Di ujung lorong, Jonathan yang baru saja muncul langsung menyentakkan langkahnya. Begitu menangkap sosok Alvin keluar dari balik pintu IGD, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia mempercepat langkah, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti bahunya. "Kondisinya sudah stabil," ucap Alvin dengan senyum profesional yang menenangkan, mencoba mendinginkan suasana tegang di lorong tersebut. "Namun, untuk saat ini, kami hanya mengizinkan satu orang pendamping saja di dalam agar pasien bisa beristirahat total." "Syukurlah... terima kasih, Tuhan," bisik Rita dengan suara parau, tangannya mengelus d**a seolah baru saja melepaskan batu besar yang menghimpit pernapasannya. "Bagaimana dengan bayinya?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Jonathan, tajam dan mendesak. Seketika, suasa

