Pagi masih sangat buta, jarum jam baru saja menyentuh angka empat. Suasana rumah sakit begitu senyap, hanya menyisakan dengung halus pendingin ruangan. Di dalam remang cahaya lampu tidur, Rita mengemasi barang-barangnya dengan gerakan yang sangat pelan. Rita berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat ke arah ranjang. Ditatapnya wajah Zee yang tengah tertidur nyenyak, wajah yang tampak begitu lemah namun tenang. “Zee… sayang… maafkan Mama. Mama harus segera kembali ke Jakarta,” bisik Rita dalam hati. Jemarinya yang gemetar terjulur, membelai lembut pipi putrinya. Setetes air mata nyaris jatuh, namun ia segera menahannya. Sebelum benar-benar beranjak, Rita mengambil secarik kertas kecil. Dengan tulisan tangan yang sedikit cakar ayam karena terburu-buru, ia menuliskan pesan perpisahan singk

