Kerja kerja kerja

1368 Words
Aku melihat sekeliling ruangan kakanda. Luas, bersih, rapi. Dan satu lagi, glamour pada masanya. "Duduklah di tempat itu." Aku duduk di tempat yang dia maksud. Lalu aku kembali memperhatikan kakanda yang sedang sibuk. Entahlah, aku tidak tahu apa yang ia lihat. Sebentar, Kami hanya berdua, Di ruangan tertutup ini, Ga, ga boleh mikir kotor. Dia kan raja. Iya. Ga. Ga mungkin. TAPI BUKANNYA YANG BERKUASA ITU YANG SERING NGELAKUIN HAL YANG IYA-IYA? "Jadi Ratu, ini tug--, kenapa mukamu memerah?" Dan terjadi lagi~ "Ah, mungkin karena ruanganmu sedikit panas." "Mau kupanggilkan dayang-dayang?" "Tidak usah! Terimakasih." Lalu terjadi kecanggungan antara aku dan kakanda. Mungkin ia merasa biasa saja, namun akulah yang merasa canggung. "Sebagai seorang Raja, aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diurus baik di bagian ekonomi, pemerintahan, kekuasaan, dan lain-lain. Tugasmu di sini adalah mengelompokkan surat-surat yang datang ke dalam beberapa bagian tadi. Ada pertanyaan?" Cukup mudah. "Tidak." "Baiklah, mulai hari ini surat-surat yang datang akan kamu urus terlebih dahulu. Jika sudah selesai dikelompokkan, barulah sampaikan kepadaku." "NDE! (IYA!)" "???" "Siap laksanakan!" Aku melihat kakanda tersenyum tipis dan kembali ke tempatnya. Sedangkan aku mengerjakan tugasku di ruang tamunya, apakah ruangan ini ruang tamunya? Kurasa begitu. Aku mulai membuka surat pertama. Ih alig bahasa sansekerta. "Em, kakanda?" Aku melangkah menuju ruangan kakanda masuk tadi. Astaga, Raja dan meja kerja. Gak, gak boleh. Inget Ratu dia itu kakek moyang. "Hm?" Gausah hm hm alig lemah ini hati :"( "Aku, tidak bisa menggunakan bahasa sansekerta. Jadi aku harus membacanya bagaimana?" Kakanda menunjukkan wajah speechless dan segera menghampiriku. "Aku lupa kamu hanyalah anak selir yang tidak mendapat didikan menulis dan membaca." Pardon? "Jika begitu, maka hari ini adalah hari pertama kamu akan belajar huruf sansekerta. Sekarang istirahatlah terlebih dahulu. Mulai nanti malam sampai tiga bulan kedepan, kamu akan fokus belajar sansekerta.  Aku akan mengirimkan utusan untuk mengajarkanmu. Setelah itu, kamu akan membantuku mengerjakan tugas-tugas negara yang sama seperti ku jelaskan di awal." Astaga, istirahat lagi? "Jadi sekarang aku harus kembali ke kamarku?" "Maunya bagaimana?" Aku berpikir sejenak. Jika dipikir-pikir, ini pertama kali aku ke majapahit. Jadi mengapa aku tidak berjalan-jalan ke sekitar? "Aku ingin berkeliling ke luar istana. Aku merasa sesak terus-terusan di sini." "Siapa yang bisa menemanimu?" "Aku bisa sendiri." Terjadi keheningan diantara kami. Karena bingung, aku menatap mata kakanda seolah-olah menuntut jawaban. "Aku ikut." "Bukankah tugasmu banyak?" "Bisa ku selesaikan malam ini." "Terserah kalau begitu." Lalu aku keluar berdampingan dengan kakanda. Namun, tiba-tiba ia mengumpulkan pengawal. "Untuk apa? Kita kan tidak mau berperang?" "Ini lah yang akan terjadi jika seorang bangsawan dari istana akan keluar dari istana. Bersiaplah, aku akan menjemputmu." "Tidak bisakah kita menerapkan konsep sederhana? Menyamar menjadi rakyat biasa? Kamu tidak pernah melakukan hal seperti itu?" Kakanda kembali terdiam beberapa saat. Sepertinya aku sangat pintar men-skak mat orang-orang istana. "Lihatlah nanti. Aku akan menjemputmu." Dengan kepasrahan kepada Tuhan, aku kembali menuju kamarku. *** Disinilah aku dan kakanda. Niat untuk bekerja ku sudah kandas. "Kamu mau kemana terlebih dahulu? Pasar? Atau sekadar melihat kegiatan warga?" Aku mengabaikannya sebentar. Sebenarnya, aku masih agak kesal dengannya. Bagaimana aku tidak kesal? Usul yang ku pinta kepadanya di terima, tapi ia tetap membawa pengawalnya di belakang. Meskipun mereka menggunakan pakaian lusuh juga, tapi tetap saja prajurit itu terlihat dari bentuk badannya. Apalagi mereka benar-benar mengikuti kami di belakang, tidak mengendap-endap. "Aku nurut saja. Aku lelah berbicara denganmu." "Mau beristirahat di perkebunan teh?" Tidak buruk. Aku mengangguk pelan dan kami mulai menyusuri rumah-rumah penduduk. Beberapa penduduk yang mengenal kakanda sebagai Raja di sini berusaha menyapanya. Tetapi kakanda mengisyaratkan untuk tidak perlu hormat kepadanya di saat ia sedang melakukan penyamaran seperti saat ini. "Mohon maaf Ndoro, hamba belum punya harta untuk membayar sewanya. Bagaimana jika—" "Mau sampai kapan? Kamu sudah menunda membayar hutangku sedari kemarin!" "Tapi hamba ini memanglah tidak punya uang Ndoro. Hamba juga tidak punya harta apa-apalagi Ndoro." "Bagaimana dengan anak perempuanmu?" Wah. "Maksud Ndoro?" "Jika hingga lusa kamu tidak bisa membayar hutangmu, berikan putrimu kepadaku. Akan kuanggap lunas semua hutangmu. Ckckck, ternyata ftv yang biasanya ku tonton juga berasal dari dunia nyata ya. "T-tapi Ndoro," Orang yang dipanggil 'ndoro' itu sudah melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan orang tua itu. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. "Jangan ikut campur." Cegah kakanda ketika tau aku baru saja hampir mendatangi pria tua tersebut. "Lalu, Kakanda akan membiarkan rakyatmu ditindas oleh bangsawan? Dan Kanda akan tutup telinga?" "Memang apa yang bisa kamu lakukan?" Aku terdiam. Benar juga, apa yang bisa kulakukan? "Apapun itu, aku yakin kanda akan membantuku." Terjadi ketegangan di antara kami, pengawal yang di belakang pun bingung harus melakukan apa. "Baiklah, beritahu aku apa rencanamu." "Bayarkan utang rakyat yang tidak mampu secara fisik." "Bagaimana jika ada yang merasa tersinggung? "Emm, kanda bisa mengadakan event seperti Raja sedang berbaik hati karena wujud syukur atas kemurahan Dewa yang menjadikan Majapahit makmur dan sejahtera." "Event?" Ah iya, aku lupa dia kakek moyang. "Acara besar-besaran." Ia terdiam sejenak. "Eottae? (Gimana?)" "Eo? eo apa tadi?" "Eo! Jadi gimana?" Apasih susahnya bilang iya doang heuh kesel. "Baiklah. Akan aku pertimbangkan. Mari ke kebun teh dan membersihkan pikiran. Semenjak kamu datang, aku jadi lebih banyak pikiran." Woah, apa ini? Dia memikirkanku? "Aku nyusahin ya?" "Sepertinya begitu." Dia lalu tersenyum tipis dan mengacak rambutku sedikit. Ah iya, sampai sekarang aku belum menyanggul rambutku. Kami pun melanjutkan perjalanan ke kebun teh dengan perasan ringan. Namun tanpa percakapan. Aku bukanlah perempuan yang gampang menemukan topik pembicaraan. Dan mungkin karena ia Raja, ia juga jarang berinteraksi dengan orang-orang secara terus-menerus. Aku jadi teringat dengan masa depan, rumahku, teman-temanku. Tetapi meskipun aku memiliki rumah, mengapa rasanya aku tidak pernah pulang ya? "Kenapa kamu suka melamun?" Tanya kakanda sambil sedikit mengguncang bahuku. Wah, aku benar-benar tidak sadar. "Ah kita sudah sampai? Aku tadi memikirkan negara asalku." "Benarkah? Ceritakan sedikit tentang tempat asalmu." Ucap kakanda sambil menuntunku untuk duduk di pondok kecil. Sedangkan pengawal kerajaan yang lainnya berpencar untuk berjaga-jaga. "Tidak mau." Jawabku tegas. Bagaimana jika nanti ia tau jika aku berasal dari masa depan? "Ini perintah." Aku sedikit merinding mendengar suara dinginnya. Akhirnya aku menceritakan sedikit tentang tempat asalku. "Aku punya rumah yang lumayan besar, namun tidak sebesar keraton. Aku juga punya beberapa teman yang sering bercanda di waktu luang bersamaku." "Kamu senang?" "Tentu saja. Di sini aku tidak memiliki teman. Karena itu aku ingin membantu dayang-dayang saja. Tapi ternyata? Kanda tidak membolehkanku membantu mereka. Aku juga bosan tau." "Kamu bisa berteman dengan Nertaja, atau aku?" Hahahaha bercanda apa lagi kakek moyang satu ini. "Kalian sibuk." "Kami akan meluangkan waktu." "Kami? Kanda belum mendiskusikannya dengan Nertaja." "Aku pun tau, dia juga kesepian." Aku terdiam dan memandangi langit-langit yang berwarna biru cerah. Lalu aku menolehkan kepala ke arah makhluk di sebelahku. "Aku penasaran." Lalu ia menolehkan juga kepala ke arahku. Dan membuat kami saling tatap. GAES INI BISA DIABADIKAN GA SIH TAMPAN BANGET ASJDKFL "Ehm," Aku memalingkan mukaku dari kakanda. Itu lebih baik daripada aku tiba-tiba mimisan karena ciptaan Tuhan satu itu. "Kamu tau, aku berasal dari negeri antah berantah yang tidak kalian ketahui. Kenapa aku tidak menemukan satupun orang yang menanyakan asal usulku?" "Oh." Ia lalu terdiam sejenak. "Ehm, aku membungkam mereka semua." Aku kembali menoleh ke arah kakanda. "????" "Agar kamu bisa merasa nyaman di rumah sendiri. Inikan rumahmu." "Bagaimana dengan dewan-dewan? Apakah di pemerintahanmu tidak ada anggota dewannya?" "Anggota dewan?" Aku terdiam. Kira-kira apa nama DPR di masa Majapahit? "Maksudmu, Rakryan?" Ya Tuhan, bahasa apa lagi itu? "Orang-orang yang membantuku di pemerintahan, bukan?" "Ah iya benar itu. Apakah tidak ada yang curiga?" "Sebagian besar dari mereka sedang ikut dalam ekspedisi Gajah Mada. Mereka akan kembali sebentar di peringatan hari kelahiranku. Untuk para tetua, karena kamu kami sembunyikan, jadi mereka belum tau. Para tetua biasanya keluar jika ada rapat atau ada acara besar-besaran.  Seperti hari kelahiran Maha Raja. Pada saat itu, aku akan memperkenalkanmu ke seluruh negeri." Mengapa aku merinding? "Yah, semoga semuanya berjalan lancar. Omong-omong, kapan hari lahirmu?" "Kira-kira, seminggu sebelum akhir tahun. Dua minggu dari hari ini." Me right now: "Kenapa? Kamu tidak siap?" "Tentu saja." Aku lalu merebahkan tubuhku. Angin yang ringan, suasana yang damai, membuatku terlelap seketika. Aku masih berharap akan terbangun di kamarku seperti sedia kala. Atau di Candi Bajang Ratu di masa depan? Juga tidak apa, yang penting bukan di sini lagi. Aku juga lelah membebani orang lain.  Dan sedikit, trauma?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD