Selama 21 tahun ia hidup, Chika belum pernah sekalipun datang ke kantor kepolisian apalagi naik mobil patroli. Tapi jika itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa lolos dari kejaran para debitur, apa pun akan ia lakukan.
Dengan sebuah karangan kalau dia baru saja datang dari kampung nan jauh, dia meminta bantuan petugas polisi untuk menemukan sebuah alamat dan mengantarnya ke sana.
"Kita sudah sampai."
Petugas Polisi memberitahu setelah memastikan alamat yang tercatat pada secarik kertas kepada pihak keamanan gedung memanglah benar.
Gadis itu tidak lantas turun, dia sedang menatap sekeliling untuk memastikan kondisinya aman karena sebelumnya mereka masih mengikuti dari belakang. Dia takut ketika petugas Polisi tersebut pergi, tiba-tiba mereka muncul kemudian menangkapnya.
"Setelah masuk area Lobby, Anda bisa langsung menggunakan lift utama di sebelah kanan, nanti tekan tombol angka sesuai lantai yang ingin dituju." Polisi itu kembali menjelaskan, seolah-olah dia memang orang kampung yang tidak tahu bagaimana caranya untuk memakai lift.
"Ya, terimakasih atas segala bantuannya, Pak." ucap Chika, dia masih belum beranjak dari kursi padahal pintu mobil sudah terbuka lebar. "Boleh saya minta sedikit bantuan lagi?"
Sebuah kerutan terlukis di keningnya, "Apa itu?"
Chika terlihat ragu-ragu, ia tidak tahu apakah pantas meminta bantuan kembali pada petugas itu. Dia akan terlihat semakin tidak tahu diri kan?
Tetapi memikirkan bahwa tubuhnya akan diseret oleh orang-orang sialan kemudian di jual ke rumah bordil, Chika lebih memilih kehilangan urat malunya.
"Bisakah Anda pergi setelah saya benar-benar masuk ke dalam gedung? 10 menit setelah saya masuk?" ucapnya lirih, kepalanya menunduk dalam dan tangannya saling meremas satu sama lain karena gugup.
Bagaimana kalau petugas itu menolak?
Satu-satunya hal yang mungkin bisa dia lakukan adalah berlari sekuat tenaga untuk sampai di dalam gedung dengan selamat. Jarak dari mobil ini terparkir untuk sampai ke lobby sekitar 300 meter, mungkin waktu yang dibutuhkan sekitar 5 menit untuk sampai kesana.
"Baiklah." jawab petugas tersebut membuat gadis itu lekas mendongakkan kepalanya.
Chika mengulas senyum, rasanya mengucapkan terimakasih sampai puluhan kali pun tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan yang ia dapat. "Sekali lagi terimakasih atas bantuannya, Pak. Anda adalah petugas yang sangat baik."
Setelahnya dia lekas keluar dari mobil dan membawa barang-barangnya, sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa petugas itu menepati janjinya bahwa dia akan pergi setelah Chika benar-benar sudah masuk ke dalam gedung dengan aman.
.
.
.
Chika tahu ini sangat memalukan bahkan merepotkan, akan tetapi ia tidak tahu lagi harus pergi kemana kalau tidak datang ke tempat ini.
Dia sudah berdiri di depan pintu apartemen unit 4703 sejak dua puluh menit yang lalu namun tangannya entah bagaimana bisa berubah menjadi kaku, seperti ada batu besar yang menindihnya sampai susah untuk digerakkan.
Bagaimana kalau Lera keberatan dengan kedatangannya? Bagaimana kalau temannya itu tidak bisa memberikan batuan apalagi memberinya tempat untuk tinggal?
"Astaga!" Dia baru saja membuka pintu dan terpekik saat mendapati seseorang berdiri tepat di depan pintu huniannya.
"Chika!" Dia kemudian berseru setelah mengamati sosok itu dengan seksama. "Apa yang kau lakukan di sana? Kenapa kau tidak menekan bel dan ... apa itu? Tidak, maksudku, apa yang terjadi padamu?"
Melihat Lera terkejut disertai ocehan yang tanpa henti dengan wajah khawatirnya itu— membuat emosinya menjadi meluap. Ternyata semua pikiran buruk yang terlintas di otaknya sama sekali tidak terjadi, Lera justru menyambut kedatangannya dengan sangat baik.
Chika melangkah ke arah Lera kemudian segera memeluknya. "Leraaaa ..." dan tangisan yang sejak berjam-jam lalu ia tahan pada akhirnya pecah juga.
"Aku minta maaf tidak memberimu kabar lebih dulu kalau aku akan datang ke sini, aku benar-benar tidak bisa berpikir lagi, hanya kau yang terlintas di otakku jadi aku langsung pergi ke tempatmu tanpa berpikir panjang." Ia meracau seperti anak kecil yang mengadu pada kakak perempuannya karena sudah mendapat perlakuan buruk.
Lera masih terlihat bingung, namun dia tetap membalas pelukannya dan memberikan tepukan pelan di bahu kecilnya untuk menenangkan. "Its, okay. Aku sudah pernah bilang padamu kalau kau bisa datang kapan saja ke tempatku." ujarnya meyakinkan kalau dia tidak merasa keberatan dengan kedatangannya.
"Ayo masuk, aku tidak mau tetanggaku berpikiran macam-macam dengan melihat kita berpelukan di depan pintu."
Chika mencubit lengan tanpa lemaknya gemas, "Ish, kau merusak momen tahu!"
Lera terkekeh, "Hey, bajuku baru ganti dan aku tidak mau mengambil resiko ada ingus yang menempel di bajuku." ejeknya sambil membuat ekspresi jijik. Chika memutar bola matanya sebagai tanggapan atas lelucon kasar itu.
"Masuklah, kau pasti lelah." Lera segera membuka pintunya semakin lebar dan mengambil alih koper yang teronggok di samping kakinya kemudian diseretnya masuk ke dalam. "Kau tidak kesulitan saat mencari tempat ini kan?"
Chika menggeleng, "Tidak, aku cukup beruntung karena petugas polisi membantuku mencari alamat."
Apa Chika serius? Bagaimana bisa dia minta diantarkan oleh petugas kepolisian untuk datang ke tempatnya? Apa situasinya sangat kacau?
Lera tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, tapi dia bisa menelannya untuk saat ini, dia akan menginterogasinya nanti setelah Chika sudah merasa sedikit tenang.
"Kau sudah makan? Mau mandi dulu atau mau langsung makan?"
Suara Lera saat ini terdengar seperti kumur-kumur di telinganya karena saat ini fokusnya sudah berceceran kemana-mana.
Setelah melewati lorong pintu masuk tadi dia disambut oleh ruang tengah yang cukup luas. Sofa panjang yang nyaman dengan sebuah TV super besar yang seperti menyatu dengan tembok, ini lebih seperti mini bioskop.
"Oh, Tuhan ...." Chika berdecak takjub.
Mengedarkan pandangan ke tempat lain, Chika semakin dibuat kagum. Enam puluh lima persen ruangan di sini terbuat dari kaca, entah memang desain dari arsiteknya untuk seluruh hunian di gedung ini atau memang request khusus dari Lera.
Tidak ada yang tidak bisa dilakukan karena Lera adalah anak tunggal dari seorang pebisnis hebat, Aditama Group, yang berkecimpung di dunia perhotelan, selain itu dia juga adalah cucu perempuan satu-satunya dari Estan Group, yang bidang usahanya bergerak dalam konstruksi bangunan dan retail. Jadi, rasanya tidak aneh kalau Lera memiliki hunian seperti ini, yang dibuat khusus sesuai dengan keinginannya.
Chika berpikir kalau seandainya ia menjadi Lera maka ia tidak akan pernah merasa bosan jika harus terkurung selama 24/7 hari di hunian super nyaman ini. Toh, semua yang ia butuhkan sudah terpenuhi, makan, uang dan juga tempat tinggal super layak.
Dia menyunggingkan senyum miris seraya melangkah hati-hati, takut kalau sepatu jeleknya melukai marmer mahal di bawah kakinya saat ini. Dia baru saja berpikir akan melepaskan sepatunya karena saking tidak teganya sampai suara Lera menginterupsinya