ia yakin kalau Joe pasti perlu waktu untuk berpikir mengenai rencananya untuk diberitahukan kepadanya, jadi ia tidak ingin memaksa, tapi sampai saat ini, anaknya itu sama sekali tidak berniat terbuka padanya.
***
Nazeela masih resah tentang apa yang dikatakan oleh Hans 2 hari lalu dan sampai saat ini ia masih belum berkabar dengan Joe. Dengan penuh pertimbangan, ia kini sudah mengetik di ponselnya, tepat pada ruang percakapan antara ia dengan Joe. Percakapan terakhir mereka adalah saat Ela berulang tahun, itupun hanya pesan singkat karena Joe hanya mengatakan kalau ia sudah tiba di rumah dengan keadaan selamat setelah mengantarkan Nazeela ke apartemennya.
Nazeela: Hai Joe. Apa yang kau lakukan akhir pekan ini?
Ia menunggu pesan itu sampai ada tanda telah ‘dibaca’ dan menunggu ketika melihat Joe sedang mengetik pesan untuk membalas pesannya. Ia menggigit bibirnya sendiri penuh harap bahwa Joe akan mengatakan tidak memiliki kegiatan apapun.
Joe : Hai Zee. Aku tidak punya janji apapun, tapi, mungkin akan sedikit sibuk di restoran.
Wanita menghela nafas kasar, tapi tak ingin putus asa hanya karena Joe mengatakan sibuk di restoran. Toh ia bisa menyusul pria itu dan membantu Joe dengan pekerjaannya.
Nazeela: Kalau begitu aku akan membantumu nanti supa—
Belum sempat Nazeela mengirimkan pesannya itu, sebuah panggilan dari Joe muncul dan membuatnya terkejut tapi tersenyum senang sebab Joe itu jarang sekali menelpon apalagi jika tidak diminta oleh Nazeela.
“Kenapa kau menelpon?” tanya Nazeela tak dapat menyembunyikan senyumnya.
“Ah, itu, aku malas mengetik, jadi aku menelpon saja. Lagi pula butuh waktu untukmu mengetik dan itu rasanya lama.”
Nazeela mendengkus kesal dan mengumpat dalam hatinya supaya Joe tidak dapat mendengarnya. Ia kesal sekali dengan alasan seperti itu, tapi di hadapan Joe itu harus menunjukan senyum manisnya, “Ah, begitu.”
“Apa yang kau lakukan di akhir pekan?” tanya Joe.
“Aku? Tidak ada kesibukan dan membutuhkan liburan. Tadinya aku ingin mengajakmu, tapi kau sendiri mengatakan sibuk.”
“Iya, mungkin akan sedikit sibuk. Kalau kau ingin pergi, bisa izin pada Ibuku supaya aku tidak perlu bekerja.” Ujar Joe.
Nazeela menggelengkan kepalanya, “Oh, itu tidak perlu. Aku akan berkunjung ke restoran kalian dan kita bisa bertemu di sana saja. Lagi pula liburanku bukan sesuatu yang penting.” Ujarnya merasa tidak enak hati jika karena keinginannya Joe harus meninggalkan pekerjaannya.
Joe tertawa renyah dan Nazeela menyukai tawa itu. Ia tersenyum mendengar Joe tertawa.
“Aku bisa menemanimu liburan, tapi kita tidak bisa pergi ke tempat yang mahal. Aku sedang mengumpulkan uang.” Ujar Joe dengan sedikit malu di akhir kalimatnya.
Nazeela terkekeh, “Aku bisa membayar biaya perjalanan yang kita habiskan seharian.” Ujarnya.
Joe terkekeh, “Aku tidak tertarik menerima uangmu.”
“Aku membayar karena aku yang mengajakmu, jadi itu bukan masalah besar.” Ujar Nazeela meyakinkan Joe.
“Kalau begitu, pergilah dengan pria lain.”
“Baiklah baiklah, aku tidak akan membantah.” Ujar Nazeela memilih mengalah, tapi dengan senyuman manisnya.
“Apa lagi yang kau butuhkan tuan putri?” tanya Joe.
Nazeela menangkup pipinya sendiri yang terasa panas karena salah tingkah hanya karena panggilan kekanakan seperti itu, “Tidak ada.”
“Oh ya, kemarin Ibuku berpesan untuk menyampaikan ucapan terima kasihnya karena kado yang kau kirimkan. Ia menyukainya meski menurutnya itu berlebihan dan memberatkanmu.”
“Tidak sama sekali, aku tidak keberatan membelikan barang berharga untuk calon metuaku.” Ujar Nazeela, lalu diam sejenak menunggu reaksi dari Joe setelah mendengar ucapannya.
“Terserahmu saja.” Pasrah Joe. Pria itu masih berpikir kalau kata-kata dari Nazeela hanyalah candaan semata, meski baginya itu sebenarnya tidak lucu.
“Padahal aku serius.” Ujar Nazeela dengan nada suara sedih.
“Iya, Zee, iya, aku percaya.” Ujar Joe, tapi Nazeela jelas tahu kalau nada suara Joe mengatakan ia sebenarnya hanya ingin mengangguki ucapan Nazeela saja.
“Ya sudah kalau tidak ada lag yang perlu kita bicarakan, aku tutup telponnya ya.” Ujar Nazeela.
Joe mengangguk, “Jangan lupa memberitahuku ke mana kau ingin pergi.” Ujarnya.
“Tentu saja aku tidak akan lupa. Malam ini pun aku akan langsung mengirimkan rencanaku padamu. Siapkan saja pengamanmu, Joe.” Ujar Nazeela dengan nakal. Ia menutup mulutnya sendiri supaya tidak tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.
“Zee.” Tegur Joe dan karena itu lah akhirnya Nazeela tertawa pecah. Ia yakin kalau Joe akan menegurnya seperti itu dengan menyebut namanya karena itu adalah kebiasaan yang sudah Nazeela hafal dari seorang Abercio Joe Wikler.
“Apa? Aku hanya mengingatkan.”
“Kau kelewatan. Bagaimana bisa kau benar-benar menganggap hal itu hanya kejadian yang berlalu begitu saja.” Ujar Joe meremas rambutnya sendiri.
“Aku hanya berusaha bersikap biasa saja supaya hubungan kita tidak canggung. Aku tidak ingin kau menganggap hal ini terlalu serius karena nantinya kau akan menghindariku lagi seperti kemarin dan aku tidak suka itu.”
“Aku tidak akan menghindarimu lagi.”
“Sekalipun aku membahas pengamaan di sini?” tanya Nazeela semakin menjadi.
Joe menghela nafas tak bisa mengimbangi jalan pikiran Nazeela, “Kau mau rasa apa?” tanyanya kemudian dan mereka tertawa bersama karena hal itu.
“Strawberry, aku menyukainya.” Ujar Nazeela dengan serius, tidak peduli kalau Joe menganggapnya candaan. Yang pasti setelah itu, ia menutup telponnya dengan kalimat, “Selamat malam Joe. Mimpikan aku dalam tidurmu.”
Nazeela benar-benar tidak peduli kalau Joe sedang kebingungan karena dilema akan ucapan Nazeela. Ia bingung harus menganggap ucapan itu angin berlalu atau serius dan tiba-tiba saja kepalanya menyuruhnya untuk menyedikan pengamaan seperti yang Nazeela minta. Tidak peduli nantinya akan ada adegan seperti apa diantara mereka, yang pasti Joe benar-benar akan menganggap serius ucapan Nazeela.